Sekilas Tebing yang Tinggi

by Madeali


SIRINE PANJANG SPEED BOAT Porti Express nyaring memanggil-manggil medio Ramadhan 1431 Hijriah. Petugas syahbandar memeriksa tiket penumpang. Penuh hati-hati penumpang turuni dermaga menuju kapal putih itu. Awak kapal melepas ikatan tali dari dermaga. Pukul 08.58, memutar haluan 180 derajat, perlahan kapal itu meninggalkan pelabuhan Sei Duku, Tanjung Rhu, Pekan-baru.

Ibarat dalam bus, ada sekitar 30 penu-mpang duduki kursi fiber. Suara mesin, desir air, dan suara penumpang menyatu. Pukul 10.00, kapal menambat di sebuah pelabuhan rakyat, Perawang. Penumpang turun, menuju bus. Bus melaju, dua jam kurang lima menit bus tiba di Pelabuhan Tanjung Buton, Kabupaten Siak.

Penumpang kembali naik kapal Porti Express, ukuran lebih panjang. Ini transit terakhir. KPukul dua siang itu, Selatpanjang menyambut tiga kru Bahana. Hawa panas laut dan terik mentari terasa menyengat kulit. Gerah.

Selatpanjang berada di mulut sungai besar Siak dan Kampar. Ia jadi penghubung antara Riau Daratan dan Riau Kepulauan. Dekat dengan Malaysia dan Singapura. Ia jadi tempat persinggahan.

Di dalam pelabuhan kami bertemu tukang becak ojek. Kami kenalan. Cerita seputar Selatpanjang. Ia bilang namanya Am. “Di sini yang banyak suku Melayu dan Cine (Tionghoa),” sebut Am kental logat khas melayu kepulauan. Ia juga menyebut etnis Bugis, Jawa, dan Minangkabau mendiami kabupaten termuda di Riau itu. Pada tanggal 19 Desember 2008, DPR RI mengesahkan pembentukan Kabupaten Kepulauan Mer-anti di Riau terpisah dari Kabupaten Beng-kalis.

Dua becak motor. Am dan temannya mengantar kami. Tak sampai tiga menit kami turun di depan sebuah rumah bercorak melayu dari papan. Ongkos Rp 30 ribu untuk dua becak motor. Am tersenyum men-inggalkan kami. Sebelum pergi, pria bermisai itu bilang sewa motor sehari Rp 100 ribu. Bensin susah dicari. Di sini tak ada pom bensin.

Dari depan Masjid Raya, kami jalan kaki kelilingi kota Selatpanjang. Perempat jalan Teuku Umar, kami bertanya pada penjual pempek Palembang.”Makamnya tak jauh. Ikuti aja jalan lurus ini. Di sebelah kanan,” kata pria itu. “Saya salah satu keturunannya.” Kebetulan sekali. Kami janji akan wawancara setelah kunjungi makam.

Letaknya pas di depan kantor korem. Di pinggir jalan. Makam itu bernama Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi, Selatpandjang 1880-1908. Masyarakat kerap menyebut Marhum Buntat. “Sewaktu meninggal dari mulut Marhum Buntat keluar semacam batu permata. Itu buntatku, kata Marhum Buntat. Sejak itu ia dipanggil Marhum Buntat,” kata H. Kazier, Ketua Lembaga Adat Melayu Selatpanjang. Makam ini dikelilingi pagar dari semen setinggi hampir dua meter. Lumayan luas.

Aang Ananda Suherman dan saya meng-hitung ada 69 makam keturunan tengku. Satu makam besar beratap warna kuning berdiri kokoh. Itulah makam Marhum Buntat. Makamnya sudah turun beberapa sentimeter; antara kepala dan kaki tak lagi rata.

SEBELUMNYA SELATPANJANG ebelumnya Selatpanjang bernama Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi. Nama itu berubah, sejak hasil perjanjian antara Marhum Buntat dan Belanda. Pada 4 September 1899, Tengkoe Soelong Tjantik Alwi sebagai Wakil Sultan Siak IV berunding dengan Van Huis, konteliur Belanda.

Belanda ingin Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi diganti menjadi Selatpanjang. Tjantik Alwi tak ingin hilangkan nama itu karena bernilai sejarah. Tanpa insiden apapun, kedua belah pihak sepakat menyebut Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi; Selatpanjang. “Saya dapat cerita dari ayah saya, saat perundingan berlangsung tak terjadi apa-apa,” kata Tengku Syarifah Akmaliah Ismail di rumahnya, tak jauh dari Masjid Raya. Masyarakat senang menyebut Selatpanjang. Sebab pergantian nama itu, Syarifah dan Kazier tidak tahu.

Tengku Syarifah Akmaliah Ismail bersama suaminya Tengku Amhar Indraperdana Saiyid Multazam menghimpun sejarah berdirinya Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi Selatpanjang dalam bentuk buku setebal 88 halaman.

Sultan Siak VIII Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin, biasa disapa Sultan Syarif Ali memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain tertarik pada pulau itu karena Sultan pernah singgah, tujuan utama Sultan ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas, Kali-mantan Barat—terindikasi bersekutu dengan Bel-anda ya-ng tel-ah khi-anati perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Si-ak. Negeri at-au Bandar ini nantinya se-bagai ujung t-ombak per-ta-hanan ketiga setelah Bukit B-atu dan Mer-bau untuk menghadang pen-jajah dan lanun.

“Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum Allah.”

Bergeraklah armada atau penjajab pim-pinan Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha pada awal Mu-harram tah-un 1805 Masehi diiringi beberapa pembesar Kerajaan Si-ak, ratusan laskar dan h-ulu balang m-enuju Pulau Tebing Tinggi.

Mereka tiba di tebing Hutan Alai. Panglima itu segera meng-hujam kerisnya memberi salam pada Tanah Alai. Tanah Alai tak menjawab. Ia m-eraup tanah s-ekepal, terasa panas. Ia mele-pasnya. “Men-urut se-pan-jang penge-tahuan den, tanah Alai ini tidak baik dibuat sebuah neg-eri karena tanah Hu-tan Alai a-dalah ta-nah jan-tan. Baru bisa ber-kembang menjadi seb-uah negeri dalam masa waktu yang lama,” kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.

Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah tebing yang tinggi. “Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan Syarif Ali,” pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan tanggal 07 April 1805 Masehi.

Di usia masih 25 tahun itu, dengan mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi salam. “Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den,” katanya. Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas tanah—lokasinya kira-kira dekat komplek Bea Cukai sekarang. Sambil berkata, “Deng-arkanlah oleh kamu sekalian di tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri. Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum Allah.”

Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan, laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. “Den bernama Tengku Bagus Saiyid Thoha Pang-lima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi.”

Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat Panglima itu sebagai penguasa pulau. Kala itu, sebelah timur negeri ber-batasan dengan Sungai Suir dan sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbai. ***