Berada “Di Antara”

by Madeali


Catatan kecil saya pada Mustah Bahana Mahasiswa Universitas Riau, 03 April 2011

Mempertahankan Bahana tetap hidup diusia dewasa: 26 tahun, tentu saja berada “di antara” proses: dialektika pemikiran perubahan, ada suka-duka.

Duka terbesar saat melihat budaya Tridarma Perguruan Tinggi tidak hidup di sebuah universitas, perlahan menjangkiti generasi Bahana.

Senang, saat kreatifitas-kreatifitas baru muncul dari ruang redaksi; riset, wawancara, analisis dan menulis. Selebihnya, ya, belajar, belajar, belajar dan bersikap!  Bahana harus mempertahankan prestasi berada diantara itu.

Usai gelaran Mustah pada Februari 2009. Generasi 2009, langsung membentuk struktur kepengurusan. Jumlah kru sekitar 13 kru tetap. Struktur awal kepengurusan generasi 2009 kerap berubah seiring waktu. Penyebab kru tetap bertambah juga beberapa kru ada yang mengundurkan diri.

Pada bulan April kru tetap Bahana bertambah untuk posisi Reporter: Maikel Fitriadi, Intan Yanelda, Rizki Anggraini, A Fahmi Indrayani. Aang pada Sirkulasi.

Mei: posisi Bendahara Umum dirangkap Lovina. Selvi Septiana non aktif.

Juni: Aci Tritasari undur diri karena sakit, Rizka Anggraini gantikan Aci. Melya Handayani undur diri karena sakit, hendak selesaikan kuliah. Sirkulasi pada Maikel Fitriadi.

Agustus-September; Hendra dan Dona undur diri. Mereka ingin selesaikan kuliah. Aang pada redaktur. Lovina pada redpel. Athika pada Bendahara.

Oktober: Intan Yanelda jadi bendahara umum. Athika pimpinan perusahaan. Aang naik jadi redpel.

Kondisi Bahana mengalami krisis kader. Beberapa melakukan Diklat, kru Magang tak juga menunjukkan kelayakan menjadi kru tetap. Diperparah kondisi kru banyak yang mengundurkan diri, juga ada beberapa kru yang dipecat. Karena situasi kritis itu, Bahana kepemimpinan 2009 berlanjut pada 2010.

Struktur generasi 2010 tidak jauh  beda dengan struktur pada 2009. Medio 2010, Intan Yanelda, Rizka Anggraini, Maikel Fitriadi, Athika Fatria Linggawati, Ardansyah mengundurkan diri . Aang Aanda Suherman sebagai pimpinan redaksi. Erliana sebagai Litbang. Ahlul Fadli Repoter. Hingga jelang Mustah pada April 2011 ini struktur tersebut tidak berubah.

Program kerja, tentu saja indikator kreatifitas kru Bahana. Program kerja berikut ini adalah program kerja generasi 2009, 2010 dan 2011. Tak beda jauh dengan generasi sebelumnya, ada program kerja tetap dan ada program kerja tambahan, sesuai kebutuhan.

Program kerja tetap atau wajib; penerbitan, rekrutmen, SWOT, Yasinan, Gotong Royong. Program kerja tambahan sesuai kebutuhan: diskusi harian, bulanan, diskusi dwi mingguan, Hari Jadi Bahana, Up grading kru.

Penerbitan. Generasi 2009-2011 melakukan perubahan besar-besaran. Tabloid Bahana terbit dari bulanan jadi dwi mingguan. Dana POTMA dari UR jadi kendala utama. Dana Potma tidak cukup untuk cetak. Iklan yang ada sifatnya insidentil juga tidak bisa menutupi kekurangan dana cetak. Beruntung beberapa kali Riau Pos memberi kelonggaran waktu untuk bayar cetak.

Pada 2009: 9 Tabloid, 1 majalah. Pada 2010: 11 Tabloid, 1 majalah. Pada 2011: tabloid Edisi khusus Kajian. Bahana juga menerbitkan Bahana News khusus dikelola kru Magang.

