papan reklame

by Madeali


ORANG BANYAK masih ingat, pada beberapa tahun yang silam, negeri yang banyak berkebun karet, sudah pernag dilanggar duit. Dimana-mana dewasa itu sudah si punya getah bersiram duit–sekali lagi duit. Waktu itu perniagaan maju, pelayaran ramai. Tentang harga barang-barang orang kurang tawar-menawar, maklum getah di pohon sudah duit.

Pada suatu hari datanglah Wan Saleh, seorang saudagar ke negeri P…. dalam daerah Sumatera Timur. Ia banyak membawa barang jualan, kain-kain, barang pecahan, barang kumango dan yang lain. Ia pun berkedailah. Di hadapan kedai itu tergantung papan merek yang besar “Toko Murah”.

Saudagar baru, orang baru, barang pun baru, jadilah kedainya maju dan selalu ramai.

Sebulan selang kemudian, terbuka pula sebuah kedai baru, berhadapan betul dengan toko Wan Saleh itu. yang empunya toko itu seorang perempuan, agak lincah pembawaan badannya dan lancar berkata-kata. Esok harinya tergantunglah pula merek yang besar di toko perempuan itu: “Toko Murah Sekali”.

Sesungguhnya orang bebas menamai tokonya, dengan sebarang nama yang digemarinya. Kendatipun begitu merek toko perempuan itu, mengecewakan hari Wan Saleh. Terasa-rasa benar kepadanya, perempuan itu sengaja hendak mencari-cari helah lawan berkongkuren. Tetapi bagaimana sekalipun jijiknya melihat merek toko perempuan itu, tiadalah dayanya apalagi kuasanya akan menurunkan merek lawannya itu.

Mendengar sungut-sungut Wan Saleh itu, yahulah orang banyak bahwa hatinya sakit kepada perempuan yang baru datang itu. Kesempatan itu tidaklah disia-siakan oleh orang banyak itu. Paksa itu untuk melagakan kedua saudagar itu, sebagai balam dalam pikatan, terbukalah.

Jika mereka pergi ke toko Wan Saleh, mereka katakan toko perempuan itu, murah sekali. Dengan demikian, Wan Saleh bertambah sakit hatinya dan ia pun memurahkan barangnya sedikit. Tokonya jadi ramai pula, sedang kedai perempuan itu agak lengang.

“Macam dia pula hendak melawan,” kata Wan Saleh menggembirakan hati pembeli,” tak tahu di perempuannya.”

Sorenya segala ocehan Wan Saleh itu, telah sampai pula ke telinga perempuan itu. Rupanya ia bangsa pemakan bawang, bertelinga tipis. Ia pun meradang-radang. “Biar dia laki-laki–biar dia jantan, aku tak segan melawannya,” beronsang perempuan itu, “bukan baru sehari ini aku berniaga.” Keesokan harinya terbentang sebuah lagi merek di toko perempuan itu, bunyinya: “Jual Murah”.

Orang banyak pergi pula ke sana dan memanglah harga barang di situ kendor sedikit dari toko Wan Saleh itu. Mereka berkekeh-kekeh, puas harinya melaga-laga ayam sabungan itu.

Tulisan “jual murah” yang terpampang di hadapan toko perempuan dan segala kata-kata sombong yang disampaikan orang kepadanya itu, menyebabkan Wan Saleh menjadi harimau kelepasan tangkap. Radang hatinya tidak berbada-bada. Dengan melompat-lompat sebagai kijang, ia berlari ke toko perempuan itu. “Keluarlah bedebah!” perintahnya kepada perempuan itu,”berlawanan ini pun aku mau,” teriaknya sambil mengacu-acukan tinjunya.

Perempuan itu gemetar? Tidak!

