Mengecam Kebrutalan Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

by Madeali


Mengecam Kebrutalan Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) se-Universitas Riau dan Simpatisannya dalam persoalan Kongres Mahasiswa UR ke XIX

 Oleh: Forum Mahasiswa Penyelamat Kongres (FMPK) UR 2012

(BEM Faperika, BEM FISIP, HMJ AGRIBISNIS dan KEHUTANAN FAPERTA, UKM BATRA, KOPMA, PMI, MAPALINDUP UR, UKM OLAHRAGA, HMJ DAN UKM SE-FAPERIKA dan BANYAK SIMPATISAN INDIVIDU Lainnya)

Peristiwa dinihari Kamis, 14 Juni 2012, di gedung Rektorat UR dua hari lalu tentu hadirkan banyak cerita. Banyak praduga. Dan banyak pula berita–baik terbit di media Online, Cetak, dan TV. Tapi, jelas banyak mahasiswa jadi korban. Parahnya wartawan yang sedang meliput juga tak bisa dielakkan dari kebrutalan oknum-oknum malam itu. Makanya perlu bagi kami memaparkan tentang apa sebenarnya yang terjadi. Bukan merasa paling benar, setidaknya dari mana akar masalah bermula tentu kami tahu karena kami semua terlibat.

KASUS POSISI

1. Seputar Pemira hingga Kongres

Pada Mei 2012, Universitas Riau kembali disuguhkan dengan helat akbar Pemilihan Raya (Pemira). Pemira adalah proses pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) biasa juga disebut pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) UR.Usai terpilihnya Presma dan Wapresma kegiatan berlanjut pada Kongres Mahasiswa. Tahun ini kongres mahasiswa UR memasuki umur ke XIX.

Pada Kongres Mahasiswa, semua hal akan dibahas. Mulai pengesahan Presma dan Wapresma terpilih, pembahasan Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK), amanah kongres untuk BEM periode berikutnya dan terakhir, biasanya ditutup dengan pemilihan Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) UR. BLM tentu penting dipilih karena akan mengontrol kinerja BEM.

Persoalan mulai muncul ketika jauh sebelum Pemira dan Kongres Mahasiswa, BLM sudah mengeluarkan Ketetapan BLM nomor 008 yang menolak Pemira Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Faperika) dan Ketetapan nomor 009 tentang merekomendasikan Pemira Ulang di Faperika. Karena BLM menilai ada yang salah dalam proses pemira Faperika.

Tapi Ketetapan ini sungguh keliru secara hukum dan syarat bernilai politis untuk kepentingan sesuatu.

Pertama, tak ada aturan di PUOK (Konstitusi Kelembagaan di UR) yang menyatakan BLM UR bisa mengeluarkan Ketetapan menolak dan menyuruh ulang Pemira di sebuah Fakultas. Ini namanya sudah intervensi. Tapi Jaswandi, Komisi I BLM UR, keluarnya Ketetapan ini mengacu pada PUOK Pasal 13 ayat 2 yang berbunyi; Menyerap dan merumuskan aspirasi mahasiswa UR dan menyalurkannya kepada pihak-pihak terkait di lingkungan UR.

Tapi DR. Edy Faisal, dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UR menilai keliru dengan apa yang dilakukan oleh BLM UR. Edy Faisal menilai PUOK Pasal 13 ayat 2 merupakan norma kewenangan yang kabur karena ridak rinci. Kata Edy Faisal tidak boleh ada yang menafsirkan secara sepihak. Ia menilai BLM UR sudah menafsirkan sebuah aturan secara sepihak dan itu keliru. Edy Faisal yang sudah mempelajari PUOK Kelembagaan UR menilai tak benar ketetapan yang di keluarkan BLM UR. Baginya itu intervensi yang tak konstitusional. Karena yang berhak mengeluarkan menolak atau rekomendasi ulang Pemira Faperika itu BLM Faperika itu sendiri. (Lengkapnya baca Bahana News Edisi April-Mei 2012 pada rubrik Laporan Utama)

Kedua, bernilai poltis karena dengan adanya ketetapan BLM tersebut hak mahasiswa Faperika yang ingin naik jadi Presma dan Wapresma akan pupus karena harus dapat rekomendasi dari BEM Faperika. Selanjutnya hak mahasiswa Faperika ingin jadi Ketua BLM UR yang nantinya akan dipilih di Kongres juga tidak akan bisa karena perwakilan BEM dan BLM Faperika juga tidak diundang.

Ini patut dipertanyakan, ada apa?

2. Mengenal Aktivis Rohis dan Kekuasaanya di UR

Kini, peta catur perpolitikan mahasiswa di UR sangat mudah dipahami. Kenapa? Karena hampir semua kelembagaan di UR dikuasai ‘Aktivis Rohis’. Siapa itu ‘Aktivis Rohis’? Rohis singaktan dari Rohani Islam. Sejak 2003 Rohis mulai bisa mendapatkan kursi Presma dan Wapresma UR hingga kini. Bagi mereka jika tidak dari golongan mereka yang berkuasa sama dengan mudorat. Makanya sekuat tenaga mereka akan bertahan untuk kekuasaannya.

Dari sembilan Fakultas di UR hannya tiga yang tak dikuasai ‘Aktivis Rohis’ jika dilihat dari siapa Ketua BEM tiap-tiap Fakultas. Yakni FISIP, FAPERIKA dan baru-baru FAPERTA berhasil mengalahkan Rohis. Rohis punya cara ‘jitu’ dalam menggaet masa. Pertama, mereka berhasil menggolkan program keagamaan bernama asistensi. Mereka dapat jatah jadi mentor dalam asistensi mata kuliah Agama Islam. Lewat asistensi tak jarang terjadi kampanye politk jika ada calon dari mereka yang maju dalam perebutan kekuasaan.

Basis utama mereka ada di Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) yang tersebar di tiap fakultas. Secara Universitas, di UR namanya UKMI Ar-Royan. Pentolan Aktivis Rohis atau Aktivis UKMI tak barang baru lagi adalah jebolan pelatihan kader dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Atau secara global masuk dalam Ikhwanul Muslimin. Dan tak barang baru juga para petinggi KAMMI, yang setelah itu masih aktif dalam dunia poltik masuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

3. Bukan Soal SARA Murni Soal Demokrasi Kampus

Munculnya penyataan Fadri AR soal adanya orang disekap dan dilarang sholat, ini jelas Fadri mulai mengisukan soal Agama dalam hal ini. Ini tentu akan menimbulkan bahaya. Sejatinya tak ada kaitannya dengan isu agama. Isu agama digunakan Fadri atau pentolan PKS, KAMMI dan UKMI untuk memobilisai massa sehingga baginya menolong orang lain yang diperlakukan begitu; membunuhpun hukumnya halal.

Makanya brutalpun mereka pada malam itu mereka anggap tak ada kesalahan.

Perlu kami jelaskan di sini, bahwa tak ada yang menyekap orang itu. Bahkan saat ada orang yang mengantar makanan saat ini tak ada yang melarang. Soal sholat juga tak ada yang melarang. Di lantai III rektorat saat itu juga ada air dan tempat sholat.

Muncul pertanyaan, apakah tidak boleh keluar ruangan?

Sebenarnya tidak. Tapi mereka yang katanya tersekap di rektorat itu adalah masa yang saat akan terjadi dialog dengan PR III dan PD III se UR untuk menyelesaikan masalah kongres yang masih ada persolaan, datang menggagalkan dialog saat itu. Mereka juga mengeroyok mahasiswa yang ingin dialog itu berlangsung. Akhirnya mahasiswa yang dikeroyokpun merasa dizalimi. Setelah itu tak ada niat baik orang yang katnaya disekap itu untuk mengadakan dialog lagi malah memanggil kawan-kawannya untuk menyelamatkan seolah-olah mereka jadi koraban ternaiaya.

 

KRONOLOGIS PERMASALAHAN

Melihat berseliwerannya isu seputar bentrok di UR, tentu kami merasa menyampaikan kronologis kejadian.