Yasinan. Ia ditaja tiap tabloid terbit bersamaan dengan evaluasi penerbitan. Ini ungkapan rasa syukur kru Bahana pada Tuhan yang Maha Kuasa, lantaran selama melakukan liputan dan menulis tidak mengalami hambatan.

Rekrutmen. Rekrutmen Bahana dalam bentuk Diklat Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD). Ia ditaja dua kali dalam setahun, tiap semester. Selama 2009-2011 sudah melakukan empat kali DJMTD. DJMTD ini khusus merekrut kru baru untuk magang lalu naik jadi kru tetap. Intinya pengkaderan.

SWOT. Analisis SWOT yang ditaja Bahana beberapa melakukan evaluasi pada semua kru. Ini untuk semua aktifitas Bahana termasuk kru.

Up Grading. Tujuan guna memberi memotivasi kembali pada kru. Selama 2009 kru melakukan beberapa up grading: Ditaja di Riau Communication Institute pada Februari, hadirkan pemateri Fadil Nandila dan Firdasu Baasir. Pada Maret, hadirkan Kakanda Kadir Bey, ditaja di Bahana. Kadir Bey cerita sukses kelola Bahana era dia.

Pada Mei: Andreas Harsono diculik untuk beri materi seputar Investigatif Reporting. Ditaja di Bahana. Andreas cerita genre ini berbahaya.

Diskusi. Diskusi terkait Laput: Ada beberapa kali diskusi sepanjang tahun 2009: Desember; “Matinya Tadisi Kritis Mahasiswa Unri.” Di sekre Bahana. undangan rata-rata dari aktifis mahasiswa Unri internal dan eksternal. Joni Setiawan Mundung, Zamzami Airlinus didaulat sebagai pemateri.

Pada 2010: “Mahasiswa Wirausaha”, pemateri Herwan dari Kadin, Is Sulistiati dari P2K2 UR, Mukhlis dari mahasiswa UR ( Januari). “Haruskah Mereka Dibekukan?”, pemateri dari mahasiswa FMIPA, Erdianto dosen FH UR (Januari). Bertajuk “Eh Mau Kemana” sempena wisuda UR, pemateri Herwan dari Kadin, Machasin dosen FH Ekonomi, Gimin dari P2K2 (Februari). “Layakkah Rahmad Dipertahankan”, pemateri BEM UR, BLM UR (Maret). Bertajuk ‘Represif Polri Riau’ pemateri Davitra, Erdianto (Maret). “Haruskah ada pemukulan”, pemateri BLM UR, Boby dari Faperta (Juli). Tema “ Menilik Kemiskinan Kota” kerjasama dengan SRMI, pemateri Agun Zulfaira dari SRMI, Edyanus dosen UR, Mardianto Manan dosen UR.

Diskusi internal pengembangan kru dimulai pada bulan Januari 2010: diskusi bedah koran, diskusi perbulan. Kru digilir untuk membedah koran tiap hari, lalu tiap bulan ada diskusi khusus. Berawal dari fenomena kru yang malas memabaca. Diskusi soal Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2009.

Juga ada diskusi dengan Fopersma tiap penerbitan sepanjang medio 2010 hingga kini.

Hari Jadi Bahana, Pada 2009, “Menjemput Kematian Bahana” jadi tajuk hari jadi Bahana ke 26. Beberapa alumni Bahana berkumpul di sekretariat. Pada 2010, Bahana hanya rayakan kecil Hari jadi Bahana-27 di sekretariat Bahana. hanya pemotongan kue. Doa kecil untuk Bahana.

Buka Puasa. Pada 2009: hanya digelar bersama kru Bahana. pada 2010 juga digelar hanya bersama kru Bahana. Ini karena kondisi keuangan Bahana lagi kere.

