Masyarakat temukan PT RAPP beroperasi, padahal Menhut Melarang Beroperasi

Standar

Kanal yang dibuka PT RAPP ditengah hutan Pulau Padang @Dok. STR-FKMPPP

AWAL JULI 2012, warga Pulau Padang dapat informasi, bahwa Menteri Kehutanan (Menhut) menurunkan tim untuk mengukur tapal batas di hutan dan tanah masyarakat. Tim tapal batas benar-benar turun ke Pulau Padang. Tim tapal batas menyuruh pulang warga yang kerja bertani karet, jua menghalau warga yang bekerja dalam hutan. (lihat: Kabar dari Pulau Padang; Temuan Fakta Operasional PT RAPP).

Mereka berkumpul, sekitar 750 sampai 800 orang masuk ke hutan untuk mengetahui aktivitas pematokan. Mereka menemukan beberapa patok yang tumpang tindih dengan lahan bertani milik petani.

Warga terus menelusuri dan memasuki belantara hutan Pulau Padang. Hal tak mereka duga dan pertama mereka lihat; menemukan aktifitas pekerja PT RAPP di atas areal seluas 8.000 hektare (ha). Ada banyak aktifitas di sana. Itu mereka temukan setelah sekira 15 jam melakukan penyisiran masuk ke dalam hutan.

Jalan bekas tebangan PT RAPP ditempuh warga@ Dok. STR

Masyarakat terdiri dari para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, unsur pemerintahan desa, serta elemen lainnya, menemukan sejumlah pelanggaran yang dilakukan oleh tim pemetaan lahan maupun pelanggaran dilakukan PT RAPP terhadap SK Dirjen Bina Usaha Kehutanan Kemenhut No: 5.3/VI-BUHT/2012 tertanggal 3 Januari 2012 perihal Penghentian Sementara Kegiatan IUPHHK-HT PT RAPP di Pulau Padang sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut.

Berikut kronologis yang terhampar di online http://www.riaulive.com, http://www.mongabay.co.id, laporan dari warga yang ikut langsung menyusuri belantara hutan Pulau Padang.

KRONOLOGIS KASUS

AHAD, 1 JULI 2012
WARGA Pulau Padang kirim sms, bahwa esok mereka bergerak ke lapangan guna melakukan penyisiran maupun pengusiran dan pemindahan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dengan operasional PT RAPP HTI di Pulau Padang.
SENIN, 2 JULI 2012.
Pukul 07.00—-KETUA TIM dan anggota pemetaan lahan keluar dari Pulau Padang menuju Pekanbaru.

Pukul 08.00 —SEKIRA 800 warga Pulau Padang turun ke berbagai penjuru di hamparan hutan gambut Pulau Padang guna melakukan penyisiran. Rombongan masyarakat dari tiga desa– masyarakat Desa Lukit, Tanjung Padang dan Desa Bagan Malibur– terbagi menjadi 6 kelompok kecil.

Pukul 13.00–POSISI mereka kurang lebih sejauh 4 kilo meter dari bibir pantai. Mereka menemukan sejumlah patok atau tanda yang dibuat oleh tim pemetaan lahan. Setelah konfirmasi melalui seluler kepada warga setempat, tapal batas yang mereka tanam berada di lahan bekas perkebunan sagu milik masyarakat yang sebelumnya terbakar.

pukul 18.30–WARGA menemukan pelanggaran dilakukan tim pemetaan lahan di seputaran sungai Belat arah Desa Lukit. Tim tapal batas yang membuat rintisan untuk pembatas lahan konsesi perusahaan dengan lahan masyarakat di areal perkebunan sagu, karet, kopi dan tanaman di ladang masyarakat. Warga ramai-ramai menelusuri jalur-jalur rintis yang digunakan untuk memisah lahan perusahaan dengan lahan masyarakat. Warga juga mendapati penetapan tapal batas yang nyata-nyata dilakukan dengan sengaja pada perkebunan masyarakat yang luasnya mencapai puluhan hektar di areal perkebunan sagu milik masyarakat itu terdapat tujuh buah rumah warga, belum lagi pemetaan lahan yang masuk ke perkebunan karet milik belasan kepala keluarga yang dikerjakan secara turun temurun.

Pukul 20.00 —SEKIRA 700 warga, berangsur mencari tempat peristirahan yang jauh dari bibir pantai, maupun jauh dari areal perusahaan dan pemukiman masyarakat. Mereka mendirikan tenda di tengah hutan untuk istirahat guna menghindari binatang.

SELASA, 3 JULI 2012

Pukul 07.00 —MEREKA kembali melakukan penyisiran masuk ke dalaman hutan yang jaraknya sekira 2 kilometer dari tempat masyarakat bermalam. Masyarakat terkejut, mereka temukan hamparan lahan yang tidak lagi ditumbuhi pepohonan, dan lahan itu siap ditanami pohon akasia.

