Bertemu Kawan “Lama”

by Madeali


Hendak cari bahan soal hutan Riau di empat flashdisc berbeda milik saya, terbuka sebuah folder saat saya masih di Pers Mahasiswa Bahana Universitas Riau, sekira setahun lalu. Maret 2011, hari terakhir saya mengabdi pada Bahana.

Saya jumpa salah satu tulisan bertajuk Bertemu Kawan “Lama”.  Tulisan di bawah ini, sebuah kerinduan hendak berkumpul sesama wartawan mahasiswa. Fopersma–awalnya bernama VISI ABG, lantas berganti nama jadi Foperma pada 2005–sempat vakum hampir enam tahun.

soalannya sepele: kepengurusan sudah terbentuk, namun tak ada waktu untuk kumpul atau sibuk urus internal pers masing-masing alias krisis kader.

Berikut tulisan hampir dua tahun silam itu:

MARET 2010. Dalam sepekan, Bahana  Mahasiswa Universitas Riau kunjungi rekan-rekan Lembaga Pers Mahasiswa: Visi (Unilak) pada  Ahad 21 Maret, Aklamasi (UIR) pada  Selasa 23 Maret, dan Gagasan (Uin) Kamis 25 Maret.

 
Mengendarai motor,  Sore itu, kami tiba di kampus Universitas Lancang Kuning. Visi sedang taja Diklat dasar Jurnalisitk sejak Jumat. Sore itu mereka akan penutupan. Kami disambut Ivo Yusmiati, Pimpinan Umum Visi, di pelataran parkir depan rektorat. Ia berjilbab.

Kami naik ke lantai dua. Sambil menunggu peserta Diklat, kami diskusi sejenak. Kru Visi tampak sibuk. Sekitar tujuh kru Visi duduk bersama kami. Kami membuat posisi duduk melingkar. Silaturahim kami mulai. Ivo kenalkan kru Visi. Juga Bahana. Dibalut canda, tawa dan gurauan, kami mulai diskusi.

Tak banyak yang kami diskusikan, di antaranya soal Forum Pers Mahasiswa (Fopersma) Riau—sebelumnya bernama Visi ABG (akronim dari VISI, AKLAMASI, BAHANA dan GAGASAN), didirkan tahun 2001. Ivo menyambut baik pengaktifan kembali Fopersma. “Kalau Fopersma kompak, kita bisa cetak di satu percertakan. Harganya juga harga mahasiswa,” Ivo mengusulkan. Selain soal dana, sumber daya manusia juga jadi persoalan ibarat penyakit sesak napas.

Kami juga diskusi kondisi Visi. Ivo bilang, Visi terbit dwi bulanan. Kru sekitar 20-an lebih. Kami juga disuguhi nasi bungkus. Minuman Capucino.

Sekitar pukul 17.00 perbincangan usai. Acara penutupan diklat pun dimulai. Kami pamit pulang.


Menerobos sesak jalan raya. Berkendara ‘bebek’ roda empat. Sekitar Pukul 15.00, dua belas kru Bahana tiba di sekre Akalamasi. Kami disambut baik. Air mineral gelas dan setumpuk tabloid Aklamasi edisi terbaru tersusun rapi di lantai. “Silahkan duduk,” ujar Yasin, Pimpinan Umum Aklamasi.

Diskusi ringan pun dimulai. Di sela diskusi, salah seorang kru perempuan Aklamasi mengeluarkan gorengan. “Inilah yang bisa kami sajikan,” ujarnya seraya meletakkan piring berisi gorengan di atas lantai. Diskusi berlanjut. Sama dengan di Visi, Bahana juga mewacanakan soal pengaktifan kembali Fopersma. Yasin dan kawan-kawan menyambut baik. Yasin juga bilang, mereka baru tiga bulan bentuk kepengurusan. Aklamasi terbit bulanan.

Tak terasa sudah dua jam kami berdiskusi. Gorengan yang disajikan pun ‘hilang’ dari piring. Tak hanya soal Fopersma, kami juga diskusi soal jurnalistik. Sekitar pukul 17.30, kami pamit pulang.


Dua puluh empat kru Gagasan menyambut kedatangan kru Bahana dengan ramah. Tados Marta, Pimpinan Umum Gagasan mengambil posisi di antara para kru Gagasan yang duduk berjejer. Ia bertopi hitam.

Duduk bersila, ia menjelaskan kondisi Gagasan. “Kebetulan yang lebih banyak hadir saat ini adalah kru magang. Struktur organisasi kami tak muluk-muluk, hanya ada Pimpinan Umum, Pimpinan Redaksi, Redpel, selebihnya reporter dan kru magang.”

Usai perkenalan, diskusi hangat berjalan. Satu per satu kru Gagasan bertanya soal jurnalistik pada Bahana. Kru laki-laki lebih aktif bertanya. Sedangkan kru wanita, hanya mendengar sambil sesekali berbisik dengan kawan sebelahnya.

Sambil berdiskusi, kami makan roti kering yang disuguhi Gagasan. Mereka juga menyambut baik soal Fopersma. “Bagus itu, dulu Fopersma sangat berperan. Kalau bisa persma yang lain hadir juga saat pembahasan ini. Kami pasti datang,” tegas Tados.

Sebelum penutupan, ada kenang-kenangan dari Gagasan. Sebuah tanda terima kasih berbentuk bingkai hitam.

Mengapa Bahana coba hidupkan kembali Fopersma?

Siapa lagi yang akan memantau dan mempertahankan independesi wartawan jika hari ini pers umum berpihak pada pemilik modal, dan pengiklan?
 
Fopersma adalah wadah berkumpul pers mahasiswa di Riau. Nah, Fopersma adalah salah satu kekuatan pers mahasiswa agar tetap kompak pertahankan mutu jurnalistik khususnya di Riau. Bukankah kaum muda itu agent of change? Saatnya kita pertahankan mutu jurnalisme itu sendiri. Dan, kita harus segera bergerak.
Dan, kita harus segera keluar dari soal klasik pers mahasiswa hari ini: dana dan minimnya sumberdaya manusia.

Itulah kenapa, Bahana rindu bertemu dengan kawan lama. #

 

Seingat saya, Aang Ananda Suherman dari Bahana Mahasiswa didaulat jadi koordinator Fopersma saat rapat “menghidupkan” kembali Fopersma di Bahana pada bulan April.

Dan sejak saat itu, tiap cetak mereka berkumpul. Misal, saat Aklamasi cetak, diskusi ditaja di Aklamasi, evaluasi terbitan mereka. Lantas diskusi ringan soal persma masing-masing, juga diskusi berat mulai dari soal politik hingga jurnalisme.

Saya rindu saat-saat diskusi dengan kawan-kawan Fopersma. #