Kronologis ini disusun berdasarkan keterangan yang dihimpun dari berbagai narasumber serta berita pada media cetak yang terbit di Pekanbaru yang objektifitas, keberimbangan, dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan. Kronologis ini disusun, agar tidak terjadi simpang siur informasi dikalangan civitas akademika Universitas Riau terkait kerusuhan ini, agar semuanya menjadi terang-benderang tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Kamis, 7 Juni 2012:

Panitia Pemilihan Raya Universitas (PPRU) diketahui Steering Commite (SC)__BEM dan BLM UR__adakan kongres di BPKB Jalan Hang Tuah Pekanbaru. Selama kongres hal biasa terjadi; perdebatan, adu mulut, dan lainnya. Sekitar pukul 18.00 WIB terjadi ricuh, tapi tak sampai ada perbuatan kriminal. Lantas, Pimpinan Sidang dan SC melarikan diri tanpa ada kata pending sidang. Kata Sapari, Ketua PPRU, kongres akan dilanjutkan pukul 20.00 WIB. Namun tak dilakukan.

Jumat, 8 Juni 2012;

Secara sepihak PPRU diketahui  BEM dan BLM UR,kirim SMS kesemua peserta kongres, bahwa kongres ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan karena situasi tak kondusif. Akhirnya mahasiswa yang kecewa atas keputusan sepihak itu membentuk Forum Mahasiswa Penyelamat Kongres (FMPK) UR 2012. Forum ini terdiri dari beberapa kelembagaan yang kecewa terhadap keputusan sepihak tersebut.

Lantas, sekitar pukul 15.00 WIB forum ini berniat menemui ketua BEM dan BLM untuk mengadakan dialog terkait dihentikannya kongres, tapi Ketua BEM dan BLM UR tak ada di tempat. Akhirnya FMPK menggelar aksi di depan sekretariat BLM UR. Tapi tak juga dapat respon terkait pelaksanaan dialog.

Sabtu, 9 juni 2012

FMPK UR 2012 lakukan aksi di depan Gedung Rektorat menuntut PR III memfasilitasi dialog dengan BEM dan BLM UR serta PPRU. Tujuannya membicarakan kapan akan dilanjutkan kongres dan tempatnya di mana.

Pukul 14.00 PR III didampingi PD III Fisip, Syafriharto berdialog dengan perwakilan FMPK UR 2012 serta Julian Caesar, wakil ketua BEM UR. Pertemuan itu menyepakati akan diadakan dialog bersama kelembagaan untuk membicarakan kongres di mana dan kapan waktunya. Semua sepakat.

Minggu, 10 juni 2012

Sekitar pukul 17.00 kembali secara sepihak PPRU atas persetujuan BEM dan BLM UR beritahu kongres diadakan di markas Militer Baterai Q Kubang Pekanbaru. Artinya mereka tidak mengindahkan hasil dialog sebelumnya.

Senin 11 juni 2012

Massa FMPK UR 2012 datangi Baterai Q. Tujuannya agar kongres ditunda terlebih dahulu sebelum kesepakatan dialog dilaksanakan. Tapi FMPK saat tiba di Baterai Q oleh panitia dihadapkan pada anggota militer. Sempat terjadi debat dengan anggota militer.

Sekitar 45 menit tertahan di gerbang Baterai Q, perwakilan FMPK UR 2012 dibolehkan bertemu dengan Komandan Batalyon (Danyon); Trias. Akhirnya Trias mengerti bahwa masih terjadi persoalan mengenai kongres yang belum selesai, dan dia mengintruksikan pukul 14.00 WIB kongres dibubarkan. Akhirnya kongres pun kembali gagal.

Selasa, 12 juni 2012

Pembantu Rektor III dan PD III  se-UR melakukan pemanggilan kepada pihak I dan pihak II dengan tujuan meminta kemauan masing-masing pihak. Pihak I: BEM UR,BLM UR dan PPRU pada sore hari sekitar pukul 17.00. Lalu pemanggilan pihak II: FMPK UR 2012.

