SECUIL 26, Sebuah Pengantar

by Madeali


Ini kata pengantar Buku Secuil Kisah 26 Alumni Bahana.



Satu malam. Usai sholat maghrib. Kru berkumpul. Di atas meja panjang itu, tumpukan koran, buku dan aneka gorengan dalam bungkusan koran berkresek hitam tersaji. Tangan-tangan ‘jahil’ segera menyambar isi dalam kresek. Meski hanya menyantap gorengan sederhana itu, Senin 16 November 2009 pukul 19.00, generasi 2009 Bahana Mahasiswa memulai sebuah ide kreatif, katakanlah melanjutkan ide-ide generasi sebelumnya.

Generasi tahun 2002 pernah menerbitkan delapan buku; Menuju Riau 2020, Benturan Ideologi karya Cecep Suryadi, Dari Gerakan Pembelaan Menuju Pemberdayaan karya Ihsan Yus, Dari Unri Menebar Karya karya Bahana, Menjadi Wirausaha Handal dan Pemasaran Interaktif karya Edyanus Herman Halim, Riak Politik Legislatif Riau karya Azam Awang, dan Komunitas Adat Terpencil. Empat tahun kemudian, Desember 2006 Bahana hanya menerbitkan satu buku bertajuk Sayap Emas dari Unri.

Semua buku tersebut diterbitkan Bahana Press, salah satu lembaga semi otonom milik Bahana. Bahana Press terbit pada Januari 2002.
Karena tradisi itulah Bahana press kembali berazam menerbitkan buku bertajuk Secuil Kisah 26 Alumni Bahana pilihan generasi 2009.

Seperti biasa, diskusi berlangsung lama sebelum ketuk palu tanda sepakat. Dan ini sudah tradisi, apapun pembahasan—kasus-kasus, kegiatan dan hal-hal yang dianggap perlu—wajib didiskusikan. Musyawarah dan mufakat adalah kata akhir.
Pembahasan bermula dari sini, dan semua kru angguk-angguk kepala bersepakat; sebanyak 26 alumni Bahana akan dipilih sesuai dengan hari jadi Bahana yang ke-26 tahun 2009. Bahana berdiri pada 17 Juli 1983.

Sambil menyantap gorengan—tahu, bakwan, pisang—mulai muncul soalan. Dari 173 alumni Bahana (1983-2009) akan dikerucutkan menjadi 26 alumni. Dan penentuan ini tak mudah. Lalu, bagaimana dengan alumni yang pernah Bahana terbitkan dalam buku;
Dari Unri Menerbar Karya, (kumpulan 17 Alumni Unri yang berprestasi dibidangnya sempena hari jadi Bahana Ke-17 tahun; Al-Azhar (budayawan Riau), Fakhrunnas MA Jabbar (budayawan Riau), Nyat Kadir (eks walikota Batam), Taufik ikram Jamil (Sastrawan Riau), dan Rusli Zainal (Gubernur Riau).

Sayap Emas Dari Unri, kumpulan 23 Alumni Unri yang sukses dibidangnya sempena hari jadi Bahana ke-23; Bahtiar (General Manager Batam Tv), Deni Kurnia (Ketua PWI Riau), Helmi Burman (Politikus dan mantan Ketua PWI Riau), Yusmar Yusuf (Dosen Unri dan Budayawan Riau), WE Tinambunan (Dosen Unri) dan Azmi R Fatwa (Anggota Legislatif Bengkalis). Mereka semua adalah tokoh di Riau.

Timbul pertanyaan dari salah satu kru malam itu. Apakah Ke-11 Alumni itu disajikan kembali dalam buku Secuil Kisah 26 Alumni Bahana?

Ya. Sebab mereka alumni yang punya pengaruh dan nama besar dan inikan dari cerita khusus alumni Bahana, jadi semua alumni Bahana harus masuk meski mereka sudah pernah ditampilkan dalam buku. Itu kata yang setuju.

Tidak. Kata yang tidak setuju. Sepakat bahwa semua alumi harus masuk, tapi yang sebelas alumni tersebut tak prioritas. Kita harus memberi kesempatan pada alumni yang belum kita tampilkan. Selain itu, jika alumni sebelas tersebut kita masukkan kembali akan terjadi pengulangan catatan sejarah perjalanan hidup dan pembaca akan mencap bahwa seolah-olah hanya sebelas orang tersebut alumni Bahana yang hebat. Padahal tak hanya itu alumni Bahana.

