Street Lawyer

by Madeali


SATU PERISTIWA BESAR tak terduga di gedung enam lantai Drake dan Sweeney suatu pagi, mengubah hidup Mike. Tak mudah mengubah hidupnya. Orang-orang sekitar yang ia sayangi—istri, keluarga dan rekan kerja—mencemooh status barunya: membela kaum marjinal tanpa bayaran yang layak. Membela orang miskin dianggap tabu oleh orang kaya. Bagi orang kaya “cukup” membayar pajak ke negara, ia sudah membantu orang marjinal, miskin.

Untuk memulai hidup barunya Mike menemukan hal tak pernah ia duga; membongkar kejahatan korporasi kaya dan Drake dan Sweeney, bertemu dengan para tunawisma di sebuah gereja penampungan, bercerai dengan istrinya gara-gara Mike jatuh miskin, persahabatan dengan Mordecai Green mengubah pandangannya.

Setidaknya 69 tokoh khayalan–hitungan saya selama membaca novel itu– dan konflik sosial Amerika antara si miskin dan si kaya dihadirkan John Grisham dalam Novel The Street Lawyer setebal 479 halaman. Alurnya bolak-balik. Mike adalah tokoh utama. Namun, tanpa Memo khas Drake dan Sweeney dari Hector Palma, kebenaran jadi kabur. Hukum tak bermakna bagi orang-orang tunawisma.

DI WASHINGTON D.C, seorang miskin mampu menyadarkan seorang kaya. Caranya, mendatangi di mana si kaya berkumpul, seperti yang dilakukan Mister. Mister membuat si kaya ketakutan. “Aku tak ingin melakukannya, tapi mengapa tidak?” jawab Mister di sebuah gedung Drake and Sweeney lantai enam yang megah berlantai marmer. Drake dan Sweeney adalah biro hukum raksasa di Washington D.C yang mempekerjakan 800 pengacara di kantor-kantor di seluruh dunia. Setengahnya berpraktek di D.C.

Kepala mister ditembak di gedung megah itu. Mister menyandera 9 pengacara kaya, salah satunya Mike. Dua kali tembakan dilontarkan Mister. Pistol tepat di kepala mike. Deretan batang merah direkatkan di sekeliling pinggangnya. Kabel-kabel bersilangan seperti spagetidari ujung atas ke ujung bawah batang-batang itu. Semua itu direkat dengan selotip warna perak. Mirip dinamit.

Selama penyanderaan Mister lontarkan beberapa pertanyaa.
“Apa yang kau makan waktu siang?”
“Kau berpenghasilan besar, tapi kau terlalu rakus untuk memberiku uang receh di kaki lima.”
“Kalian tak hanya tak peduli pada para tunawisma, kalian bahkan ikut andil mencampakkan mereka ke jalanan.”

Sore itu, penembak jitu SWAT menembak kepala Mister. Mister mati. Adegan berakhir.

Seratus pertanyaan terlontar serempak dalam benak Mike, saat ia lolos dari “kematian dan ketakutan dari Mister”: Mengapa dia memilih gedung kami? Kantor kami? Di mana dia sebelum ke lobi? Di mana satpam yang biasanya berjaga di dekat pintu utama gedung ini? Mengapa aku? Ratusan pengacara keluar-masuk setiap hari. Mengapa lantai enam?

Pertanyaannya,”Siapa penggusur di sini?” Tidak pernah terjawab. Tetapi itu tidak butuh waktu lama. Mike mulai membahayakan hidupnya.

MIKE MULAI MENCARI tahu identitas mister. Namanya De Von Hardy, telah bertahun tahun bekerja sebagai penjaga dan petugas kebersihan di National Arboretum. Dia kehilangan pekerjaan akibat pemotongan anggaran. Dia pernah dipenjara beberapa bulan karena merampok. Keluar dari situ di jadi gelandangan. Dia berjuang melawan kecanduan alkohol dan obat bius, dan secara rutin ditangkap karena mengutil.

