Lampu Padam, Toko Buku

by Madeali


Lagi asyik online, eh, lampu di Bahana Mahasiswa padam.

Hidupin motor. Panasin sebentar. Bremm, tancap gas ke Toko Buku Gramedia di bilangan Jenderal Sudirman, satu menitan dari Bahana.

Toko Buku adalah salah satu tempat asyikku hilangin stress. Yang paling tak bisa kubendung adalah nafsu hendak membeli buku. Toko Buku Gramedia ada di Lantai dua. Lantai satu jual alat-alat kantor. Lantai tiga khusus buku fiksi.

Kebiasaanku, langsung ke konter Hukum, tentu saja Hukum Pidana atau soal Human Rights.  Tak ada buku baru. Aku kecewa sekali, padahal kasus-kasus menyangkut tindak pidana khusus termasuk kejahatan HAM jadi persoalan serius di luar negeri, bahkan jadi kajian menarik peneliti luar negeri; pelanggaran HAM Papua, Aceh, Timor Leste, Lingkungan dan Indigenous People. Kalaupun ada buku soal pidana ya tulisan tak begitu serius, paling-paling laporan teori pustaka bukan laporan riset lapangan. Intinya hanya cerita das sein, bukan das sollen. Alias buku-bukuan.

Sebelahnya bagian Komunikasi. Eh buku ‘A9AMA SAYA ADALAH JURNALISME karya cekgu Andreas Harsono terselip diantara buku-buku komunikasi. Tersaji tiga buku itu masih tersampul kertas rapi.

Saya ke konter “Buku Baru”. Saya perhatikan ada buku penulis Indonesia; Tragedi Politik Hukum HAM karya Dr Suparman Marzuki penerbit Pusham UI. Partai Demokrat Antek Pendjajah dan Indonesia, Wikileaks dan Julian Assange  karya Indra F Isnaeni wartawan Historia Online.

Juga ada buku-buku penulis asing dengan riset bermutu, buku babon; Sebuah Masjid di Munich Konspirasi Nazi, Cia, dan Ikhwanul Muslimin karya Ian Johnson, History of The Arabs karya Philip K Hitti, Bahasa Melayu Bahasa Dunia karya James T Collins, Hitler Wars karya David Irving, Tembok Besar Cina Melawan Dunia karya Julia Lovell, Tindakan pilihan bebas! : orang Papua dan penentuan nasib sendiri karya  P.J. Drooglever.

Buku-buku bermutu yang saya pilih di atas kaya riset lapangan. Metodologi mereka transparan, artinya bagaimana mengetahui yang mereka ketahui.

Kata-kata  riset. Kerap saya dengar, tapi secara serius saya pahami dan pelajari ketika setidaknya tiga kali kala bersua cikgu Andreas Harsono, Mas Budi Setiyono dan mas Basil Triharyanto. Itu pun dalam sebuah forum workshop menulis, bukan di bangku kuliah nota bene forum ilmiah. Saya pernah ikuti mata kuliah metodologi dan penelitian, ya itu tadi dosen pengampu hanya terangkan soal penelitian normatif dan sosiologis, bagaimana melakukan macam-macam riset, riset mana yang paling bagus? Itu yang tak pernah saya dapatkan, ironis bukan kuliah tapi tak paham riset?

Wah, pukul 18.16 nih, aku musti berhenti menikmati kartun Shaun the Sheep di MNC TV, itu loh kartun jenaka yang baek hati, kekonyolan pada sheep, anjing dan pemilik ternak.

Kartun bisa membuat stres hilang. Kita bisa tertawa. Bukankah tertawa obat awet muda?

Nanti kita sambung lagi ye…