Investigatif Reporting

by Madeali


Pada 11 Mei pukul 6:40, Yulan Kurima Meke, melalui Facebook kirimi saya info pelatihan Kursus Investigatif Reporting oleh Yayasan Pantau pada  7 – 11 Juni 2011 di Jakarta.

KURSUS INVESTIGATIVE REPORTING

Investigative reporting adalah salah satu genre dalam jurnalisme di mana reporter memakai metode tertentu guna membuktikan kesalahan seseorang atau sekelompok orang. Karya investigasi awalnya dipelopori Ida Tarbell (1857–1944) dari majalah McClure’s Magazine. Pada 1902, Tarbell menurunkan serial laporan tentang monopoli perusahaan Standard Oil Company. Laporan tersebut, belakangan dijadikan buku, mendorong Mahkamah Agung Amerika Serikat memerintahkan perusahaan itu dibagi dua.

Dalam “The Elements of Journalism” (April 2001) karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, investigative reporting merupakan artikulasi dari elemen kelima jurnalisme yang bertugas “memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas.” Praktiknya sinonim dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Si penulis berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan.

Pelatihan ini dirancang untuk memahami prosedur dan teknik liputan investigasi. Peserta akan diperkenalkan dengan teknik atau metodologi liputan diantaranya Investigasi Korupsi Pemangku Jabatan Publik; Skema Dampak Kasus; Penelitian Kualitatif; dan Metode Studi Kasus. Selain itu peserta juga akan belajar dari studi kasus yang dibawakan oleh para instruktur serta bagaimana menuliskan hasil liputannya.

Kursus diadakan 10 sesi dengan frekuensi mingguan, setiap hari dua sesi mulai pukul 10.00-12.00 sampai 13.00-15.00. Termasuk satu sesi dengan pembicara tamu. Tempat di kantor Yayasan Pantau, Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD, Jakarta Selatan.

INSTRUKTUR

George Junus Aditjondro – peneliti senior, sejak 1980-an terlibat dalam aktivisme lingkungan dan hak-hak masyarakat terpinggirkan secara politik terutama di Papua Barat, Timor Leste dan Aceh. Pada 1990-an meneliti harta-harta keluarga Soeharto. Pada 1996, di Universitas Newcastle, Australia, mengembangkan matakuliah sosiologi korupsi dan sosiologi gerakan kemerdekaan pasca kolonial. Pada 2000-an, aktivismenya disalurkan di Sulawesi. Kini mukim di Yogyakarta dan pengajar tamu di Universitas Sanata Dharma.

Andreas Harsono – wartawan Jakarta, pernah bekerja di harian The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur), Associated Press Television (Hong Kong) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard (1999-2000). Co-editor buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2005). Buku antologinya Agama Saya Adalah Jurnalisme (Kanisius, Desember 2010). Tengah menyelesaikan buku A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.

PEMBICARA TAMU

Otto Syamsuddin Ishak – Sosiolog dari Universitas Syah Kuala, Banda Aceh. Ia peneliti hak asasi manusia dari Imparsial, Jakarta. Buku-bukunya, antara lain, Dari Maaf ke Panik Aceh (tiga serial), Peristiwa Idi Cut, Aceh: Dari Tragedi ke Impunitas (2001), serta kumpulan kolom Bandar: Refleksi Tentang Aceh (2005).

SYARAT DAN BIAYA

Peserta diutamakan wartawan yang sudah bekerja minimal 3 tahun. Bisa juga penulis yang punya minat khusus terhadap jenis reportase ini. Ia juga tak terbatas untuk para aktivis yang pekerjaan di lembaganya sehari-hari berurusan dengan isu-isu korupsi, kejahatan hak asasi manusia, maupun isu pertambangan atau kerusakan lingkungan. Biaya kursus 3 juta rupiah.

PESERTA

Peserta dibatasi 20 orang untuk memudahkan lalu-lintas diskusi dalam kelas. Peserta diharapkan mengirim biodata agar instruktur bisa mengenal background peserta. Peserta juga diminta mempelajari dan membaca materi kursus dan mengerjakan tugas kelas.

Informasi hubungi:

P a n t a u

Jl. Raya Kebayoran Lama

No 18 CD Jakarta Selatan 12220

Telp/Fax. 021 722-1031/021- 7221055

Website. http://www.pantau.or. id

Yulan Kurima Meke (085228754848)

Siti Nurrofiqoh (081382460455)

Inginnya sih ikut,

Waduh, ini kursus paling penting bagi wartawan yang hendak meliput sebuah kejahatan, ia bisa menunjuk pelaku kejahatan tersebut. Saya dua kali ikut pelatihan Workshop Menulis dengan instruktur cekgu Andreas Harsono, kursus investigative reporting belum pernah saya ikuti.

Setahu saya, wartawan Indoensia yang pernah liput investigatif reporting Bondan Winarno, itu loh pembawa acara wisata kuliner di Trans TV alias si Mak Nyoss, saya punya kopian bukunya bertajuk Bre-x Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Saya kian tahu sekerat investigatif reporting dari buku ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme halaman 230 dan blog karya cekgu Andreas Harsono bertajuk apa itu investigatif reporting.

Saya benar-benar berniat bertemu George Junus Aditjondro, saya hendak diskusi soal Indigenous People Right di Indonesia pra dan pasca soeharto lengser dan banyak lagi soal kasus-kasus kejahatan politik terselubung yang dilakukan para penguasa dan pengusaha negeri ini dan kejahatan pada manusia era Soekarno hingga Susilo Bambang Yudoyono.

Yulan, aku hendak sekali ikuti. Tapi hingga Juli ini aku musti rampungkan skripsi untuk gelar sarjana di Fakultas Hukum Universitas Riau, selain itu, selain itu waduh biayanya mahal sekali.

Aku usul, bila Pantau hendak helat lagi kursus investigatif reporting, khusus untuk pers mahasiswa, he he he, gratis dunkz!