Setelah dilakukan pemanggilan kedua belah pihak dapat kesimpulan bahwa kongres dilarang diadakan sebelum adanya dialog multi pihak untuk membahas masalah-masalah penting salah satunya tidak diakuinya BEM dan BLM Faperika oleh BLM UR, sehingga selama kongres berlangsung BEM dan BLM Faperika tidak diundang.

Rabu, 13 juni 2012

Massa yang dikomandoi Toni Era Wijaya, mantan Gubernur FKIP UR, juga aktivis UKMI FKIP UR datangi Rektorat dan menyampaikan bahwa kongres dilanjutkan hari itu juga dan tidak ada dialog. Karena bagi mereka dialog bentuk intervensi dari pihak kampus.

Sekitar pukul 10.30, kembali BEM UR, BLM UR dan PPRU tidak mau mengindahkan untuk berdialog terlebih dahulu dan mereka melaksanakan kongres sekitar pukul 11.00 WIB. Kurang lebih hanya 3 jam kongres ̶ notabene membahas tentang semua kelembaggan UR ̶ selesai dalam waktu kurang lebih 2 jam. Toni Era Wijaya terpilih jadi Ketua BLM UR.

Tapi menurut FMPK kongres ini tidak sah karena terkesan dipercepat untuk sebuah kepentingan dan tidak mau berdialog terlebih dahulu.

PR III dan PD II se UR mengundang BEM UR, BLM UR dan FMPK UR 2012 untuk berdialog di gedung Rektorat pada pukul 16.00 WIB.

Sekitar pukul 17.00 WIB dialog baru dimulai. Dari sepuluh orang FMPK UR 2012 yang datang ke rektorat hanya tiga orang yang jadi juru runding. Juga hadir BEM UR, BLM UR dan PPRU.

Belum lagi terjadi dialog masa UKMI dan simpatisannya sekitar 50 orang mendatangi rektorat dan menerobos masuk ke lantai 2 tempat dialog berlangsung.

Tujuh orang masa FMPK UR 2012 yang berada di luar ruangan dialog diserang oleh masa UKMI se Universitas  dan simpatisannya. Salah satu korbannya Bobby Irtanto, mahasiswa Faperta UR yang ditendang dadanya oleh Basuki,  mahasiswa Faperta UR.

Tidak senang dengan pengeroyokan itu, FMPK memanggil juga anggotanya. Sekitar 15 menit anggota FMPK UR 2012 berkumpul di rektorat. Sempat terjadi chaos di lantai dua dengan massa UKMI dan simpatisannya, tapi bubar karena salah satu pegawai rektorat menyemprotkan Gas Pemadam Kebakaran kepada massa yang tengah chaos.

Suryadi, mahasiswa FISIP UR, massa FMPK hampir pingsan karena sesak nafas menghirup Gas Pemadam Kebakaran tersebut.

Sekitar pukul 22.00 WIB, FMPK mendeteksi massa Partai Keadilan Sosial, KAMMI dan aktivis UKMI dari kampus lain datang ke rektorat. Sempat juga terjadi pengusiran terhadap orang yang bukan dari kampus UR.

Sekitar pukul 11.00 WIB PR III membuat pernyataan sikap di atas materai Rp 6 ribu bahwa menolak semua hasil kongres dan harus melaksanakan kongres ulang.

Sekitar pukul 12.30 WIB massa PKS, KAMMI, UKMI se UR-dari hasil pantauan FMPK juga simpatisan UKMI dari kampus lain-sekitar 500-1000 orang menyerbu massa FMPK ke rektorat. Mereka menggunakan senjata berupa besi, kayu, dan batu.  Karena kekurangan massa akhirnya massa FMPK mundur.

Celakanya ada masa FMPK yang terjebak dalam rektorat. Sembari menghancurkan kaca dan ruangan PR III UR, masa PKS, KAMMI, UKMI se UR dan simpatisannya lakukan sweeping terhadap masa FMPK.

