Protokol Kyoto Menyingsing

by Madeali


Oleh Xing Fu-Bertaux*

WASHINGTON (IPS) – OBSERVATORIUM Mauna Loa di Hawaii, tempat pengukuran terbaru karbondioksida (CO2) di atmosfer milik Scripps Institute of Oceanography, mengungkapkan konsentrasi CO2 pada atmosfer global mencapai 391,3 bagian per juta (ppm) pada 2011, naik dari 388,56 ppm pada 2010 dan 280 ppm pada era praindustri.

Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), demi kesempatan 90 persen menghindari perubahan iklim yang berbahaya, konsentrasi gas rumahkaca (GHG) perlu distabilkan pada 450 ppm, yang secara kasar dapat diterjemahkan menjadi peningkatan suhu rata-rata dua derajat celsius.

Artinya, guna menstabilkan konsentrasi GHG pada 450 ppm, emisi GHG global akan mencapai puncaknya sebelum 2015 dan perlu dikurang hingga 50 persen dari level 2000 pada 2050.

Negara-negara maju perlu mengurangi emisi 25-40 persen pada 2020 dan 80-95 persen pada 2050 hingga mencapai level 1990, yang menjadi dasar acuan tahunan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.

Beragam laporan ilmiah juga memperkirakan negara-negara berkembang perlu mengurangi emisi CO2 15-30 persen pada 2020 dan 50 persen pada 2050 guna mencapai level 1990.

Namun, dalam tahun-tahun terakhir ini, emisi meningkat di negara-negara maju maupun berkembang.

Pada 2010, negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi dan dan Pembangunan (OECD), sebuah kelompok negara-negara maju, meningkatkan emisi mereka 3,4 persen, sementara negara -negara di luar asosiasi tersebut menunjukkan peningkatan 7,6 persen.

Sepuluh negara menyumbang sekitar 68 persen emisi global. Meski China merupakan penghasil emisi terbesar di dunia pada 2010 (diikuti Amerika Serikat, India, dan Rusia), sebuah uji emisi per kapita menunjukkan cerita berbeda.

China hanya berada di peringkat 61 sebagai penghasil CO2 per orang. Di India –penyumbang emisi terbesar ketiga di dunia– emisi per kapitanya berada jauh di bawah rata-rata dunia. Amerika Serikat, sebaliknya, menempati peringkat kedua dunia dan urutan ke-10 emisi per kapita.

Ekonomi kita masih tergantung pada pembakaran fosil dan emisi karbondioksida. Karena ekonomi global mulai pulih pada 2010, emisi meningkat secara luar biasa sebesar 5,8 persen.

Lebih dari 70 persen emisi CO2 dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil untuk penggunaan energi, seperti pembangkit listrik, transportasi, pabrik, dan konstruksi. Pada 2009, pembangkit listrik dan pemanas menyumbang 41 persen dari seluruh energi terkait emisi CO2.

Selama satu dekade terakhir, beberapa negara mengembangkan rezim kebijakan pengurangan emisi gas rumahkaca. Pada awal 2010, 83 negara mengadopsi sebagian kebijakan untuk mempromosikan pembangkit listik energi terbarukan, naik dari kisaran 48 negara pada pertengahan 2005.

Betapapun demikian, perkiraan terbaru dari Deutsche Bank Climate Advisors mencatat, sekalipun kita sekarang melaksanakan seluruh kebijakan mitigasi, masih ada celah dari 5.8 Gigaton (Gt) untuk mencapai 450 ppm.

Badan Energi Internasional telah mengingatkan bahwa pintu menuju dua derajat, batas yang diakui secara internasional untuk menghindari bencana perubahan iklim, telah tertutup. Dan skenario empat derajat justru kian disukai. Negara seperti Filipina mulai menyiapkan dana untuk adaptasi dan kelangsungan hidup nasional dari kejadian ekstrem lantaran perubahan iklim.

Meski ada tindakan signifikan di tingkat nasional, masa depan upaya internasional untuk membatasi emisi gas rumahkaca tidaklah pasti Protokol Kyoto merupakan pencapaian penting karena menjadi satu-satunya instrumen internasional yang menetapkan target mengikat secara hukum. Namun ia masih menjadi kian simbolis karena sekarang hanya mengatur sekitar 15 persen dari emisi gas rumahkaca secara global.

Level CO2 global kini mencapai 45 persen di atas level 1990. Beberapa Lampiran I negara-negara –termasuk Amerika Serikat, yang menandatangani tapi tak pernah meratifikasi Protokol Kyoto– tak akan mampu memenuhi target pengurangan emisi mereka.

Sejak Desember 2011, Kanada, Jepang, dan Rusia memutuskan tak menambah target emisi sesuai komitmen kedua Protokol Kyoto pada dekade mendatang.*

 

*Xing Fu-Bertaux, asisten peneliti Worldwatch Climate and Energy Team.

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik