Ngupi Sebelum Ujian Skripsi

by Madeali


SATU JAM jelang ujian Skripsi. Aku dan Iman Munandar ngupi di kantin Rindang, selemparan batu dari Fakultas Hukum Universitas Riau.

Usai Ujian Skripsi. Foto @ Aang.

Iman pesan teh es dan mi goreng. Aku tentu saja, secangkir kopi gula dipisah. “Aku telepon Bapak ku dulu. Aku mau beritahu dia pagi ini aku ujian Skripsi,” aku perhatikan Iman mencet nomor, lalu tersambung. Dan, aku tak paham apa yang mereka bicarakan. Hanya ini yang ku tahu, “Olo. Olo. Olo Pa. Olo Ma.”  Bila tak silap, artinya Ya dalam bahasa Indonesia. Suara Iman keras sekali, suara dari ujung telepon pun keras. Mereka berbahasa Batak.

Pesanan tiba. Sambil santap mi goreng Iman belum juga berhenti nelpon. Aku lihat sepanjang percakapan tawa dan kebahagiaan yang mereka bincangkan. Aku seruput kopi panas, nikmat sekali. Pagi itu aku hanya ngemil kuaci. Kopi jadi penenang, dan kuaci jadi semacam olahraga otak. Kopi dan kuaci, jadi penghilang grogi saat presentasi ujian skripsi. Tambah lagi, ujian skripsi wajib pakai celana hitam kain, berjas dan dasi, sepatu hitam kulit. Aku tak nyaman berpakaian begituan!

Kami ke kampus. Hari itu, Sabtu 30 April 2011, dari pagi hingga Siang, khusus angkatan 2004, ada lima orang ujian skripsi; Jhoni Prafitrio (bekerja di Satpol PP Propinsi Riau), Firman dan Herena Asmida.

Jadwal ujianku pukul 11.00-12.30. Molor setengah jam. Giliran ku tiba. Di ruang salah satu kelas. Aku sendiri menghadapi empat dosen; Gusliana HB, SH, MH (Ketua Penguji), Muklis SH, MH dan Davit Rahmadhan SH, MH (anggota penguji), Evi Deliana HB, SH, LLM (Pembimbing 1), Erdiansyah SH, MH (Pembimbing II) tak hadir karena izin. Aku lihat Aang Ananda motret dari luar. Banyak temen-temen lihat dari luar, beberapa dari mereka aku kenal.

 

AKU DIBERI waktu presentasi setengah jam dalam bentuk slide. Tajuk skripsiku Analisis Yuridis Putusan Pengadilan Negeri Bengkalis Nomor 63/84/Pid.B/2009/PN.Bks Perkara Tindak Pidana Mengerjakan Dan Menduduki Kawasan Hutan Secara Tidak Sah. Para terdakwa divonis melanggar pasal 50 ayat (3) huruf a jo pasal 78 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan jo Pasal 55 Ayat (1) ke-I KUHP. Ia hanya penelitian yuridis normatif, sumber utama studi kepustakaan atau buku-buku.

saat presenteasi Skripsi

Semacam eksaminasi putusan hakim. Aku nilai ada yang janggal dalam putusan yang diketuai Hakim Ketua Sumpeno, SH, MH lalu Budi Rahayu Purnomo SH dan Subronto (keduanya hakim anggota). Kasus ini diputus pada 30 Juli 2009, delapan terdakwa divonis 10 bulan penjara ditambah 1 bulan kurungan bila tak bayar denda senilai satu juta.  Aku menduga ada praktek mafia hukum selama proses penyidikan hingga putusan hakim!

