Medan di Penghujung Tahun

by Madeali


# I

Penghujung tahun 2011, sekira lima jam pergantian tahun. Saya dalam bus ac-toilet Makmur menuju Medan. Sehari sebelumnya saya beli tiket seharga Rp 160 ribu, naik dua puluh ribu dari harga biasanya. Saya diminta hadir sebelum pukul 19.00 di terminal AKAP Pekanbaru. Setengah jam sebelum berangkat saya sudah di sana.

Terminal AKAP Payung Sekaki atau Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (TBRPS), terminal besar di Pekanbaru. Terminal ini dibangun menggantikan Terminal Mayang Terurai di Jalan Nangka (Tuanku Tambusai) tepat di pusat kota. Terminal Bandar Raya Payung Sekaki melayani trayek dari Riau menuju Sumatera Utara, Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Pulau Jawa, dan daerah lain di Pulau Sumatera (wikipedia) .

Bus meluncur di kegelapan malam. Orang macam saya, yang percaya harapan, malam penghujung tahun ini memang berharap. Sesuatu yang baik di tahun 2012, jadi pilihan.

Bus berhenti di satu tempat untuk ambil penumpang. Bus VIP begini mustinya tidak sembarang berhenti ambil penumpang.

Saya tertidur hingga pagi hari. Saya tak merasakan tahun baruan. Jalanan hingga di Serdang Bedagai sepi, biasanya pagi beginian jalanan ini macet. Pukul 08 pagi tiba di Medan. Biasanya tiba pukul 10.00. Dari terminal Amplas saya meluncur ke Lapangan Merdeka, persis tengah kota Medan.

Minggu pagi, ramai warga Medan berolahraga. Ada sekumpulan warga mengayuh sepeda bergerombol. Ada yang jogging. Saya melihat mereka sambil menikmati sepiring Nasi Gurih lauk Kikil gulai dan segelas air hangat.

Udara medan pagi ini agak bersih. Sambil menunggu Fika dalam perjalanan naik “Taksi” dari Siantar, saya datangi Pasar Buku Lapangan Merdeka. Ia persis berhadapan dengan Terminal Kereta Api Medan.

Ada puluhan kios-kios kecil untuk menjajalkan buku. Belum pada buka, hanya tiga kios yang buku. Semua buku yang dijual buku loakan, alias buku bekas, buku lama. Dari tiga kios itu, rata-rata menjual buku teksbook mata pelajaran dan mata kuliah.

Saya cari buku sejarah medan atau sejarah sumatera. Nah, setelah cari sana-sini, akhirnya saya jumpa juga potongan buku cerita soal sejarah melayu. Judulnya: Ikhtisar Sejarah Kesusasteraan Melayu Baru 1830-1945, terbit tahun 1966 oleh Penerbit Pustaka Antara Kuala Lumpur. Penulisnya Drs Li Chuan Siu, Pensharah jurusan bahasa dan sastera Melayu di University Sydney. Tebal 246 halaman. Harganya Rp 15 ribu.

Sekilas saya buka, buku ini juga cerita soal Munshi Abdullah. Bahasanya: melayu lama. Bukan macam melayu Indonesia.

Perjalanan kali ini tak sia-sia.

Tak lama Fika pun datang. Ia cantik sekali: mengenakan jilbab dan seksi. “Kau selalu cantik di mata ku.”