Klinik Mordecai Green menjadi kuasa hukumnya beberapa kali. Kenapa Mister melakukan itu, Green tak banyak tahu. Green bilang baru-baru ini De Von Hardy digusur dari gedung tua, tempat dia tinggal sebagai penghuni liar. Penggusuran adalah prosedur legal dan dilaksanakan oleh pengacara. Mike tahu kantor mana dari ribuan biro hukum di D.C yang melemparkan Mister ke jalanan.

Mike dengan mobil Lexusnya pergi ke kawasan kumuh dan menemukan 14th Street legal Clinic. Fourteenth at Q, NW. Klinik itu menempati setengah bangunan gaya Victoria tiga tingkat, dari bata merah, yang pernah mengalamai masa jaya. Jendela-jendela di lantai teratas ditutup dengan kayu lapis yang sudah lapuk. Di seberangnya ada Laundroat—tempat cuci otomatis—kumuh. Sarang pedagang obat bius pasti tak jauh dari sini.

Pintu masuknya ditudungi kanopi kuning cerah. Mike tidak tahu harus mengetuk dulu atau langsung menyelonong masuk. Pintu tidak terkunci, pelan-pelan Mike memutar kanopi lalu masuk ke dunia lain. Ini memang kantor pengacara, tapi beda sekali dari ruangan-ruangan di Drake dan Sweeney, yang berlantai marmer dan dindingnya berlapis kayu mahoni.

DI KANTOR KUMUH ITU, Mike berkenalan dengan laki-laki kulit hitam bertubuh raksasa, paling tidak 193 senti tingginya, dengan postur tubuh lebar menyangga berat yang luar biasa. Namanya Mordecai Green.

Green cerita bagaimana De Von Hardy digusur oleh kantor pengacara Drake and Sweeney. Hardy pindah ke gedung tua di sudut New York dan Florida. Seseorang menyediakan kayu lapis, membagi-bagi tempat itu, dan membuat beberapa apartemen kecil. Bukan tempat yang buruk untuk mereka yang tak punya rumah—ada atap, kakus, dan air. Sewanya seratus dolar sebulan, dibayarkan pada mantan germo yang membenahi tempat itu dan mengaku sebagai pemiliknya. Masalahnya mulai rumit, ketika properti itu bulan kemarin dibeli perusahaan real estate besar bernama RiverOaks. Anehnya, RiverOaks akan diwakili Drake dan Sweeney.

Mike menelusuri berkas kasus itu di kantornya. RiverOaks adalah anak perusahaan Delaware, berdiri pada 1977, kantor pusatnya di Hagerstown, Maryland. Berkasnya diperlakukan sebagai berkas pribadi. Jadi sedikir sekali informasi finansial tersedia. Pengacaranya Braden Chance. Ia partner di divisi real estate Drake dan Sweeney, kantornya di lantai empat.

Empat penggusuran, tiga diantaranya dilaksanakan tahun lalu. Tahap pertama pencarian data itu mudah. Pada 31 Januari, RiverOaks membeli property di Florida Avenue. Penjualnya TAG, Inc. Pada 4 Februari, klien kami menggusur beberapa penghuni liar dari gedung kosong di atas properti itu—salah satu diantaranya De Von Hardy—, yang menanggapi penggusuran itu dengan dendam pribadi dan entah bagaimana berhasil melacak alamat para pengacara itu. Mike menyalin semua alamat itu. Ia terus mencari, tapi tak mudah.

MIKE MASUK KE DALAM gereja seperti katedral kecil, umurnya setidaknya 100 tahun dan jelas sudah ditinggal jemaatnya. Mike ternganga melihat banyaknya orang berdesakan di lantai, mencoba tidur. Ada yang duduk bergerombol, bicara dengan suara rendah. Ada yang makan di meja panjang, ada pula yang duduk di kursi lipat. Setiap inci dinding tertutup oelh orang-orang yang duduk memunggungi papan-papan cinder. Anak-anak kecil menangis dan bermain-main sementara para ibu mereka berusaha agar mereka tidak jauh-jauh. Orang-orang mabuk terbujur kaku, mendengkur keras-keras. Para sukarelawan mengangsur selimut dan berjalan di antara orang-orang itu, membagikan apel.

