Ralat Pekanbaru MX

by Madeali


Sabtu malam, 11 Juni 2011, saat diskusi berlangsung bertajuk Melihat Kasus Penangkapan Warga Pulau Padang Dan Desa Lukit Dari Sisi Hukum dan HAM ditaja LPM Gagasan Universitas Islam Negeri Suska Riau di sekre Bahana Mahasiswa Unri, sejenak saya baca koran Harian Pekanbaru MX. Pada rubrik Riau Riuh halaman 4 (warna), Pekanbaru MX membuat ralat teks foto dan permohonan maaf edisi Ahad 12 Juni 2011. 

Redaksi Pekanbaru MX menulis: Harian Pekanbaru MX edisi Jumat, 10 Juni 2011, halaman 8, terdapat kesalahan teks foto pada berita berjudul “Eskavator Dibakar, 10 Saksi Diperiksa”.

Atas kesalahan tersebut, redaksi MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYAkepada para pembaca dan pihak-pihak yang dirugikan. Untuk memperbaiki kesalahan, kami muat kembali foto tersebut, berikut teks yang betul: “SEORANG anggota polisi sedang melihat kondisi camp karyawan milik RAPP yang terbakar di Pulau Padang beberapa hari lalu.” Redaksi mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pembaca dan pihak-pihak yang telah menyampaikan koreksi secara langsung kepada harian Pekanbaru MX.”

Ralat dan Permohonan Maaf dari Redaksi Pekanbaru MX

Ralat dan Permohonan Maaf dari Redaksi Pekanbaru MX

Apresiasi untuk Pekanbaru MX, sebab sudah menjalankan ketentuan hukum Pers.

Saya kira, Rekadsi Pekanbaru MX langsung saja menulis meminta maaf kepada STR dan SEGERA bukan pihak-pihak yang dirugikan. Tentu saja pihak-pihak yang paling dirugikan adalah pihak STR dan SEGERA.

Pada Jumat petang 10 Juni 2011, Forum Pers Mahasiswa (Fopersma) Riau bersama Serikat Tani Riau datangi Pekanbaru MX untuk klarifikasi teks foto dalam berita bertajuk Eskavator Dibakar, 10 Saksi Diperiksa menampilkan foto dua eskavator pasca dibakar dan seorang polisi sedang pandangi eskavator.

Harian Pekanbaru MX terbitan 10 Juni 2011 memuat liputan terkait eskavator dan camp RAPP yang terbakar. Perhatikan teks foto pada gambar. Tertulis, "Seorang anggota polisi sedang melihat kondisi camp karyawan milik RAPP yang dibakar massa STR dan SEGERA di Pulau Padang beberapa hari yang lalu." Mereka menuduh STR dan SEGERA membakar eskavator dan camp. Padahal polisi belum memberi pernyataan resmi siapa pelaku pembakaran.

Dalam teks foto tertulis; Seorang anggota Polisi sedang melihat kondisi Camp karyawan milik RAPP yang dibakar massa STR dan SEGERA di Pulau Padang beberapa hari lalu. Kami disambut Arief Rahman wakil Pimpinan Rekaksi dan Kornel Pasaribu Koordinator Liputan.

Lovina dari Fopersma tanya kenapa kesalahan yang sama terbit lagi. Kornel menjawab,” Ini kesalahan layout dan redaktur. Padahal kami sudah perbaiki sebelumnya. Kami minta maaf, ” kata Kornel. Arief Rahman berjanji memuat ralat pada edisi Ahad. Lima kali ia meminta maaf.

Ini untuk kedua kalinya harian Pekanbaru MX memuat teks foto yang sama menuduh STR dan SEGERA melakukan pembakaran alat berat dan camp karyawan milik PT RAPP. Sebelumnya, pada 3 Juni 2011, Fopersma, STR dan SEGERA datangi Pekanbaru MX, esoknya Pekanbaru MX memuat hak jawab. Oplah Pekanbaru MX 15.00 eksemplar. Pekanbaru MX terbit dua kali sehari. Slogan Pekanbaru MX koran hebat dan cepat. Isinya melulu soal berita pembunuhan, pemerkosaan, berbau seks dan cabul, pokoknya berhubungan dengan tindak pidana, sekilas perkembangan Riau, dan juga soal artis.

