riau corruption trial

by Madeali


SEBELUM PUKUL 10.00, Ruang Cakra Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Riau masih sepi. Agenda sidang pagi itu, Putusan Sela Majelis Hakim Tipikor terdakwa Syuhada Tasman, mantan Kepala Dinas Kehutanan Propinsi. Ini sidang keempat.

Senin, 16 Januari 2012, tim pemantau sidang KPK kerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Riau terdiri atas mahasiswa sudah duluan memasang lima kamera gantung.

Tim riau corruption trial (rct) mulai datang. Dalam ruang sidang, Saya dan Aang Ananda dari Forum Pers Mahasiswa Riau memasang kamera rekam camecorder gunakan tripod.

Saya lihat, baru satu Jaksa KPK hadir. Ia sibuk bermobile. Namanya Ronald F. Worotikan, SH, MH, salah satu dari enam Jaksa KPK. Hari ini ia sendirian hadir, “Hemat anggaran. Kan Cuma Putusan Sela,” katanya. Saya juga tanya kapan sidang banding terpidana Arwin As?  “Kami belum dapat memori banding dari Pengacara bersangkutan.”

Terpidana Arwin As, eks Bupati Kabupaten Siak, divonis 4 tahun penjara oleh Hakim Tipikor pada 22 Desember 2011. Saat itu, tim Pengacara Arwin bilang pikir-pikir untuk banding. Beberapa hari kemudian mereka nyatakan banding.

Saya dan Aang sarapan di kantin Pengadilan. Lovina jaga peralatan sambil membaca sebuah buku. Tepat pukul 10.00 Lovina sms Aang, sidang sudah mulai. Kami bergegas.

Aang rekam dan memotret. Lovina dari lookriau.com siap-siap tweet gunakan mobile. Saya dari Jikalahari duduk pada bangku pengunjung, mencatat proses sidang. Tak lama, Gurindam 12 hadir membawa kamera rekam.

Tim rct mulai bekerja: merekam, memotret, tweet dan mencatat selama proses sidang berlangsung.

Hakim: Pasti Tarigan, SH, MH , I.B. Dwi Yantara, SH, MH dan Agus SH, MH. by rct

Saya hadir saat Hakim ketua I.B. Dwi Yantara, SH, MH didampingi Pasti Tarigan, SH, MH (keduanya hakim karir dan Agus SH, MH (Hakim ad hoc) membacakan petikan Putusan Sela. Lantas Hakim Ketua serahkan ke Hakim Pasti Tarigan lanjut bacakan petikan. Setidaknya, ada 31 pengunjung hadir. kebanyakan keluarga Syuhada. Hakim Tarigan bacakan putusannya:

Keberatan Penasehat Hukum tidak dapat diterima. Surat Dakwaan PU sudah jelas menyebut tempus dan locus delicti. Majelis hakim menilai dan mengadili Keberatan atau Eksepsi Penasehat Hukum terdakwa tidak dapat diterima. Pemeriksaan Saksi harus dilanjutkan. Biaya perkara diperhitungkan sampai putusan akhir.

Sidang lanjut pada Selasa 24 Januari 2012 pagi. Agenda pemeriksaan saksi. Jaksa KPK akan hadirkan empat saksi. Sidang selesai. Putusan Sela tak sampai satu jam.

Dua hari berikutnya, rct publish rangkuman tulisan plus video sidang di www.riaucorruptiontrial.wordpress.com.

RCT DIBENTUK pada 9 Agustus 2011. Kebetulan barengan hari jadi Riau ke-54 tahun. Ada empat lembaga pengasuh; Forum Pers Mahasiswa (Fopersma) Riau, Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), www.Gurindam 12.com, dan www.lookriau.com.

Saat itu, KPK menahan terpidana Arwin AS. Kabar tersiar di media lokal, ia akan di sidang pada 11 Agustus 2011. Lantas terbersit ide memantau sidang Arwin. Ini sidang korupsi kehutanan perdana di Riau.

Lantas sepakat kumpul di sekretariat Jikalahari. Ada Aang Ananda Suherman, Puput Jumantirawan, Hasnah Latifah (Fopersma Riau), Lovina (lookriau.com), Shodik Purnomo (Gurindam 12), Made Ali, Muslim (Jikalahari). Ada banyak nama waktu, ide Riau Corruption Trial datang dari Muslim. Ia tak hanya pantau korupsi kehutanan, juga korupsi yang skala besar di Riau. Semua sepakat.

Pembagian tugas dibuat. Fopersma dan lookriau.com kebagian rekam video, tweet, dan rangkuman sidang. Gurindam 12 kebagian rekam dan editing video, Jikalahari kebagian editing tulisan dan analisis.

Ide memantau sidang terinspirasi dari cikeusiktrial. Aang dan Lovina pernah ikut tim itu memantau sidang di Serang, Banten pada bulan Juli. Aang dan Lovina cerita secara tekhnis cara kerja dan pembagian tugas.

Bermodal semangat, tim terbentuk. Tanpa digaji, hanya kerja sukarela. Rct mulai action saat sidang perdana terpidana Arwin AS hingga saat ini. Selama sidang terpidana Arwin As hingga putusan, 19 kali rct memantau. Kini, sidang Syuhada Tasman. Rct hampir enam bulan memantau sidang korupsi kehutanan.

Sehari sebelum putusan terpidana Arwin AS, tim rct taja diskusi korupsi kehutanan Mendedah Pra Putusan Arwin. Donal Fariz dari Indonesian Corruption Watch (ICW) dan aktifis lingkungan di Riau hadir waktu itu member masukan dan mendedah putusan Arwin.

Seterusnya, setelah putusan Arwin, rct lakukan up grading. Kami mengundang Ali Husin Nasution dari Kantor Bantuan Hukum Riau untuk bicara bagamana beracara di Pengadilan dan memahami KUHAP serta pemahaman soal korupsi kehutanan, Muslim dari Jikalahari bicara soal bagaimana proses IUPHHK HT dan modus pelanggaran kerap dilakukan perusahaan. Artinya kami terus belajar, belajar dan belajar untuk melawan kejahatan luar biasa: perusakan hutan, lingkungan dan korupsi.

Aang Ananda Suherman didaulat menjadi koordinator rct. Hisham dari Gurindam 12 bertangjungjawab video. Lovina ngurusi tweet dan facebook alias social media. Made ali ngurusi soal editing dan analisis. Ali Husein Nasution dari Kantor Bantuan Hukum jadi tim ahli hukum, Muslim jadi tim ahli analisis terkait lingkungan dan kehutanan.

Kejahatan kehutanan dan korupsi kehutanan adalah kejahatan luar biasa. Ia harus dilawan. Setidaknya langkah kecil rct, bisa membantu menyelamatkan sisa hutan di Riau. #