Dengan sigap disambarnya kayu ela, pengukur kain yang terletak di atas meja. Bagai kucing mengejar tikus, ia menghambur keluar mendapatkan laki-laki yang merentang-rentang itu. Mujurlah sebelum keduanya bertemu, orang banyak sudah berkerumunan melerainya. Si laki-laki bersungut-sungut dan perempuan itu mencarut-carut. Mulai dari hari kedua toko itu tidak berbaik lagi. Sindir-menyindir tak putus-putus, ereng gendeng jangan disebut.

Pada suatu hari sedang orang pulang Jumat, kedengaran pula perempuan itu menyumpah-nyumpah. Rupanya merek reklame asal-usul sengketa mereka itu, telah hilang lenyap, tinggal paku penggantungnya saja.

“Siapa lagi punya ulah, kalu tidak Wan Saleh, laki-laki yang mengharu biru itu,” rintih perempuan itu.

Entah sebenarnya perbuatan Wan Saleh, entah olah orang lain, wallahualam, tetapi tiba-tiba papan merek itu didapatnya orang tiada jauh dari dapur Wan Saleh. Melihat itu penyakit itu membangkit.”Laki-laki tidak bermalu, tidak beraib!” teriaknya.

“Mari sini Tuan-tuan!” katanya kepada orang banyak itu,” di sini harga melawan, harga turun, dijual pokok.”

Yang diteriakkannya itu sungguh, harga barang di tokonya, terasa turunnya. Wan Saleh agak terpaku, mukanya merah padam, malu bercampur dengan marah. “Jahanam,” katanya,” aku tak pernah menjamah mereknya, mengapa aku dituduhnya?” Tiba-tiba ia masuk ke dalam. Kemudian ia keluar mengepit sebuah tas kulit. Dengan terengah-engah ia pergi berlari-lari ke kedai perempuan itu.

Orang berkerumun kepingin tahu, apa yang akan terjadi.

“Mana barangmu yang murah itu? mana? mana dia?” katanya sambil mengempaskan tas kulit yang dikepitnya itu, hingga dua tiga keping uang perak berpelanting keluar.

“Apa perlu kau tahu?” bertanya perempuan itu dengan gagah.

“Hendak kuborong semuanya,” kata Wan Saleh dengan tak sabar.

“Omong kosong, gerontong Keling,” sahut perempuan itu,”berapa ribukah uangmu?”

“Lebih seharga harta bendamu ini,” jawab Wan Saleh,” jangan-jangan pun engkau dapat kubeli.”

“Kujual pokok kepadamu, kalau kau berani membeli,” kata perempuan itu. “Ini sekian, itu sekian,” kata perempuan itu.

Wan Saleh mengeruk uang kertas dari dalam tasnya itu, lalu diempaskannya di atas meja. Semua barang-barang itu diborong oleh Wan Saleh, hingga toko perempuan itu hampir kosong. Barang itu ditimbunnya ke dalam toko.

Dengan sendirinya kongkuren habis. Orang banyak tak dapat melaga ayam lagi.

Wan Saleh terbeli murah dan kini bebaslah ia menjual barang seharga biasa, sebab tak ada berlawanan lagi. Tetapi Wan Saleh orang hidup, yang mengenang mati. Dunia diusahakannya tapi maut dikenangnya juga. Orang banyak sudah tahu pokok barangnya. Takdir dinaikkannya pun 10 persen mesti dibeli orang juga, karena masih dibawah harga biasa. Dalam sebulan taklah sampai hatinya berbuat demikian, ia tak mau menyolok mata orang banyak. Telah diputuskannya dan sudah pula dikabar-kabarkannya, bahwa barangnya yang baru diborongnya itu akan dijualnya habis-habisan asal diberi untung 5 persen saja. Tetapi dalam sebulan ini saja, lewat itu naik kembali.

“Mengena jebak kita,” kata orang banyak,” jangan dibuang tempo.”

Berduyun-duyun mereka itu berbelanja ke toko murah itu, hingga dalam tempo sepuluh hari, sekalian barang borongan itu tidak tersisa lagi. Pada wajah mukanya dan kecek-keceknya kentara benar ia menyesal menjual barangnya semurah itu. Tetapi hendak dikata, kata sudah tersebutkan, janji sudah terbuat. Lagi sekali-kali, apakah salahnya: bukankah hidup menentang mati. Apalagi hatinya puas dadanya lega, karena musuh sebenarnya itu sudah kalah dalam gelanggang.

Pada suatu hari perempuan itu berkemas-kemas. Katanya ia hendak membeli barang ke Singapura, ia hendak membuka toko kembali. Kabar itu disampaikan orang pula kepada Wan Saleh. Mendengar itu, Wan Saleh gelak terkekeh-kekeh.”Belum jera rupanya putri itu,” katanya.,” ia hendak melagak aku.” Ia tertawa besar.

“Baiklah,” katanya pula,” aku pun hendak ke Singapura juga, hendak kulagak ia di kapal. Kelas berapa ia menumpang? Kelas tiga? aku ke kelas dua. Jika ia di kelas dua, ku sewa kamar kelas satu.”

……………………………….

Keesokan harinya pukul 4, kelihatan perempuan yang kehabisan jagal itu diiringikan oleh anak-anak semangnya menuju kapal yang sedang rapat dibom. Suku jam kemudian tampak pula Wan Saleh, berbaju tuit berdasi panjang, menjinjing tas. Tampak benar disengajanya, memutar-mutar tongkatnya, tatkala tampak perempuan itu berdiri di kandang kapal. Melihat itu, perempuan itu meludah. Orang banyak tersenyum.” Jangan-jangan peperangan berulang,” kata mereka itu sambil mengundurkan diri, karena kapal hampir membuka tali. Ketika kapal itu mulai renggang, Wan Saleh melambai-lambaikan tangannya memberi selamat tinggal kepada orang banyak dan melagak musuhnya yang tiada berapa jauh dari tempatnya itu.

………………………………….

Setelah sang surya masuk ke dalam peraduannya, adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan duduk bergurau-gurau di dalam kamar kelas dua di kapal itu. Di hadapan mereka di atas meja terhidang pelbagai macam enak-enakan.

“Sesudah delapan tahun kita kawin, Barulah aku percaya, engkau ahli reklame,” kata laki-laki itu kepada istrinya yang duduk di sisinya itu.

“Berkat percampuran kita,” jawab perempuan itu dengan suka hati, karena beroleh pujian dari suaminya itu.

Adapun kedua manusia itu, yaitu Wan Saleh dan perempuan toko dahulu. Keduanya bukan orang lain, tapi suami istri.

“Waktu aku memborong barang-barangmu itu, dengna harga yang kau turunkan itu, bulatlah kepercayaan orang, bahasa sebegitulah pokok barang kita itu. Padahal 15 persen di atas pokok. Mereka yang merasa dirinya mujur karena dapat melaga-laga kita itu, tak mau menahan hatinya lagi. Disangkanya 5 persen yang kunaikkan itu, betul-betul 5 persen dari pokok yang asal.”

“Aku heran,” kata perempuan itu,”mengapa mereka tak mau bertanya-tanya ke tempat lain?”

“O,” jawab Wan Saleh,” mereka tertarik kepada kita dan lupa ke orang lain, karena kita tampak mereka selalu hendak beramuk saja. Dalam saat begitu kepercayaan biasanya bulat 100 persen.”

“Kupandang kau bertambah cantik, bertambah manus,” kata Wan Saleh berseloroh.

“Bukan aku,” jawab perempuan itu,” tetapi keuntungan yang kita peroleh itu.”

Bagai-bagailah akal manusia itu menternakkan duit…….#

# Roman di atas termuat dalam Kawan Bergelut karya Soeman HS, terbitan 1999 oleh Balai Pustaka. Saya sengaja menulis ulang karena suka dengan bahasa melayu lama dan roman klasik.