DJMTL Bahana. Bertajuk “Sepekan Berjurnalisme di Bumi Lancang Kuning”, Bahana taja workshop se-Sumatera, Mei 2010. Budi Setiyono dan Basilius Triharyanto sebagai pemateri. Mereka dari Yayasan Pantau. Ada 22 peserta se-Riau yang ikut. Acara selama sepekan.

Kru DJMTL Pada November 2009: Aang dan Tika Workshop ke Makassar ditaja oleh LPM Caka, Unhas. Pada Oktober 2010: Erliana dikirim workshop ke Lampung, sepekan bernarasi di bumi lampung ditaja oleh LPM Teknokra. Ahlul Fadli pada Desember dikirim ke Medan workshop jurnalisme Damai ditaja oleh Suara USU, Medan.

Workshop. Pada 2010: pertama kali Bahana taja workshop kerjasama dengan ETF atas prakarsa Andreas Harsono di Sei Rokan Siak. Peserta Sumatera. Ada 20-an peserta. Bahana hanya sebagai panitia. Pada Februari 2011: Bahana kembali dipercaya gelar workshop di Sei Rokan.

Bedah Buku. Pada Februari 2011; Bahana dipercaya sebagai pantia peluncuran Buku “A9ama Saya adalah Jurnalisme” karya Andreas Harsono di Pustaka Soeman HS. Ada sekitar 200 peserta. Soft Launching buku Secuil Kisah 26 di KNPI.

Mustah Bahana 2011. Bertajuk “Mengabdi Pada Masyarakat” di Aula Kadin Riau, pada 2-3 April Bahana Gelar rangkaian Mustah: Seminar New Media pemateri Hermawan Hariadi dari PPWI Siak, Nasori dari M Link, Elfizar dosen Informatika UR. Diskusi bersama Fopersma Riau. Diskusi konflik Pulau Padang Meranti, Pemateri Fadil Nandila Jikalahari dan Bambang Aswandi dari PPRM Ampel.

Kunjungan. Pada Maret 2011, Bahana dikunjungi Heni Lani dari Aliansi Mahaiswa Papua selama empat hari. Rangkaian acara ada diskusi soal papua bersama aktifis di Riau dan kunjungan ke Siak.

Mempertahankan Bahana tetap hidup diusia dewasa: 26 tahun, tentu saja berada “di antara” proses: dialektika pemikiran perubahan, ada suka-duka. Bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya?

Persoalan besar dihadapi semua awak Bahana adalah sikap malas dan minim kreatifitas, kerja-kerja kreatif. Duka terbesar saat melihat budaya Tridarma Perguruan Tinggi tidak hidup di sebuah universitas, perlahan menjangkiti generasi Bahana. Bagaiamana melawan ini?

Lalu bagaimana mempertahankan: saat kreatifitas-kreatifitas baru muncul dari ruang redaksi; riset, wawancara, analisis dan menulis. Selebihnya, ya, belajar, belajar, belajar dan bersikap?

Sederhana saja, kru Bahana harus menjadi Pemikir Pejuang-Pejuang Pemikir. Keterampilan menulis, membaca, menyimak tentu saja harus dimiliki oleh seorang pejuang pemikir. Lalu jaga integritas.

Kreatifitas di atas muncul dari bilik-bilik kecil Bahana, dari diskusi kecil dengan semua kru. Akhirnya muncul sebuah kerja-kerja kreatif. Saya hanya ingin bilang, bila berpikir besar tentu saja kerja-kerja besar harus dilakukan. Ingat, eksistensi Bahana hanya bisa terus hidup bila Bahana melakukan kerja-kerja kreatif yang bertujuan mengabdi pada masyarakat dan tentu pengkaderan paling utama.

Saya mohon maaf setulusnya. Pasti, diantara kerja-kerja Berada “di antara” di atas terselip tindakan tidak terpuji. Saya hanya manusia, bukan malaikat. Saya tentu saja punya setitik hina, setitik kotor, setitik kacau dalam bersikap. Saya mohon maaf. Saya melakukan kerja-kerja kreatif di Bahana, semata-mata karena pengabdian saya pada Bahana.

Write For Freedom!