Diskusi panas hingga melewati angka 21.00. Tanpa terasa gorengan ‘penyemangat’ di atas meja lesap sudah. Sebagian kru ada yang mengambil air minum, buang air kecil dan berolahraga ringan.
Pukul 21.59, setelah habis argumentasi pertahankan pendapat, kata akhir ala Bahana harus segera diambil. Kesepakatan jadi jalan penengah. Dan, pendapat tidak setuju jadi pilihan.

Lalu, rapat membuat kriteria. Alhamdulillah, saat penentuan kriteria tak banyak usulan dan pembahasan. Kriteria, pertama pernah mengabdi di Bahana minimal masuk dalam struktur redaksi alias kop Bahana, kedua sukses dan berprestasi di bidang yang digelutinya versi generasi 2009. Sekali lagi versi generasi 2009. Memang ini amat subjektif! Dan kami yakin, akan ada alumni Bahana yang protes. Kenapa si ini. Kenapa si anu. Apa mau dikata, generasi 2009 sudah menentukan pilihan.

Ada pepatah dalam ilmu hukum. Bahwa hukum mengikuti perkembangan masyarakat. Artinya hukum harus berubah. Hukum tidak saja tertera dalam teks-teks, di luar itu juga ada hukum yang hidup dan ’bernafas’ di tengah-tengah masyarakat. Bahkan lebih hukum dibanding hukum dalam teks-teks.

Begitu juga di Bahana. Ia senantiasa berubah mengikuti perkembangan masyarakat, khususnya masyarakat civitas akademika Universitas Riau. Atau katakanlah, masyarakat dunia.

Nah, sejak tahun 1983 hingga 2009 tampilan Bahana berubah. Sepanjang tahun 2009, tampilan Bahana berubah. Dari 24 menjadi 16 halaman, terbit dwi mingguan dari sebelumnya sebulan. Sebenarnya bukanlah prestasi tapi tuntutan dan masukan civitas akademika Unri, bahwa berita Bahana—yang terbit sebulan sekali—’basi’, tidak up to date, dan covernya kaku. Lalu, kami lakukan survei kecil-kecilan. Dwi mingguan adalah jawabannya.

Sejak saat itu, agar tak kaku, cover Bahana selalu sajikan gambar kartun. Di jejaring social facebook Bahana, alumni selalu beri komentar cover Bahana. Kami suka itu, ternyata alumni perhatian sama adik-adik, he he he…

Tiap dua minggu juga biasanya hari Jumat malam, Bahana taja diskusi seputar Unri, Riau dan Indonesia—biasanya kasus sosial. Tiap tahun Bahana menerbitkan Majalah—majalah terbit sejak tahun 2007.

Kami berbangga. Sebab, khusus di Riau, Pers Mahasiswa—yang pertama kali—terbit dwi mingguan dan Majalah tahunan—baru Bahana. Aklamasi (Universitas Riau), Gagasan (Universitas Islam Negeri Suska Riau), Visi (Universitas Lancang Kuning) dan Tekad (ilmu komunikasi Fisip Unri), terbit bulanan bahkan ada yang sampai tiga bulanan.

Oh ya. Tepat hari jadi perak Bahana ke-25 tahun, generasi 2008 berhasil menyatukan alumni Bahana yang ’terserak’. Di Hotel Ibis Pekanbaru, Ramadhan 1429 atau 6 Desember 2008, pukul 20.56. Sekitar 60 alumni berkumpul. Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Bahana didirikan. Kakanda Fakhrunnas MA Jabbar, pemimpin redaksi pertama sekaligus pendiri Bahana, didaulat sebagai Ketua Umum periode 2008-2013. Sekali lagi, ini satu-satunya di Riau yang dibuat pers mahasiswa.

Sedikit cerita soal buku. Sejak 2008 dan 2009, Bahana sudah proyeksikan membuat buku; Kenalkan Saya Wartawan Bahana; Kumpulan Kilas Balik, Kumpulan Cerpen, Sayap Emas dari Unri dua, Kumpulan Opini dan Kolom, Fikiran 26 Alumni Bahana, dan Secuil Kisah 26 Alumni Bahana.

