Bahana Ganti ‘Agama’

by Madeali


Wah! Ceritanya begini; Saya, Aang, Lovina dan Fadli hendak ganti agama Bahana menjadi ‘A9ama’ Bahana adalah Jurnalisme. ‘Agama’ ini mengacu pada kitab 9 Elemen Jurnalisme, karya orang ‘asing’ bukan karya indopahit. ‘A9ama’ ini tergolong baru, usianya baru jalan 10 tahun.

Sebelumnya ‘agama’ bahana adalah jurnalisme indopahit. Sejak 1983 hingga 2010 Bahana ikuti ‘agama’ Indopahit. Ajaran Indopahit kira-kira begini;

1. Kewajiban pertama jurnalisme pada kekaburan.

2. Loyalitas pertama pada pemilik media dan berandal beratribut agama.

3. Intisari jurrnalisme pada disiplin spekulasi, propaganda, sensasi dan desas-desus.

4. Harus netral dan berimbang.

5. Jurnalisme tidak boleh jadi pemantau kekuasaan.

6. jurnalisme tidak boleh sediakan forum kritik.

7. Jurnalisme harus bertelanjang bulat di tengah masyarakat.

8. Jurnalisme harus siarkan berita tak komprehensif dan tak proporsional.

9. Wartawan tak boleh pakai hati nurani.

Sepanjang 2010, Saya, Aang, Lovina, Fadli, Earliana, Ari Mashuri dan kru lainnya tentu berpikir ulang, kontemplasi benarkah ‘agama’ indopahit ini?

Ketika masuk ruang redaksi Bahana yang dihuni Tionghoa, Melayu, Minang, Banjar, Batak dan Bugis, tentu banyak diskusi dan debat dengan para kru. Maklum ‘agama’ indopahit sudah jadi semacam kebiasaan. Kitab 9 elemen jadi kajian semua kru. Dalam kitab setebal 259 itu, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel bilang,” Buku ini bermula pada suatu hari Sabtu pada Juni 1997, ketika 25 wartawan kumpul di Harvard Faculty Club, Cambridge, Amerika Serikat…..kami berada di sana karena merasakan ada sesuatu yang sangat salah dalam profesi kami.”

9 elemen ajarkan;

1. Kewajiban pertama jurnalisme pada KEBENARAN.

2. Loyalitas pertama pada MASYARAKAT.

3. Intisari jurrnalisme pada disiplin VARIFIKASI.

4. Praktisi jurnalisme harus INDEPENDEN TERHADAP SUMBER BERITA.

5. Jurnalisme harus jadi PEMANTAU KEKUASAAN.

6. Jurnalisme harus sediakan FORUM KRITIK maupun dukungan masyarakat.

7. Jurnalisme harus MENARIK dan RELEVAN.

8. Jurnalisme harus siarkan BERITA KOMPREHENSIF DAN PROPORSIONAL.

9. Wartawan dibolehkan ikuti HATI NURANI.

Bahana beruntung bisa bersua langsung dengan cekgu Andreas Harsono, mas Budi Setiono, kak Chik Rini, mas Fahri Salam, mas Basilius Triharyanto, mas Juwendra Asdiansyah, dan penganut lainnya di Facebook, Twiter dan dunia maya. Lantas, membandingkan kitab jurnalisme ala indopahit yang begitu banyak dan abstrak dengan kitab 9 elemen. Kami simpulkan, wah kitab indopahit salah tafsir soal jurnalisme.

Bikin hakkul yakin lagi, pada 6 Februari kala peluncuran buku-bukuan ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme karya cekgu—ditambah seminggu bersama cekgu– di Pekanbaru, menambah pemahaman bagaimana salah tafsir media indopahit menjalankan praktek jurnalisme.
Singkat cerita, pada malam hari bulan medio Februari itu, iseng-iseng kami pasang bingkai sampul karya cekgu, salah seorang kru nyeletuk, “Bahana ganti agama yuk.”

Semua tersenyum.

Sebagai bukti, kami abadikan momen tersebut. Semoga keyakinan dan tafsir baru Bahana tak dilarang di negeri indopahit bernama Front Pembela Jurnalisme Indopahit.

Ha ha ha ha ha ha ha.