TV Oon

by Madeali


Ini buatan Fahri Salam,

@karya Fahri Salam

Jurnalisme TVOON bukanlah “terdepan mengabarkan,” tapi “terdepan mengaburkan.” Persekusi Ahmadiyah di Cikeusik, 6 Februari 2011, yg menewaskan tiga warga Ahmadi, diberitakan oleh media ini dengan mengumbar spekulasi dan sensasi. Forum publik yang mereka bangun juga OON sekali [untuk tak menyebut ‘semu’]. Mereka senang dengan kontroversi ketimbang mencari kompromi – sesuatu yg esensial dalam demokrasi.

TV milik Bakrie ini juga sangat bias saat memberitakan lumpur Lapindo. Karni Ilyas, pemimpin redaksi, juga bias sejak dalam pikiran mengingat dia dekat dengan kepolisian.

Ke-OON-an juga berlaku bagi media yang mengumbar teori konspirasi untuk kasus-kasus penting kemanusiaan. Konspirasi lahir dari pikiran yg malas. Ke-OON-an juga berlaku bagi media-media yang masih menyebut 25 warga Ahmadiyah melawan 1,500 massa sebagai “bentrokan.”

Dasar OON!