Bagaimana kesalahan yang sama berulang terjadi dilakukan Pekanbaru MX, ini juga harus jadi perhatian dan koreksi redaksi MX. Bila saja Pekanbaru MX milik Grup Riau Pos—juga grup Jawa Pos–menerapakan elemen-elemen Jurnalisme kesalahan sekecil itu tentu bisa dihindari.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme menulis bahwa intisari jurnalisme adalah sebuah disiplin verifikasi. Disiplin Verifikasi ihwal yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Hiburan (entertainment)—dan sepupunya “infotainment”—berfokus pada hal-hal yang paling menggemberikan hati.

Propaganda akan menyeleksi fakta atau mengarang fakta demi kepentingan yang sebenarnya—persuasi dan manipulasi. Fiksi mengarang scenario untuk sampai pada kesan yang lebih personal dari apa yang disebut kebenaran. “Hanya jurnalisme yang sejak awal berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi setepat-tepatnya.”

Dalam buku ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme karya Andreas Harsono tertajuk Independensi Bill Kovach menulis,” Kovach berpendapat sembilan elemen jurnalisme itu ibarat bintang di langit. Para pelaut membutuhkan bintang-bintang di langit agar tak tersesat. Elemen-elemen jurnalisme itu jadi semacam pedoman ke mana wartawan harus mengarahkan pekerjaannya.”

Bukan saja Pekanbaru MX, pasca dua escavator dan dua camp milik PT RAPP dibakar, media harian lokal di Riau macam Tribun Pekanbaru, Riau Pos, Haluan Riau, Metro Riau, Koran Riau dan lainnya (lihat Fopersma dan Bahana Mahasiswa) juga tidak mematuhi elemen jurnalisme.

Saya menutup koran Pekanbaru MX, kembali fokus mengikuti diskusi. Diskusi malam itu soal perkembangan kasus pasca pembakaran. Polisi Kamis pada Kamis, 9 Juni 11), sekira pukul 05.00, rombongan Kepolisian Resort (Polres) Bengkalis dan dibantu personil Polsek Merbau mendatangi Desa Lukit, Kecamatan Merbau, Kabupaten Meranti. Kurang lebih 25 personil kepolisian melakukan penangkapan secara paksa terhadap tiga orang warga Desa. Penangkapan tersebut dipimpin oleh Kasat Intel Polres Bengkalis, AKP Yudi Fahmi. Tanpa surat perintah Polisi main tangkap. Polisi main tangkap di luar procedural Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

“Bila polisi melakukan penangkapan di luar ketentuan KUHAP, kita bisa praperadilankan,” kata Tawar Siregar dari Kantor Bantuan Hukum Riau.

Perkembangan terbaru, kata Teri Hendra Chaniago Ketua Umum Serikat Tani Riau, massa Tani Riau ronde tiap malam. Sekira 48 personil polisi gabungan polsek Tebing Tinggi Barat, Tebing Tinggi dan Polres Bengkalis dan 20 dari polsek Merbau, total sekira 68 polisi masih siap siaga di Polsek Merbau, Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Juga ada latihan sekumpulan Laskar Melayu Riau berlatih di halaman kantor polisi tersebut. Warga tentu saja merasa ketakutan dan resah. Malam itu solidaritas untuk menyelamatkan Masyarakat Meranti dan Pulau Padang macam Fopersma Riau, PRD Riau, KAMMI Riau, YPKP Riau, FNPBI, SRMI dan Jikalahari, bertekad mengawal konflik warga Pulau Padang melawan PT RAPP. Wadahnya PPRM-AMPEL dan Forum Penyelamat Hutan Riau KAMMI Riau.