Bapak Sastera Melayu Baru

by Madeali


Pembaharuan dibawa Munshi  Abdullah dalam Persuratan Melayu

JIKALAU menghalusi isi karangan Abdullah seperti Hikayat Abdullah dan Kesah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munshi  dari Singapura ke Kelantan, nyatalah gaya bahasa yang digunakan Abdullah masih tidak banyak bezanya dengan gaya bahasa melayu klasik, hanya jalan bahasanya saja kadang kurang terpelihara. Barangkali asuhan guru-gurunya kebanyakan bukan orang melayu asli, dan pengaruh kitab-kitab dan hikayat dalam bahasa melayu yang dibacanya semasa muda.

Sayang nama kitab dan hikayat itu tak dapat diketahui. Pengaruh ini agaknya sudah meresap ke dalam darah dagingnya sehingga gaya bahasa yang elok dalam kitab Sejarah Melayu yang mungkin dikajinya lebih kemudian daripada sesempurnanya. Jadi teranglah bahwa Munshi Abdullah tak membawa pembaharuan gaya bahasa ke dalam persuratan Melayu.

Dr C Skinner dalam bukunya tertajuk Prosa Melayu Baharu mengatakan gaya bahasa Abdullah termasuk gaya riwayat atau gaya cerita dan bila Abdullah membentangkan nasihatnya, dipakainya gaya khutbah atau gaya wahai pembaca.

Pembaharuan sesungguhnya dibawa Munshi masuk ke dalam kesusasteraan Melayu baru:

Pertama, menciptakan perkataan-perkataan atau ungkapan baru dalam bahasa melayu untuk mencakapkan hal-hal atau benda baru yang timbul karena pertemuan antara budaya timur dan barat. Sebelum Abdullah agaknya tak pernah ada sasterawan melayu yang dapat atau atau mahu berbuat demikian. Ciptaan Abdullah dalam perkara ini memang merupakan contoh bagi pengarang melayu sesudah dia hendak mempercakapkan perkara modern atau baru.

Kedua, dalam karangannya Abdullah kerap melahirkan pendapat terhadap segala yang dilihat, didengar dan dirasanya. Peranannya sebagai pengarang bukan pula bersifat tukang tulis yang harus menuruti kehendak tuannya atau penyewanya, melainkan bersifat pengarang yang berpribadi sendiri dan berjiwa kritis, seolah olah ia memainkan peran sebagai wartawan yang berani membongkar segala rahasia buruk dalam masyarakat melayu agar dapat mendatangkan kesadaran kepada orang ramai.

Ia tak segan-segan mengecam dengan pedas segala penyakit yang merajalela dalam masyarakat melayu. Sasaran khasnya raja-raja dan orang-orang besar atau bangsawan melayu yang tak berpelajaran, rendah akhlaknya dan kejam tingkah lakunya sehingga membawa kemunduran, kebodohan dan kemiskinan kepada orang-orang melayu yang di bawah pentadbirannya. Semangat Abdullah revolusioner itu membawa pembaharuan terhadap peranan pengarang dan kesusasteraan.

Ketiga, baik dalam Kesah Pelayaran maupun dalam Hikayat Abdullah, ia berpendirian seorang anggota masyarakat haruslah seperti raja juga adanya, dengan tiada seorang takut akan seorang. Jangankan orang-orang raja besar, jikalau raja besar itu sekalipun membuat barang apa yang tidak patut, boleh dibawa bicara akan dia. Jikalau ia membunuh orang dengan sewenang-wenang, dapat tiada ia pun dibunuh hukumnya.

Pendirian ini memang memberi nilai baru pada seorang anggota masyarakat atau individu sehingga raja dan rakyat diletakkan pada taraf sama tinggi dan sama rendah. Seakan-akan Abdullah mendukung falsafah melayu yang tersimpan  dalam peribahasanya berbunyi: raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah.
 
Dengan demikian, Abdullah Munshi secara tidak sadar telah menanamkan bench demokrasi lebih kurang pada 120 tahun silam. Sudah barang tentu pendirian yang dibawanya masuk ke dalam persuratan melayu ini merupakan pembaharuan mustahak sekali.

Keempat, setelah Abdullah mempelajari ilmu cetak di Melaka sejak 1817, ia mulai insaf kegunaan alat cetak itu. Sejak itu buku-buku dapat diterbitkan dengan alat cetak yang dibawa Inggris ke Malaya.

Abdullah menerbitkan karya-karya berupa terjemahan, naskah-naskah lama dan karangannya dengan masksud hendak menyebarkan agar bahasa melayu yang elok dan betul yang terdapat dalam Sejarah Melayu dan cerita cerita yang baik dalam Hikayat Kalilah dan Daminah agar memberi kesadaran pada orang-orang melayu.

Karya-karya Munshi Abdullah yang penting:

Karya asli: Shaer Singapura Terbakar (1830), Dawai i-kutub (1838), Kesah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munshi dari Singapura ke Kelantan (2838), Shaer Kampong Gelam Terbakar (1847), Hikayat Abdullah bin Abdul Kadir Munshi (1849), dan Kesah Pelayaran Abdullah ke Negeri jeddah ( tak tamat karena Abdullah meninggal dunia di Jeddah, sekira Oktober 1854).

Terjemahan: Hikayat Pancha Tanderan yang dinamai oleh orang melayu Hikayat Galilah dan Daminah (1838). Terjemahan ini dikerjakan dengan bantuan sahabatnya bernama Tambi Muttu Virabattar yang duduk di Melaka.

Penerbitan naskah-naskah lama: Sejarah Melayu (diterbitkan dengan diberi pengenalan oleh Abdullah, sekira 1830), Kitab adat segala raja-raja melayu dalam segala negeri (1837).

Selain itu, Abdullah juga banyak menyumbangkan pikiran dan tenaga pada usaha-usaha para penyebar agama kristen dalam hal memperbaiki terjemahan kitab injil kedalam hal menterjemahkan buku ilmu hisab, buku bacaan dan buku pengetahuan murid-murid. Ia juga merangkap menjadi penulis atau penerjemah surat-surat perniagaan bagi saudagar asing ke dalam bahasa melayu.

JASA Munshi Abdullah karena membawa pembaharuan dan kemoderan memang tak kecil, sudah kena betul ia diberi gelar Bapak Sastera Melayu Baru. Meski ia itu sesungguhnya bukanlah orang melayu asli, melainkan seorang peranakan arab/keling yang berjiwa melayu revolusioner.

Hakekatnya Munshi Abdullah terlampau mendahului zamannya menjadi sangat terpencil dalam perjuangannya: orang melayu asli pada zaman itu bukan saja tidak mengakuinya sebagai orang melayu, bahkan mencapnya sebagai pengekor Inggris dan menggelarkannya Abdullah Paderi: orang-oranh peranakan arab/keling yang menjadi golongannya sendiri sangat menentang pergaulan dan sikapnya terhadap Inggris. Malahan bapaknya sendiri pernah menyuruhnya berhenti belajar bahasa Inggris.

Orang-orang Inggris meski menghargai kepandaiannya dan kesediaannya mempelajari hal hal baru, namun mereka tidak dapat memasukkan Abdullah ke dalam golongannya karena diantara orang-orang barat dan orang-orang timur terdapat jurang lebar yang memisahkan satu dan lainnya.

Itulah sebabnya dalam sejarah kesusasteraan melayu tidak ada Angkatan Abdullah.