Made Ali

Aku. Buku. Perlawanan!

Month: Januari, 2012

Bertemu Kawan “Lama”

Hendak cari bahan soal hutan Riau di empat flashdisc berbeda milik saya, terbuka sebuah folder saat saya masih di Pers Mahasiswa Bahana Universitas Riau, sekira setahun lalu. Maret 2011, hari terakhir saya mengabdi pada Bahana.

Saya jumpa salah satu tulisan bertajuk Bertemu Kawan “Lama”.  Baca entri selengkapnya »

Iklan

TP2SK Gugat Menhut RI dan Bupati Pelalawan

Press Release

Pelalawan, Rabu 25 Januari 2012.

 

Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Terkait Terbitnya SK Menteri Kehutanan Nomor: 327 Tahun 2009 di wilayah Teluk Meranti, Pelalawan terhadap Menteri Kehutanan dan Bupati Pelalawan

 

PASCA SIDANG MEDIASI di Pengadilan Negeri Pelalawan pada 9 Januari 2012 tak menemukan kata sepakat, maka sidang lanjutan gugatan Citizen Law Suit yang diajukan Penggugat tim TP2SK terhadap Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan Menteri Kehutanan (Tergugat I) dan Bupati Pelalawan (Tergugat II) atas terbitnya SK Menhut Nomor 327 tahun 2009 akan kembali digelar pada Rabu 25 Januari 2012, pukul 10.00 di Pengadilan Negeri Pelalawan. Agenda sidang jawaban dari Tergugat I dan II atas gugatan yang telah diajukan Penggugat. Baca entri selengkapnya »

Bapak Sastera Melayu Baru

Pembaharuan dibawa Munshi  Abdullah dalam Persuratan Melayu

JIKALAU menghalusi isi karangan Abdullah seperti Hikayat Abdullah dan Kesah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munshi  dari Singapura ke Kelantan, nyatalah gaya bahasa yang digunakan Abdullah masih tidak banyak bezanya dengan gaya bahasa melayu klasik, hanya jalan bahasanya saja kadang kurang terpelihara. Barangkali asuhan guru-gurunya kebanyakan bukan orang melayu asli, dan pengaruh kitab-kitab dan hikayat dalam bahasa melayu yang dibacanya semasa muda. Baca entri selengkapnya »

Munshi Abdullah

Munshi Abdullah lahir dan menjadi sewaktu Melaka diduduki Inggris. Pada 1810, ia sudah mahir ketiga bahasa itu saat usia 14 tahun. Lihat Melaka.

Saat Raffles sibuk buat rancangan hendak serang Pulau Jawa, Raffles mengambil Munshi bekerja sebagai juru tulis. Sejak 1815 Munshi Abdullah belajar bahasa Inggris pada Rev. William Milne. Sebaliknya, Milne, Rev. C.H Thomsen dan kawan-kawannya belajar bahasa Melayu pada Munshi.

Abdullah juga bantu mereka terjemahkan sebagian kitab injil, beberapa risalah tentang agama Kristen, ilmu hisab dan lainnya.

Saat Melaka dikembalikan pada Belanda pada 1818, Abdullah bersusah hati karena tak mengerti bahasa Belanda. Sekira Juli 1819, ia mengembara ke Singapura dengan Thomsen, ia kerap pulang ke Melaka mengunjungi istrinya. Setelah istrinya meninggal pada 1840 di Melaka, barulah ia menetap di Singapura dengan membawa anak-anaknya. Baca entri selengkapnya »

Dewan Penista Rakyat

Dewan Penista Rakyat!! by Andreas Iswinarto

KAMIS PAGI, 19 Januari 2012, Andreas Iswinarto dari Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit membuat ilustrasi Dewan Penista Rakya! terkait konflik warga Pulau Padang dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Ia menulis di akun Facebook miliknya, “hormat saya untuk rakyat pulau padang baik di kampung maupun yang teguh bertahan menduduki pintu gerbang dpr yang berjuang menjaga pulaunya dari perampasan tanah dan penghancuran lingkungan oleh PT RAPP.” Baca entri selengkapnya »

riau corruption trial

SEBELUM PUKUL 10.00, Ruang Cakra Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Riau masih sepi. Agenda sidang pagi itu, Putusan Sela Majelis Hakim Tipikor terdakwa Syuhada Tasman, mantan Kepala Dinas Kehutanan Propinsi. Ini sidang keempat. Baca entri selengkapnya »

Siantar

 
SENIN 2 JANUARI 2012. Dari pagi hingga siang hari kami jalan-jalan seputaran kota Medan sebelum ke Siantar. Keliling naik becak motor, salah satu alternatif paling cepat mau sampai tujuan, selain angkot. Hanya saja harus pandai-pandai menawar, harga standar jarak dekat lima ribu rupiah, jauh sekira sepuluh ribu rupiah.

Macet jadi pemandangan biasa di Medan, maklum ini kota ketiga terbesar di Indonesia. Tiap kali saya ke Medan, sulit rasanya bernapas. Udara pembuangan dari knalpot kendaraan jadi teman bernapas.

Kami putuskan ke sebuah mal. Fika hendak belanja beli oleh-oleh untuk mamanya. Aku sih ikut saja. Kami muter-muter. Wah, itu dia, kesukaan kaum perempuan, bila sudah berada dalam mal: diskon. Ia persis berada di lantai bawah.

Kecapean menunggu Fika belanja, Fika menyuruh saya menunggu di Kedai Kopi Massa Kok Tong. Saya baru sadar, di lantai yang sama ada kedai kopi.

Ramai sekali orang dalam kedai kopi ini. Hampir semua pengunjung pagi itu orang Tionghoa. Saya pesan segelas kopi dan roti kering cakue. Menunya macam-macam semua dari olahan kopi. Saya baca di tempat tissue tertulis: Kopi Kok Tong since 1925. Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: