Melaka

by Madeali


#2

Zaman Peralihan.

Sambil menikmati segelas kopi di sekretariat Jikalahari, Ahad 15 Januari 2012. Saya menulis kembali buku Ikhtisar Sejarah Kesusasteraan Melayu Baru 1830-1945 karya Li Chuan Siu.

Selain soal sastra melayu, Li Chuan Siu juga menceritakan sekilas sejarah melayu. Itu yang menarik bagi saya. Ikhtisar ini memberi sedikit pemahaman bagaimana kondisi sosial dan politik di masa melayu dijajah oleh kolonialis.

Saya juga senang, punya kesempatan membaca bahasa melayu lama. Buku ini juga kaya referensi soal sejarah dan sastera. Li Chuan Siu menulis.

Sekira akhir kurun ke-13, seorang raja Melayu dari Palembang bernama Parameswara melarikan diri dengan para pengiringnya dari Temasek ke Muar kerana diserang tentera Siam. Parameswara membuat negeri di Melaka. Mengikuti hasil penyelidikan ahli-ahli sejarah, baginda bertakhta di Melaka sekira tahun 1400 hingga 1424 Masehi.

Pada 1403 di Tiongkok terjadi kerusohan dalam kalangan keluarga kaisar Wangsa Ming (1368-1643). Pakcik kaisar itu bernama Raja Yen di Peking menggerakkan tenteranya ke selatan dan dapan menduduki ibu negeri kerajaan Wangsa Ming di Nanking. Kaisar Huey hilang dari istana. Ada orang mengatakan baginda telah dibunuh, ada pula bilang kaisar telah lari ke Asia Tenggara.

Raja Yen berkuasa menggantikan Kaisar Huey mengirim utusan ke negeri Asia Tenggara untuk melakukan penyelidikan secara rahasia mencari Kaisar Huey. Tapi mungkin juga kaisar baru itu bermaksud hendak meneruskan siasat perluasan pengaruh Tiongkok keluar negeri seperti pernah dilakukan kerajaan Tatar, dalam sejarah Tiongkok terkenal dengan nama Wangsa Yuan (1297-1367).

Oktober 1403 utusan Tiongkok bernama Yin Ch’ing berkunjung ke Melaka dan diterima sebagai tamu agung oleh Raja Parameswara. Untuk menghindar diserang negeri Siam, Parameswara mengadakan hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Awalnya Parameswara mengirim utusan ke Nangking. September 1405 Parameswara berkunjung ke Nangking.

Ia diterima kaisar Ch’eng tze (nama raja Yen setelah menjadi kaisar). Raja Parameswara diakui kerajaan Wangsa Ming sebagai raja di Melaka. Ia diberi hadiah berupa cap tanda kerajaan melaka, pakaian kebesaran, payung kuning kebesaran dan lainnya.

Pada 1408 duta Tiongkok, Laksamana Cheng Ho dan San Pau Kong berkunjung ke Asia Tenggara dan singgah di Melaka.

Pada 1411 Raja Parameswara bersama istri dan 540 pengiring berkunjung kembali ke Nangking.

Parameswara mangkat pada 1424, keturunan Parameswara yang menjadi raja meneruskan hubungan baik dengan Wangsa Ming. Tapi, setelah 1430 hubungan Melaka dan kerajaan Wang Sa Ming tidak seerat Raja Parameswara, meski tak diputuskan begitu saja.

 

NEGERI MELAKA kian berkembang hingga menjadi pusat perniagaan internasional di Asia Tenggara. Banyak orang India beragama islam datang berniaga dan menetap. Mereka dapat memujuk raja dan bangsawan Melayu menganut agama Islam. Orang-orang India berpengaruh mengadakan pertalian perkawinan dengan bangsawan melayu, sehingga kebudayaan india yang mewah diperkenalkan juga kepada raja dan bangsawan Melayu.

Kerajaan Melaka hanya berumur setidaknya 111 tahun (1400-1511). Selama masa tak panjang itu, hampir semua raja-raja Melayu di sekitar Melaka seperti Pahang, Siak, Kampar, Inderagiri, Jambi dan lainnya, kecuali Acheh, takluk di bawah perintah Sultan Melaka. Melaka diserang Portugis secara besar-besaran pada 1511. Sultan Mahmud Sah, raja Melaka ke-7 terpaksa undur ke pedalaman.

Portugis memerintah Melaka selama 130 tahun (1511-1641) dengan susah payah, sebab selain berperang dengan raja-raja melayu, Jawa dan Acheh, bersaing juga dengan Belanda.

Setelah dikepung selama lima bulan lebih oleh angkatan perang Belanda dan kerajaan Johor, jatuhlah bandar Melaka ke tangan Belanda pada 14 Januari 1641.

Orang Inggris tak mau ketinggalan. Pada 1786 Captain Francis Light atas persetujuan sultan Kedah mula membuka negeri di Pulau Pinang. Sembilan tahun kemudian, orang Inggris menduduki Melaka tanpa perang dengan Belanda karena keadaan politik di Eropa (revolusi Perancis dan perang Napoleon).

Pada 1811 pulau Jawa yang dijajah Belanda pun diserang dan diduduki Inggris. Sir Stamford Raffles dijadikan Lieutenant-General di pulau Jawa hingga permulaan 1816. Setelah perdamaian di Eropa, pada 1816 pulau Jawa dikembalikan ke Belanda. Bandar Melaka pun dikembalikan ke Belanda pada 1818.

Untuk memperoleh pangkalan baru dan bersaing dengan Belanda, pada 28 Januari 1819 Rafless membuat negeri di pulau Singapura dengan persetujuan Sultan Husain Shah dan Temenggong Abdul Rahman.

Belanda marah dan protes pada Inggris, kedudukan Inggris agak terancam. Lantas Inggris dan Belanda membuat persetujuan di London pada Maret 1824. Gubernur Inggris di Singapura John Crawfurd berhasil memujuk sultan dan temenggong menyerahkan Singapura menjadi jajahan dan milik Inggris sejak Agustus 1824.

Sejak itu kedudukan Inggris kuat. Menurut Persetujuan London atau traktat London: jajahan Inggris di Bengkulu (Sumatera Selatan) diserahkan ke Belanda. Sebagai gantinya Bandar Melaka milik Inggris. Sejak 1824 Inggris memusatkan kekuasaannya di negeri selat (Singapura, Melaka dan Pulau Pinang. Lantas mengarahkan siasat penjajahannya ke negeri kesultanan di semenanjung tanah Melayu.

 

DALAM MASA PANCAROBA itu, Abdullah Bin Abdul Kadir Munshi, keturunan Arab atau Keling lahir di Melaka sekira tahun 1796 menjadi besar dan menerima pelajaran Arab, Tamil dan Melayu di bandar itu.

Bagaimana Abdullah Bin Abdul Kadir Munshi membawa pembaharuan dalam sastera melayu dan menjadi mengkritik orang-orang melayu?

 

Tak sadar, kopi ku tak sampai seteguk. Ku teguk, tinggal ampas kopi. Kopi pun ludes. Hari telah pon senja.

Lain kali, bila ada waktu, saya sambung lagi.