 

Pukul 10.30 –WARGA terus menelusuri hutan. Setelah berjalan sekitar 15 jam ke dalam hutan, mereka ketemu areal PT RAPP. Di lokasi RAPP itu, warga menemukan beberapa kanal. Mereka terus masuk. Warga masuk ke dalam hutan yang digarap PT RAPP sekitar 8.000-an hektare (ha).

WARGA menemukan aktifitas atau operasional PT RAPP;

Ada pekerja sedang lakukan pembibitan, pembangunan beberapa titik semacam perumahan. Ada satu speedboat mesin 40 PK sandar di kanal. Speedboat ini untuk membawa karyawan perusahaan. Satu kapal pompong bertonase kurang lebih lima ton sandar di dermaga sekitar basecamp milik PT RAPP. Beberapa kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor juga ada sebagai penunjang operasional pekerja. Ada pula kantin yang masih aktif. Ada karyawan sekitar 50-an orang di dalam sana. Sekuriti hampir 30 an, karyawan pembibitan 15 orang. Alat-alat siram bibit, dan mesin ada yang jaga. Klinik juga aktif.

 

 

 

 

 

 

Pekerja PT RAPP dibantu 20 anggota Polisi berseragam. Puluhan pekerja pembibitan tanaman akasia banyak yang ketakutan, ada yang lari ke arah aparat, banyak juga yang berlarian pontang panting menuju ke dalam hutan. Sekitar 30 pekerja satuan pengamanan (Satpam) perusahaan yang sedang mengawasi para pekerja pembangunan belasan rumah karyawan, setelah melihat kedatangan masyarakat, terperanjat dan berangsur mendekat kearah aparat yang sudah siaga. Hal yang sama juga dilakukan para pekerja bangunan yang sedang mengerjakan belasan rumah karyawan, mereka langsung berhenti kerja, ada yang mendekat ke arah aparat, ada juga yang lari ke arah hutan.

 

Setelah menjelaskan maksud dan tujuan guna memastikan PT RAPP tidak beroperasi sebagaimana yang disebutkaan dalam SK Menhut maupun keinginan masyarakat untuk bertemu langsung dengan Ketua Tim pemetaan lahan—tim pemetaan sudah pulang sehari sebelumnya–dan meminta pertanggung jawabab pihak manajemen atas pelanggaran yang dilakukan, situasi mulai mengendur. Warga melanjutkan perjalanan ke kantor mereka. Warga meminta kepada petugas keamanan agar pihak RAPP keluar menemui warga.

Pukul 15.30—SEKIRA 5 jam menunggu, dua orang perwakilan pihak PT RAPP datangi warga, akhirnya pihak PT RAPP menandatangai surat tuntutan masyarakat yang salah satu isinya meminta agar PT RAPP menarik pekerja mereka dari areal konsesi, kecuali tim satuaan pengamanan (satpam).

Atas temuan pelanggaran di lapangan, baik yang dilakukan oleh pihak PT RAPP, maupun pelanggaran yang dilakukan oleh tim pemetaan lahan, masyarakat meminta kepada PT RAPP untuk menyetujui tuntutan masyarakat Pulau Padang sebagai berikut :

  1. Kami masyarakat Pulau Padang, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti tetap menolak operasional PT RAPP di wilayah Pulau Padang sesuai SK Menhut tentang larangan operasional hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
  2. Atas pelanggaran terhadap SK Menhut tentang larangan operasional hingga batas waktu yang tidak ditentukan, dimana PT RAPP masih beroperasi, kami minta PT RAPP menarik seluruh pekerja mereka dari kawasan Pulau Padang.
  3. Masyarakat Pulau Padang tidak menginginkan adanya tim pemetaan tapal batas yang bekerja lagi setelah dilakukannya kesepakatan ini.
  4. Selain itu, yang berkaitan dengan pihak PT RAPP, khususnya masalah tenaga kerja, tidak diperkenankan PT RAPP memasukan pekerja lebih dari 30 pekerja, kecuali satuan pengamanan (satpam) hingga waktu yang tidak ditentukan sebagaimana SK Menhut masih berlaku.

Atas empat tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat Pulau Padang, akhirnya pihak PT RAPP yang di wakili oleh bagian Humas Perusahaan untuk blok areal Pulau Padang, yaitu Subhan Daulai dan rekan sejawatnya yaitu Marhadi Idris, atas pelanggar kesepakan SK menhut tentang larangan operasional, maupun pelanggaran yang dilakukan oleh tim pemetaan lahan, maka pihak PT RAPP menyepakati tuntutan warga dan menandatangani surat itu di atas materai 6000. #

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s