Mike di dapur bersama Green membuat roti isi selai untuk tunawisma. Ini pengalaman pertama Mike. Mereka sibuk mengole selai pada roti untuk para tunawisma dalam gereja itu, sekitar 20000 tunawisma.

“Ku kira kau pengacara,” tanya Mike pada Mordecai. “Pertama-tama aku ini manusia, setelah itu baru pengacara. Bisa saja kita jadi dua-duanya.”

Michael Brock, pria kulit putih yang makmur dari Memphis dan Yale dan Drake dan Sweeney, duduk diantara para tunawisma di lantai bawah tanah gereja di tengah kawasan Northwest D.C.

DALAM GEREJA ITU Mike berkenalan dengan Ontario. Ontario tertidur, kepalanya yang mungil terkulai di kaki ibunya. Tiba-tiba si bayi menangis keras-keras. Orang –orang mulai menggerutu. Tanpa berpikir panjang aku mengulurkan tangan dan mengambil si bayi sambil tersenyum kepada si ibu untuk membuatnya percaya kepadaku. Perempuan itu tak peduli. Dia lega bisa bebas dari bayinya. Anak itu kencing di atas gendongan Mike.

Green keluarkan satu pak Pampers, dan aku menyorongkan anak itu padanya. Ada lingkaran basah lebar di bahu jaket denimku. Dengan sangat cekatan Mordecai meletakkan bayi itu di meja dapur, membuka dan membuang popoknya yang basah, bayi itu perempuan, membersihkannya dengan tisu, lalu memakaikan Pampers yang bersih, kemudian menyorongkan bayi itu kepadaku lagi. “Selesai,” katanya bangga.”Bersih dan baru lagi.”

“Yang begini tidak diajarkan di sekolah hukum,” kataku sambil menerima anak itu.

Esoknya si ibu bernama Lontae Burton, 22 tahun. Si bayi Temeko. Kakak kembar Alonzo dan Dante, 2 tahun. Yang paling besar Ontario, 4 tahun. Mereka semua, kira-kira pukul 23.00, polisi D.C menemukan mobil kecil dekat Fort Totten Park, Northeast, di kawasan kumuh sarang pencoleng. Mobil itu diparkir di jalan, bannya gundul terjebak dalam salju yang membeku. Di dalamnya meringkuk seorang ibu muda bersama empat anaknya, semua mati karena kekurangan zat asam. Mike menyesal. Dia sok berat.

Mike mulai menelusuri. Ternyata Lontae Burton senasib dengan Hardy. Mereka digusur dari sebuah gedung yang mereka bayar tiap bulan.

TATKALA MIKE memutuskan berhenti bekerja di Drake dan Sweeney, istrinya minta cerai, hanya karena Mike tak bisa menghidupi dengan gaji dari kantor barunya. Status sosial baru Mike, penyebab perceraian itu. Keluarga Mike menyayangkan keputusannya. Rekan kerja Mike menyayangkan karir Mike, yang sebentar lagi akan jadi Partner. Itu berarti uang melimpah dan status sosial kian tinggi. Mike mulai tinggal di sebuah apartemen yang kotor. Ia hidup sendirian. Mobil tak lagi Lexus.

Tak sampai seminggu, Mike sudah melihat enam gelandangan mati, dia ia sok.“Aku mengutuk Mister karena merusak hidupku. Aku mengutuk Mordecai karena membuatku merasa bersalah. Dan Ontario karena membuatku terharu.”

“AKU MAU BERHENTI KERJA. Aku mendapat tawaran kerja di biro bantuan hukum, melayani masyarakat,” kata Mike pada Rudolph Meyer, partner di Drake dan Sweeney sejak umur 30 tahun, satu sore.
“Jangan tolol, Mike.”
“Aku tidak tolol. Aku sudah memutuskan. Dan aku ingin keluar dengan sesedikit mungkin masalah. Aku butuh perubahan. Pekerjaan di sana tiba-tiba terasa jadi tak penting dan membosankan. Aku ingin melakukan sesuatu untuk menolong orang.”

Suatu hari ia mencuri berkas dari kantor Braden atas petunjuk seorang paralegal bernama Hector Palma. Mike “mencuri” berkas penting di kantor Drake dan Sweeney. Mike berhenti kerja di Drake dan Sweeney. Ia mulai hidup baru sebagai pengacara jalanan di kantor Mordecai Green. Mike diburu polisi karena mencuri berkas Drake dan Sweeney. Ia ditangkap tapi lepas lagi. Di pengadilan cerita itu berakhir, sejak Mike mendapatkan memo dari Hector Palma.

Ini kasus hukum yang melibatkan korporasi kaya yang menggusur tunawisma dan orang-orang jalanan, bukan karena si miskin tak mampu membayar sebuah gedung. Dan seorang pengacara kaya di Drake dan Sweeney membantu korporasi itu. Kasusnya rumit.

MIKE MULAI BELAJAR dengan Mordecai kehidupan tunawisma.

Trend di Amerika adalah membuat tunawisma jadi penjahat. Kota-kota besar memberlakukan macam-macam undang-undang yang dirancang untuk menghukum mereka yang hidup di jalanan. Tak boleh mengemis, tak boleh tidur di bangku taman, tak boleh tinggal di kolong jembatan, tak boleh menyimpan barang-barang pribadi di taman umum, tak boleh duduk di trotoar, tak boleh makan di tempat umum.

Banyak diantara undang-undang itu dipraktekkan di pengadilan. Abraham telah berhasil meyakinkan sejumlah hakim federal bahwa undang-undang yang buruk itu bertentangan dengan Amandemen Pertama mengenai hak asasi manusia.

Karena itu, kota-kota secara selektif menerapkan undang-undang umum, seperti menggelandang dan mabuk di tempat umum. Target mereka adalah tunawisma. Orang dengan setelan jas mahal mabuk di bar dan kencing di lorong, bisa di maafkan. Tapi tunawisma yang kencing di lorong yang sama akan ditangkap dengan tuduhan kencing di tempat umum. Sering sekali dilakukan dengan sapu bersih.

Mike mulai masuk dari tempat penampungan ke tempat penampungan lainnya. Dia wawancara, bertemu dengan para tunawisma. Bertanya soalan mereka, dan dia berjanji akan memperjuangkan haknya.

SETELAH IA PAHAM semua tentang dunia tunawisma dan hak-hak mereka. Mike mulai membongkar kejahatan korporasi dan Drake dan Sweeney. Setelah Mike mewawancarai orang-orang yang diusir oleh Drake dan Sweeney yang mewakili korporasi dan mendapat memo yang dirobek oleh Braden Chance dari Hector Palma. Mike dan Mordecai menggugat Drake dan Sweeney.

Gugatan itu singkat. Wilma Phelan, wali untuk kekayaan Lontae Burton dan anak-anaknya menggugat RiverOaks, Drake dan Sweeney dan TAG. Inc karena berkomplot untuk melakukan penggusuran yang melawan hukum.

Logikanya sederhana: hubungan sebab akibanya jelas. klien-klien kami tak akan terpaksa tinggal di mobil jika mereka tidak ditendang dari apartemen mereka. Dan mereka takkan meninggal jika tidak tinggal di mobil. Benar-benar teori pertanggungjawaban yang bagus, yang semakin menarik karena kesederhanaannya. Juri manapun di negeri ini pasti memahami penalarannya.

Kealpaan dan/atau kesengajaan para tergugat telah menyebabkan kematian, yang sebetulnya sudah bisa diduga. Hal-hal buruk terjadi pada orang-orang yang hidup di jalanan, terutama ibu-ibu muda yang memiliki anak-anak masih kecil. Gusur mereka dari rumah, maka kau akan mendapat ganjaran kalau mereka sampai terluka.

Akhir cerita sungguh mengesankan. Dari Mister, mengubah hidup Mike, dan Mike mengubah hidup Drake dan Sweeney.

Setidaknya, khayalan John Grisham mengingatkan kita, apa yang tercerabut dari masyarakat perkotaan: kepekaan sosial, tolong menolong. Dan itu, juga terjadi di sini tempat ku berdiri, Kota Pekanbaru.*