Semua buku di atas yang kami proyeksikan akan terbit berseri atau bersambung sesuai hari jadi Bahana. Jika ada Secuil Kisah 26 Alumni Bahana, akan ada Secuil Kisah 27 Alumni Bahana pada 2010. Dan seterusnya.

Selain itu, Bahana berazam siapapun Pimpinan Umumnya, tiap tahun wajib menerbitkan minimal satu buku. Jika tidak, akan dianggap ’durhaka’, he he he.. Ingat, kreasi di Bahana tidak saja sekadar menerbitkan tabloid.

Ada beberapa catatan. Sejak tahun 2007, Rektor Universitas Riau, Prof Ashaluddin Jalil, gencar sosialisasi perubahan akronim nama Unri jadi UR (baca; u er). Alasannya sederhana, suatu ketika Ibunda Prof Ashaluddin Jalil, menulis surat padanya. Dalam surat itu, sang bunda menyebut Undri. Lalu, nama-nama yang mirip Unri seperti Umri dan Unsri. Beberapa media lokal di Riau juga menyebut UR.

Singkat cerita, Maret 2010, senat universitas menyetujui perubahan nama Unri jadi UR. Kini, tinggal menunggu persetujuan dari Menteri Pendidilan Nasional. Karena mematuhi keputusan senat universitas, sejak edisi April 2010, Bahana memakai UR.

Nah, kenapa dalam buku ini, masih ada kata-kata Unri? Sebab saat wawancara ke-26 Alumni Bahana selalu menyebut nama Unri. Selebihnya, mereka punya kenangan dengan Unri, bukan UR.

Generasi 2009 sepakat menyebut Bahana bukan BM. Sebab, saat rektor pertama Unri, almarhum Prof Muchtar Luthfi, pada 1982 memberi nama dengan sebutan Bahana bukan BM.

Kami ucapkan terima kasih kepada;
Rektor Unri, Bapak Prof Ashaluddin Jalil, bersedia memberi kata sambutan. Orang tua kami, Bapak Moeslim Rusli, wartawan senior Riau. Yang kami sayangi, kami hormati, abang kami Fakhrunnas MA Jabbar, detik-detik akhir deadline cetak bersedia luahkan waktu memberi kata pengantar. Dan terima kasih kritikannya, Bang.

Juga terima kasih kepada abang-kakak dalam Secuil Kisah 26 Alumni Bahana. Baik yang membantu secara materi, maupun hanya sebatas doa.
Bapak Hanafi Kadir dan Kak Rinta (Humas) PT Chevron Pacific Indonesia, yang memberi bantuan materi, terima kasih.

Kembali ke Senin 16 November 2009. Usai rapat malam itu, kami kembali ke ruang ketik. Seperti biasa, namanya juga wartawan, mengejar deadline. Kesibukan kami pun bertambah malam itu.

Kok cuma Secuil Kisah 26 Alumni Bahana yang terbit? Sisanya? Sedikit mengulang cerita. Sejak terbit dwi mingguan, diskusi dwi mingguan, kesibukan Bahana luar biasa padat. Habis terbit edisi dwi mingguan, kru tetap istirahat cuma dua hari. Selain itu kru juga sibuk kuliah. Lalu soal sumber daya manusia. Kru generasi Bahana Januari-Oktober 2009 (16 kru), November 2009-Mei 2010 kru tinggal delapan orang. Lalu, aktifitas intelektual lainnya juga menyita waktu kru.

Kami yang masih ’budak kecik’ ini, jika membaca sajian kami yang ini, dengan tangan terbuka, menanti kritikan pembaca. Sebab, ini pekerjaan manusia. Tiada yang sempurna. Kami sadar ada setitik salah dalam penulisan ini.

Khusus untuk Alumni Bahana yang belum masuk dalam secuil kisah, jangan kecil hati. Jangan merajuk ye…’Pasti’, pada generasi mendatang akan ada secuil kisah selanjutnya. Tujuan utama buku ini, mendata dan mengumpulkan alumni dalam bentuk buku.
Terakhir dari saya, sebagai wartawan Bahana sejak 2004, bersyukur, bahwa generasi 2009 tidak akan dianggap ’durhaka’ oleh generasi selanjutnya. He he he he…

Lanjutkan, Mengembangkan Tradisi Akademis yang Kritis!