Mengapa Saya Ikut Berjuang Untuk Kehormatan Bangsa Papua

by Madeali


FILEP KARMA

Saya lahir 15 Agustus 1959di Papua Barat. Pada 1975, saya sekolah di SMA Negeri 414 Abepura. Pada 1976 terpilih jadi wakil ketua OSIS dan enam bulan kemudia menjadi ketua OSIS karena ketuanya pindah sekolah. Lulus Mei 1979 karena perubahan tahun awal ajaran dari Januari ke Juli.

Lalu kuliah ke Fakultas Sosial Politik jurusan administrasi negara UNS Sebelas Maret Solo. Lulus 1987 lalu kembali ke Jayapura. Saya menjadi pegawai negeri tahun 1989 di Diklat Pemerintah Provinsi Irian Jaya. Pada 1997-1998, mendapat tugas belajar S2 di Asian Institute of Management di Manila. Tapi saya tidak lulus namun boleh memilih pulang atau selesaikan program. Saya pilih selesaikan program.

Tiba di Jawa pada 10 Maret 1998, ketika berbagai demontrasi mahasiswa sedang ramai melawan rezim Presiden Soeharto di Jakarta.

Yang membuat saya menjadi pejuang adalah saya mengalami, menyaksikan sendiri, merasakan dan mendengar banyak cerita lewat keluarga, teman maupun radio tentang perlakuan semena-mena pemerintah Indonesia, dan aparatnya, terhadap orang Papua, pewaris dan pemilik tanah Papua karena takut orang Papua menuntut haknya sebagai suatu bangsa yang pernah merdeka dari 1 Desember 1961 hingga 1 Mei 1963. 

Jadi orang Papua diintimidasi, diteror, dirampas haknya, dirampok, dibegal, dijambret, ditodong, diperkosa, digagahi, dianiaya tanpa hak membela diri, di-separatis-kan, di-opm-kan, dimakarkan, di-gpk-kan, di-otk-kan, diperbudak, dibodohi, dihina, diculik, dipenjarakan, dibunuh terang-terangan atau diam.

Banyak orang Indonesia, pendatang di Papua, menutup hidung kalau orang Papua lewat di depannya lalu membuang ludah atau kalau orang Papua duduk di dekatnya, dia akan menutup hidung dan pindah tempat serta sikap-sikap lainnya. Ini menjadikan orang Papua bahan olok-olok, tertawaan, dalam segala segi dan aspek kehidupan.

Dalam status saya sebagai anak bupati, batin saya menjerit melihat semua perlakuan tsb.

Termasuk penghilangan secara paksa dan pengingkaran sejarah bangsa Papua, seakan-akan bangsa Papua tidak pernah ada, bangsa Papua baru ada setelah adanya komando Trikora. Semua dokumen-dokumen tentang Papua dibakar, dimusnahkan dari berbagai kantor pemerintah, perpustakaan, sekolah dsb. Hak bicara dibungkam.

Selama 11 bulan pendidikan di Manila, saya melihat dan mengalami perlakuan dan penghargaan terhadap nilai hak asasi manusia.

Tiba di Jayapura, 22 Maret 1998, saya hanya sempat aktif bekerja tiga bulan seperempat. Saya menunggu seseorang yang akan berjuang untuk orang Papua. Saya melihat, pada umumnya, orang Papua terdidik hanya mencari amannya saja meskipun melihat dan mengalami semua ketidakadilan itu. Mereka menunggu seseorang.

Akhirnya saya mengambil keputusan action. Bila memang tidak ada lagi orang Papua terdidik yang bisa diharapkan? Mau tunggu siapa lagi?

Kemudian saya berdoa mengharapkan kekuatan dan keberanian dari Raja Jesus Kristus. Dan saya mulai action.

Maka tanggal 1 Juli 1998 di Biak, saya memulai persiapan dan tanggal 2 Juli 1998, sekitar pukul 2.30 mengibarkan bendera Morning Star di tower air Biak dengan aksi non-kekerasan. Pada 6 Juli 1998 sekitar pukul 4.00, kami diserang oleh gabungan TNI dan Polri termasuk Marinir TNI AL, Paskhas TNI AU, pasukan BKO TNI AD Patimura (Ambon) dan batalyon Hasanuddin (Makassar) di Biak plus pasukan Korem dan Kodim. Saya perkirakan 500 orang lebih dibunuh tapi sampai sekarang  pemerintah menutupi kasus Biak Berdarah dan tak pernah pelaku pelanggaran HAM diproses.

Mereka termasuk Bupati Amandus Mansnembra, Kapolres Johnny Rory, Kasat Reskrim Wishnu Hermawan, Danlanal Lt. Kol. Yoppy Ruhupati, Kasrem Lt. Kol. Armen Tony, Kasdim Ali Bogra dll.

Saya ditembak di kedua kaki, divonis penjara enam bulan lalu “diculik” dari penjara Biak pada 6 Februari 1999 pukul 1.00 dini hari dan dikirim pakai pesawat Hercules TNI AU yang dicarter Rp 24 juta oleh Bupati Sroyer dan Sekda Martinus Howay ke penjara Abepura.

Pada 23 Desember 1999, saya mendapat abolisi dari Presiden Gus Dur.

Setelah Theys Eluay dibunuh oleh Kopassus pada 10 November 2001, semua orang Papua ketakutan. Saya muncul lagi untuk bantu mengorganisir demonstrasi-demonstrasi guna membangkitkan kembali semangat dan keberanian orang Papua menuntut dan memperjuangkan haknya. Ini saya lakukan hingga saya ditangkap dalam aksi damai pengibaran Morning Star pada 1 Desember 2004 dan divonis 15 tahun penjara.

Apa yang ingin dicapai dari perjuangan ini?

Bangsa dan rakyat Papua ingin merdeka dan berdaulat penuh di atas tanahnya sendiri melalui proses yang damai dan demokratis serta mempunyai pemerintahan sendiri yang sosialis dan demokratis sehingga bangsa Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia.