Korupsi Kehutanan

by Madeali


CATATAN SIDANG;

Dakwaan dan Eksepsi

Setidaknya 60-an orang, belasan wartawan dotcom, cetak dan televisi, pemantau khusus dari KPK merekam dengan camecorder dan handycam, lima penasehat hukum dari kantor hukum Zulkifli Nasution dan Rekan dan Arwin AS, mematuhi perintah suara speaker dalam sidang terdakwa korupsi Kehutanan Arwin AS, berdiri. Lima Hakim memasuki ruang sidang. Kamis 11 Agustus 2011, pukul 09.30. Dalam sidang itu juga hadir Emerson Yuntho dari ICW.

Ketua Majelis Hakim Muefri persilakan hadirin duduk. Ia juga silakan wartawan memotret tak sampai lima menit.

Pukul 09.33. Hakim menyatakan sidang terbuka untuk umum. Muefri ketuk palu. Ia tanya Arwin yang memakai batik motif merah, Arwin mengerti dan bisa lanjutkan sidang. Lantas ia tanya biodata Arwin.  Setelah itu, Hakim periksa identitas penasehat hukum. Salah satu penasehat hukum KPTnya sedang diperpanjang.

Pukul 09.37. Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaan. Dakwaan berbentuk Primair-Subsidair. JPU hanya bacakan dakwaan Primair. Tiga JPU yang hadir bergantian membaca dakwaan setebal 22 halaman. Intinya Arwin AS merugikan keuangan Negara sejumlah setidaknya Rp 301,65 miliar. Arwin memperkaya diri sendiri menerima uang dari lima perusahaan total Rp 850 juta. Arwin melawan hukum dengan menerbitkan IUPHHK-HT kepada lima perusahaan. Ancaman penjara maksimal 20 tahun.

Tepat pukul 10.00, di depan penerima tamu ruang Pengadilan Negeri Pekanbaru, suara dari balik pengeras meminta Arwin tidak tutup mulut. Mereka mendukung Arwin membongkar mafia hutan. Setidaknya 15 orang dari Koalisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdemo, mereka menutup mulut gunakan masker.

Suara pengeras suara dan suara JPU yang sedang bacakan dakwaan membaur. Suara pengeras suara lebih keras dari suara JPU. Hakim beberapa kali meminta kepada petugas agar pengeras suara dihadapkan ke luar, tidak mengarah dalam sidang.

Pengunjung bertambah, para demonstran masuk dalam ruang sidang. Mereka melihat sidang, menutup mulut mereka dengan masker.

Pukul 10.20, JPU selesai bacakan dakwaan.

Hakim bertanya pada Arwin.

“Apakah saudara terdakwa mengerti dengan dakwaan JPU?”

“Saya mengerti. Saya serahkan kepada penasehat hukum,” suara Arwin pelan, hampir tidak kedengaran.

Penasehat Hukum Arwin AS, Zulkifli Nasution keberatan dengan Surat Dakwaan JPU. Hakim persilakan PH bacakan keberatan atau eksepsi.

Pukul 10.23, PH secara bergantian bacakan eksepsi setebal 16 halaman. Inti eksepsi menolak dakwaan JPU, bahwa JPU hanya berimajinasi menentukan tindak pidana terdakwa.

Pukul 11.07, PH usai bacakan eksepsi. Hakim bertanya pada JPU. Jaksa bilang akan ajukan jawaban tertulis pada sidang berikutnya.

Pukul 11.08, Hakim skor sidang selama lima menit. Setelah lima menit hakim buka kembali. Hakim bilang sidang dilanjutkan pada minggu depan, Kamis 18 Agustus 2011, pukul 09.00.

Ruang sidang kembali riuh. Arwin dan PH dikawal polisi menuju mobil tahanan. Arwin sempat dikerumuni wartawan. Arwin serahkan pada PH. PH mengulang substansi eksepsi.

Dokumen: Surat Dakwaan Jaksa KPK