Siantar

by Madeali


 
SENIN 2 JANUARI 2012. Dari pagi hingga siang hari kami jalan-jalan seputaran kota Medan sebelum ke Siantar. Keliling naik becak motor, salah satu alternatif paling cepat mau sampai tujuan, selain angkot. Hanya saja harus pandai-pandai menawar, harga standar jarak dekat lima ribu rupiah, jauh sekira sepuluh ribu rupiah.

Macet jadi pemandangan biasa di Medan, maklum ini kota ketiga terbesar di Indonesia. Tiap kali saya ke Medan, sulit rasanya bernapas. Udara pembuangan dari knalpot kendaraan jadi teman bernapas.

Kami putuskan ke sebuah mal. Fika hendak belanja beli oleh-oleh untuk mamanya. Aku sih ikut saja. Kami muter-muter. Wah, itu dia, kesukaan kaum perempuan, bila sudah berada dalam mal: diskon. Ia persis berada di lantai bawah.

Kecapean menunggu Fika belanja, Fika menyuruh saya menunggu di Kedai Kopi Massa Kok Tong. Saya baru sadar, di lantai yang sama ada kedai kopi.

Ramai sekali orang dalam kedai kopi ini. Hampir semua pengunjung pagi itu orang Tionghoa. Saya pesan segelas kopi dan roti kering cakue. Menunya macam-macam semua dari olahan kopi. Saya baca di tempat tissue tertulis: Kopi Kok Tong since 1925.
Rasa kopinya saya sudah tahu: tak kental, agak pekat, agak pahit. Di Pekanbaru, Kopi Kok Tong di daerah Jalan Riau.

Saya jadi teringat kopi Kimteng Pekanbaru. Selain Kimteng, di Pekanbaru banyak sekali kedai kopi.

Rasanya nikmat sekali. Capek saya terasa hilang. Sembari saya kembali membuka lembaran buku Ikhtisar Sejarah Kesusasteraan Melayu Baru 1830-1945.

Fika sempat menikmati kopi tersebut. Ia agak kepahitan. Dia beli baju untuk Papa, Mama, Abang dan Adiknya. Fika baik sekali dan saying keluarga. Kadang saya iri lihat kebahagiaan keluarga mereka.

Kami naik bus Intra dari terminal Amplas menuju Pematang Siantar. Bus kelas ekonomi harganya Rp 17 ribu. Panas, ragam bau, berhenti mendadak ambil penumpang. Bus sudah penuh sesak, masih juga menambah penumpang, melebihi kapasitas bus. Saya kerap naik bus ekonomi, satu-satunya yang saya takuti adalah pencuri. Biasanya kami naik kelas ac, karena lama menunggu, bus ekonomi jadi pilihan.

Saya sempat berpikir, andai saja ada presiden Indonesia yang mau duduk selama 4 jam dalam kelas ekonomi, merasakan nasib orang-orang yang hanya sanggup naik kelas ekonomi, pastilah kebijakan transportasi di Indonesia tak separah ini.

Negara maju macam Australia, transportasi publik mereka bagus sekali. Harga murah, tidak peduli kaya miskin, semua bisa menikmati. Tak perlu berdesakan, kapasitasn bus tak lebihi daya tampung bus. Tidak khawatir pencuri. Kenapa Negara kita tak mencontoh macam itu?

Kami tiba petang hari. Malam ini hingga tiga hari ke depan saya akan di rumah Fika. Malam hari saya langsung ke tempat makan favorit saya: Roti Canai milik Badal saya kerap menyebutnya Canai Badal. Badal keturunan India. Martabak telor dan Roti canainya terkenal sekali di Siantar. kesukaan saya: canai kari kambing. Kadang bisa pesan double. Enak sekali.

Saya diajak Fika keliling Siantar, juga ke taman kota. Saya menikmati kota ini: udaranya masih dingin, bernapas pun tidak sesak macam kota Medan. Salah satu keunikan kota ini alat transportasi salah satunya becak motor harley. Itu loh motor Harley yang dipake zaman perang dunia pertama.

Pabrik rokok, sawit dan karet jadi andalan kota ini. Namun, perkebunan sawit dominan di kota ini. Suku Jawa, Tiongha dan Batak adalah penghuni utama kota ini.

Sehari sebelum pulang, orang tua Fika ajak saya jalan-jalan. Kebiasaan weekend salah kegiatan keluarga ini. Kami ke sebuah tempat makan di Batu Bara, dua jam dari Siantar.

Nama tempatnya RM 100. Tempatnya luas. Ada bale-bale atau macam pondokan, juga ada sungai kecil jadi tempat pemandangan, di seberang tempat kami duduk ada tempat permainan. Restoran ini juga menjual macam-macam bunga. Ayah Fika yang suka berkebun menikmati dan taka asing dengan nama-nama bunga tersebut.

Malam hari kami kembali pulang ke rumah. Sepanjang jalan saya kami cerita soal korupsi, konflik lahan di Sumatera. Sepanjang jalan dari Batu bara lewati Perdagangan, ayah Fika cerita. Dia bilang, aspal jalan Lintas Timur dari Pekanbaru ke Sumatera Utara dibuat tahun 1977. Ayah Fika lahir dan besar di daerah Perdagangan. Kontraktornya orang Korea. Sejak jalan beraspal, pada 1980an, jalur ini mulai ramai. Saya menikmati malam itu, terutama kebaikan orang tua Fika.

Roti ganda selalu jadi oleh-oleh bila kembali ke Pekanbaru. Ini roti satu-satunya di Indonesia. Mereka tak buka cabang.

Sebelum pulang saya kembali santap roti canai dan martabak Badal senja itu. Malam itu, saya kembali ke Pekanbaru.

Senang, suka, canda, jahil dan sering cekcok hal yang tak bisa saya lupakan saat bersama Fika. Saya kira, sejak pacaran Februari 2005, Fika tak pernah berubah.