Munshi Abdullah

by Madeali


Munshi Abdullah lahir dan menjadi sewaktu Melaka diduduki Inggris. Pada 1810, ia sudah mahir ketiga bahasa itu saat usia 14 tahun. Lihat Melaka.

Saat Raffles sibuk buat rancangan hendak serang Pulau Jawa, Raffles mengambil Munshi bekerja sebagai juru tulis. Sejak 1815 Munshi Abdullah belajar bahasa Inggris pada Rev. William Milne. Sebaliknya, Milne, Rev. C.H Thomsen dan kawan-kawannya belajar bahasa Melayu pada Munshi.

Abdullah juga bantu mereka terjemahkan sebagian kitab injil, beberapa risalah tentang agama Kristen, ilmu hisab dan lainnya.

Saat Melaka dikembalikan pada Belanda pada 1818, Abdullah bersusah hati karena tak mengerti bahasa Belanda. Sekira Juli 1819, ia mengembara ke Singapura dengan Thomsen, ia kerap pulang ke Melaka mengunjungi istrinya. Setelah istrinya meninggal pada 1840 di Melaka, barulah ia menetap di Singapura dengan membawa anak-anaknya.
Pada 1837 ia pernah berlayar ke Pahang, Terengganu dan Kelantan. Dalam tahun 1954 ia naik haji ke Mekah, saat tiba di Jedah ia terserang penyakit dan meninggal di sana.

Zaman hidup Munshi Abdulllah merupakan era peralihan: zaman penuh pergolakan dan kerusuhan, tapi membawa kegiatan-kegiatan dan kemajuan sehingga penting sekali dalam sejarah Asia Tenggara, termasuk Malaya.

R.A Datoek Besar dan Dr R.Roolvink mengatakan: “Abdullah seolah-olah hidup pada batas atau pada antara dua dunia: dibelakangnya terletak masa keruntuhan masyarakat dan negeri melayu, yaitu suatu perkembangan peristiwa yang masih berlaku selanjutnya dalam zamannya. Di hadapannya, terdapat masa yang memperlihatkan bahwa pengaruh barat serta turut campurnya itu dalam soal pemeerintahan senantiasa akan berkembang dengan cara yang lebih keras….”

Mengapa Munshi Abdullah memihak Inggris?

Secara garis besar, zaman peralihan itu, zaman perkembangan penjajajan Inggris di negeri Selat dan zaman Inggris hendak turut campur dalam hal pentadbiran di negeri-negeri kesultanan di Semenanjung Tanah Melayu. Abdullah terbentuk dalam suasana penjajahan itu.

Sebagai seorang peranakan Arab/Keling, seolah-olah ia tak punya tanah air. Nenek moyangnya dikenal sebagai orang berpelajaran dalam bidang agama dan bahasa.

Setelah Raffles pergi ke Pulau Jawa, Abdullah selalu bergaul dengan orang-orang Inggris, umumnya terpelajar dan berkhidmat pada pemerintahan penjajah atau perkumpulan penyebar agama Kristen.

Oleh sebab itu, terbukalah pikiran Munshi Abdullah pada hal-hal baru dari peradaban barat, khasnya hal-hal cara orang-orang Inggris memerintah, cara pelajaran tekhnik barat, ketulusan hati orang-orang putih terhadap agama Kristen, sifat praktis orang-orang Inggris dan lain-lain lagi.

Zaman itu, raja-raja dan bangsawan melayu masih mempertahankan kuat kekolotan sehingga ketinggalan zaman dan hampir sama sekali tidak punya kekuasaan politik yang berarti dan sudah lemah kedudukannya dalam bidang iktisad.
Mereka sudah tak punya angkatan perang teratur, pengetahuan yang cukup dan kemauan kuat menghadapi perubahan besar yang dibawa penjajah. Pendirian mereka terhadap perkara politik dan kebudayaan tidak tentu dan agaknya sudah tak punya kebulatan hati untuk memulihkan kejayaan kerajaan melayu pernah memancarkan sinar gilang gemilang pada 1400-1511, bahkan diantara mereka itu banyak pula yang menimbulkan perang saudara karena berebut kekuasaan.

Rakyat Melayu karena pengaruh Islam selalu berpegang pada semangat adat melayu pantang durhaka pada sultan. Rela hidup miskin dan kurang berusaha karena akibat kezaliman dan aniaya dari system pemerintahan sewenang-wenang raja dan orang besar melayu. Rakyat menjadi bodoh karena tidak berpelajaran (zaman itu hanya ada sekolah agama model kuno, dan itu sangat sedikit jumlahnya).

Berbilang bangsa dagang datang berniaga dan diantara mereka menetap di Bandar-bandar besar. Mereka itu berasal dari tanah air berbeza-beza, sejarah dan kebudayaannya pun beraneka warna. Saat itu, bukan saja paham bagi peranakan untuk bergabung sebagai warga Negara yang sama dengan kaum asli belum ada. Bahkan paham kebangsaan bagi bumiputera hanya sebatas berbuat bakti pada sultan dan orang-orang besar melayu atau semangat gotong royong di dalam kampong pisang seikat sayur sebelanga, tanda sepakat makan bersama.

Karena keadaan di atas, agaknya tak dapat kita persalahkan Munshi Abdullah secara sadar dan terang-terangan memihak Inggris dan lebih suka hidup di bawah Bendera Inggris.

Ada satu perkara mengagumkan, yaitu sikap terhadap bahasa melayu. Bila kita hendak bicara secara adil bahwa: Munshi Abdullah itu seorang bukan Melayu yang sangat kasih dan saying pada bahasa melayu. Ia kerap katakana pada orang melayu perlu mengkaji bahasa melayu yang betul.

Oleh karena itu, Munshi terbitkan kitab Sejarah Melayu yang dianggapnya sebagai sebuah buku melayu yang termashur dan baik bahasanya. Ia katakan; apabila orang-orang melayu hendak menjadi bangsa besar, tindakan yang perlu lekas-lekas diambil adalah mempelajari dan memelihara baik-baik bahasanya sendiri serta mau menerima perkara-perkara yang baharu supaya bertambah akal dan ilmunya.

Sikap Abdullah itu sesungguhnya menyatakan bahwa dia seorang pencinta dan penganjur bahasa melayu tulen. Jikalau kini masih ada orang melayu mencap Abdullah sebagai pengkhianat berdosa karena berani mendedahkan kezaliman dan aniaya raja-raja dan orang besar melayu kepada orang-orang melayu itu bodoh dan lalai dan lain-lain lagi, maka mengikut pikiran saya, jasa Abdullah Munshi dalam hal memperkatakan keelokan bahasa melayu yang betul dan menganjurkan orang-orang melayu mempelajarinya agar bangsa melayu menjadi besar itu saja sudah cukup untuk menebus dosa-dosanya itu. Alasan saya yang utama:

  • Dalam kesusasteraan melayu daru dulu sampai zaman Abdullah Munshi, mengikut pengetahuan kita sekarang, tidak terdapat apa-apa karangan yang menyinggung soal bahasa melayu.
  •  Generasi-generasi kemudian dari zaman Abdullah Munshi sedikit banyak tentu menjadi sadar akan pentingnya bahasa melayu. Hal ini ditambah dengan kesadaran dalam berbagai bidang dan perkembangan politik akhirnya dapat membawa bahasa melayu pada status mulia, yaitu menjadi bahasa kebangsaan.

Saya lanjutkan cerita Iktisar Sejarah Melayu Kesusasteraan Melayu Baru 1830-1945, bila ada waktu. #