Suasana Ujian Skripsi, saat presentasi

Kasus ini bermula dari konflik agraria warga Dusun Suluk Bongkal, Desa Beringin, Kecamatan  Pinggir, Bengkalis melawan PT Arara Abadi. PT Arara Abadi di bidang HTI bagi industri pulp dan kertas PT Indak Kiat Pulp and Paper dibawah payung Asia Pulp and Paper Company Ltd (APP) milik taipan Eka Tjipta. Sejak 1980-an, PT Arara Abadi mulai membangun HTI untuk memasok bahan baku pabrik Pulp PT IKPP. Alas izin Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 743/Kpts-II/1996 tentang Pemberian Hak Pengusaha Hutan Tanaman Industry Atas Areal Hutan Seluas 299.975 Hektare Di Propinsi Riau Kepada PT Arara Abadi. Sejak penerbitan izin itu, konflik bermula antara warga Dusun Suluk Bongkal, dihuni masyarakan adat suku Sakai. Seperti biasa, masyarakat berpegang pada faktor sejarah dan adat.

Klimaksnya berujung tindak pidana terjadi pada 18 Desember 2008, pukul 07.00 PT Arara Abadi mengadu ke polisi bahwa warga Dusun Suluk Bongkal menyerobot lahan dan menebang pohon akasia milik PT Arara Abadi. Dan pada pukul 07.30 pemeriksaan disertai dengan pembuatan berita acara pemeriksaan (BAP).

Selang beberapa jam setelah saksi Pelapor membuat laporan di Polsek Pinggir Bengkalis, pukul 10.00, pasukan Brimob Polda Riau beserta 700-an pasukan Samapta serta pasukan kepolisian dari Polres Bengkalis dipimpin langsung Dir. Reskrim Polda Riau Kombes. Alex Mandalika mendatangi Dusun Suluk Bongkal. Pasukan Polisi dilengkapi persenjataan (pentungan dan senjata api) serta water cannon. Polisi mengusir 800-an warga dengan peluru karet dan gas air mata.

Dalam waktu lima jam, 500 rumah kayu hancur berantakan. Pada saat itu helikopter milik polisi terbang di atas Dusun, sejumlah rumah warga dibakar. Dengan eskavator, polisi ratakan dusun. Satu orang anak kecil tewas dalam insiden tersebut. Seusai penggusuran, polisi menangkap 81 orang warga yang dituduh menggunakan senjata tajam. Kasus ini jadi sorotan nasional dan internasional.

Lain kesempatan Suryadi, Direktur LBH Pekanbaru, salah satu tim pengacara, pernah bilang pada saya, ”Hakim meminta legalitas keberadaan Suku Sakai berupa Perda atau minimal SK pemda setempat terkait Suku Sakai. Memang sejauh ini tidak ada. Lembaga Adat Melayu Riau memberi pengakuan suku Sakai, namun hakim bilang LAM bukan lembaga pemerintah atau minimal ada SK penunjukan dari pemda setempat, LAM hanya organisasi masyarakat. Kalo saja ada legalitas, barangkali hakim memutuskan berbeda.”

Hampir dua jam dalam ruangan berpendingin kipas angin gantung. Aku gerah, terasa keringat basahi dahi. Usai Tanya jawab, aku disuruh menunggu di luar sebentar. Tim penguji sedang diskusi tentukan nilaiku.

Pukul 13.08 aku dipanggil ke ruang sidang. Ketua Tim penguji bacakan nilai.
“Made Ali nilai kamu A.”
“Akhirnya skripsimu selesai juga. Sebenarnya tidak lama mengerjakan skripsi, bila kamu serius. Kenapa lama sekali kamu mengerjakan skripsi?”

Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku berkata.
“Aku tidak menemukan diskusi bermutu di kampus. Aku tidak menemukan kampus hari ini berpihak pada orang susah dan tertindas.”

Ada beberapa naskah skripsi direvisi. Aku diberi waktu 14 hari, jika tidak,“Kamu ujian ulang.” Waduh!

Lega rasanya usai ujian skripsi. Satu lagi, aku berazam menulis serius kasus Suluk Bongkal.

Iman Munandar. Ibu Gusliana HB. Mizan Wahyudi.

Bila tak ada aral, Oktober 2011 wisuda.