Sidang Arwin AS (9); Ibunda Arwin Meninggal, Sidang Ditunda

by Madeali


Catatan sidang kesembilan Arwin AS, 12 Oktober 2011

 

Lima hakim masuk ruang sidang. Satu di antaranya wajah baru. Namanya H Isnurul S Arief. Ia gantikan Hakim Minanoer . “Saya umumkan kepada saudara-saudara, Pak Minanur sedang melaksanakan ibadah haji. Jadi untuk seterusnya ia digantikan oleh Pak Isnurul,” kata Muefri, Ketua Majelis.

Pukul 10.16 Muefri buka sidang. Hari ini, jaksa jadwalkan untuk menghadirkan tiga saksi dan dua ahli. Jaksa siapkan big screen pada sidang kesembilan ini.

Saksi 1. Anisa Sutomo—Ibu Rumah Tangga

Anisa Sutomo, Ibu Rumah Tangga. Ia mencairkan cek dari Agus Syamsir.

ANISA  grogi. Ia terbata-bata menjawab pertanyaan hakim. Terkait izin IUPHHK-HT, Anisa berperan mencairkan uang Rp 300 juta di Bank BNI. “Saya tidak tahu untuk keperluan apa uangnya, hanya diminta cairkan saja,” kata Anisa. Pada sidang sebelumnya, diduga uang ini diberikan kepada Arwin untuk ibadah haji.

Anisa mengaku kenal Agus Syamsir. Mereka ketemu di Bank BNI, ngobrol, lantas Agus minta tolong cairkan Bilyet Giro sejumlah Rp 300 juta. “Darimana uang berasal saya tidak tahu. Setelah uang cair saya serahkan ke Agus,” kata Anisa. 

Agus berperan menjemput uang dari Sunaryo, Direktur PT Nasional Timber and Forest Product. Saat kesaksian Agus di sidang keempat, ia bilang uang Rp 300 juta yang diberikan itu dalam bentuk bilyet giro, diserahkan kepada temannya untuk dicairkan. Anisa lah yang mencairkan uang itu ke bank. Abang Anisa meminta padanya untuk mencairkan bilyet giro itu. Abangnya teman Agus Syamsir. Anisa Sutomo alias Aceng lahir di Pekanbaru, 15 April 1969. Kini usianya 41 tahun.

Saksi 2. Sutrisno—Mantan Wakil Direktur PT Siak Raya Timber

Sutrisno, Mantan Wakil Direktur PT Siak Raya Timber.

Pukul 10.27, hakim persilahkan jaksa panggil saksi kedua. Sutrisno masuk ke dalam ruang sidang. Ia kenakan kemeja biru terang. Sutrisno kelahiran 3 Juli 1952 di Selatpanjang, Kepulauan Meranti. Ia pernah bekerja di PT Siak Raya Timber sebagai wakil direktur.

Sutrisno mengaku kenal Agus Syamsir. Kenal karena berurusan dengan bilyet giro. Saat itu Agus Syamsir bersama Sunaryo ke kantor Siak Raya Timber. “Agus Syamsir pernah ke Kantor dibawa Sunaryo,” katanya. Saat pertemuan itu, Agus lihatkan Giro Bilyet pada Sutrisno. Agus minta BG itu dicairkan oleh Sutrisno. “Saya tukar dengan uang tunai hari itu juga sebesar Rp 100 juta. Uang itu saya kumpulkan dari teman-teman. Sebab BG hari itu tak bisa dicairkan. Yang jelas, PT Siak Raya Timber serahkan BG ke Agus Syamsir. Lalu Agus minta cairkan BG itu ke saya. Saya tidak tahu uang itu untuk apa. Hanya Sunaryo yang tahu.”

Selain Agus, Sutrisno bilang ia juga kenal dengan Arwin AS. Ia pernah antar Sunaryo ke rumah Arwin. “Saat itu mobil Pak Sunaryo rusak, jadi dia minta tolong antarkan ke rumah Pak Arwin,” kata Sutrisno.

Namun Sutrisno mengaku tak mendengar pembicaraan antara Sunaryo dengan Arwin di dalam rumah. “Saya diminta tunggu di ruang tamu luar. Sedangkan mereka ngobrol di ruang tamu dalam,” kata Sutrisno. Asral Rahman juga ada saat itu.

Sutrisno bilang, ia melihat Sunaryo serahkan amplop putih kepada Arwin. “Dari mana Anda tahu kalau Sunaryo ada serahkan uang ke Arwin untuk ibadah haji?” tanya Penasehat Hukum. “Pak Sunaryo ucapkan selamat menunaikan ibadah haji. Saya juga lihat Pak Sunaryo serahkan amplop putih. Tapi saya tak tahu apa isinya. Karena melihat itu, saya duga Pak Sunaryo serahkan uang ke Pak Arwin untuk ibadah haji,” jawab Sutrisno.

Penuntut Umum bertanya ke Sutrisno soal bilyet giro sembari menunjukkan bonggolnya. Sutrisno akui tanda tangan dalam bilyet giro itu tanda tangan asli miliknya. “Saya diminta Pak Sunaryo tanda tangan. Kalau Pak Sunaryo sudah tanda tangan, yang lain ikut saja. Tidak disampaikan untuk urusan kehutanan,” ujarnya.

 

USAI  saksi Sutrisno diperiksa, Hakim bertanya pada Arwin. Arwin bilang tak ada komentar. Zulkifli Nasution, ketua Penasehat Hukum Arwin mengambil mikropon. “Majelis hakim. Kami minta skor lima menit, ada yang mau kami sampaikan ke Terdakwa.”

“Ada apa,” kata ketua majelis hakim

“Ibunda Arwin meninggal dunia.”

Seketika Arwin menangis. Sidang hening sejenak. Setelah meminta pendapat PU, Hakim langsung putuskan menunda sidang pada Rabu depan, 19 Oktober 2011. “Kami turut berduka Pak Arwin,” kata Muefri menyalami Arwin. (rct)