Petuah 662

by Madeali


Saya membaca buku Tunjuk Ajar Melayu karya Tennas Effendy, intelektual melayu Riau. Ia berisi pantun. Saya loncat ke halaman 662,  Petuah Amanah Alam Lingkungan.

Foto diambil dari Adicita

Tennas menulis orang melayu tradisional yang hakikatnya hidup sebagai nelayan dan petani amat bersebati dengan alam lingkungannya. Alam bukan saja dijadikan alat mencari nafkah, tapi juga berkaitan dengan kebudayaan dan kepercayaan. Orang tua-tua melayu mengatakan, bahwa kehidupan mereka amat bergantung pada alam. Alam menjadi sumber nafkah dan juga menjadi unsur-unsur kerbudayaan.

kalau tidak ada laut, hampalah perut

bila tak ada hutan, binasalah badan

Tennas juga menegaskan, setelah Indonesia merdeka, hampir seluruh aturan hak tanah atas tanah adat tidak lagi diakui, sehingga pemilikan, pemanfaatan, dan penguasaannya tidak lagi dapat diatur adat. Akibatnya terjadi perusakan dimana-mana. Masyarakat sekitar tempatan yang secara turun temurun merasa menguasai dan memiliki hutan tanah itu tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka tidak lagi diakui sebagai pemilik.

Ini menyebabkan banyak terjadi sengketa tanah yang timbul setelah adanya bangunan atau perkebunan di kawansan itu, penguasaan atau pemanfaatan ke pihak lain.

salah satu petuahnya,

siapa merusak alam sekitar

samalah dosanya berbuat makar

Mengapa buku Tunjuk Ajar Melayu setinggi  5 CM ini tidak diajarkan pada taipan macam Eka Tjipta Widjaya pemilik PT ARARA ABADI anak perusahaan PT IKPP dan Tanoto pemilik PT RAPP, PT Chevron Pacific Indonesia  dan Negara Indonesia sebagai pemberi izin legal yang nyata merusak hutan di Riau? 

Kenape Atuk-atuk di Lembaga Adat Melayu Riau diam aje menyaksikan hutan dan masyarakat hukum adat di Riau binase?

Kenape mereke kurang ajar Tuk?

Jawablah Tuk!