Akhirnya mereka dapatkan FMPK di dalam rektorat. Sekitar 30 orang memukuli masa FMPK yang ada di rektorat.

Biadabnya, selain terus dipukuli juga disuruh buka baju, celana dan jongkok. Beberapa anggota FMPK UR 2012 banyak terjadi korban. Ada kepala bocor, bibir bengkak, punggung memar, kepala belakang jadi pusing karena dipukuli, kepala benjol dan lain-lain. ( selebihnya bisa diminta keterangan dari korban )

Wartawan yang sedang meliput juga jadi korban fisik dan laptopnya ada yang rusak. Diantaranya, M Ali Nurman dan Teguh Prihatna, reporter dan fotograper Riau Pos, serta Da Nata dan Devi Hendrawan dari  Riau TV.

Fotografer Riau Pos, Teguh Prihatna, sempat dipaksa untuk menyerahkan kamera yang dipegangnya. Salah seorang  massa meminta untuk melihat isi foto dalam kamera Teguh. Karena diintimidasi beberapa orang, Teguh memperlihatkan isi kameranya, dan massa lainnya meminta Teguh untuk menghapus foto-foto yang ada dalam kamera (Sumber: Riau Pos, Jumat, 15 Juni 2012).

Massa FMPK juga melihat adanya anggota Dewan dari PKS-Fadri AR-sedang di Bina Krida. Ini indikasi kuat bahwa memang kepentingan politik PKS sudah mencampuri urusan kampus UR.

Adanya perampasan harta; dompet dan telepon genggam milik Nofrianda Alpendra (Mhs faperika PSP 2010), KTM atas nama Nasriadi, Matgus Riadi, dan Fathur Rahman, ketiganya mahasiswa Faperika, Nur Ikhwan dan Risky Ramadhani (Administrasi Bisnis 2010), telepon genggam milik Bayu Putra dan Bobi (Faperika) juga diambil paksa.

Hampir satu jam  massa PKS, KAMMI, UKMI se UR dan simpatisannya baru meninggalkan rektorat.

Sekitar pukul 03.00 WIB, karena melihat banyak mahasiswa UR kena pukul, solidaritas mahasiswa UR mendatangi massa PKS, KAMMI, UKMI se UR dan simpatisannya di gerbang Bina Krida. Sempat juga terjadi chaos.

Dalam pada itu, PWI Cabang Riau, setelah melakukan investigasi terhadap kasus dan pemukulan terhadap wartawan di Rektorat UR, Kamis (14/6), mereka mencabut pendampingan LBH PWI terhadap mahasiswa yang terlibat kasus perusakan tugu PON. Ketua PWI Riau, Dheni Kurnia mengungkapkan, bahwa dari dokumentasi yang mereka peroleh, ternyata yang melakukan intimidasi dan pemukulan terhadap wartawan adalah mahasiswa yang dari kelompok yang dipanggil polisi karena terlibat perusakan tugu PON (Sumber: Riau Pos, Jumat, 15 Juni 2012).

Dheni Kurnia juga sangat menyayangkan ternyata mahasiswa dari kelompok itu tak bisa memilah dan menghormati peraturan dan UU. ‘’Pekerjaan jurnalis itu dilindungi UU. Seharusnya mereka memahami. Dengan kenyataan ini kami jadi meragukan laporan yang disampaikan ke PWI kemarin, apalagi ada indikasi keterlibatan parpol dalam bentrok di rektorat UR,’’ ungkap Dheni Kurnia (Sumber: Riau Pos, Jumat, 15 Juni 2012)

Menurut keterangan Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pekanbaru, Melvinas Priananda, yang juga berada di lokasi kerusuhan, mayoritas dari massa yang bentrok bukan lagi mahasiswa, dan kuat dugaan adalah kelompok yang dilatih khusus menghadapi situasi petempuran (Sumber: Antarariau.com, Jumat, 15 Juni 2012)

Melvinas Priananda menyebutkan, ‘’Saya tidak percaya mereka mahasiswa. Mereka terbagi menjadi tiga lapisan. Yang pertama pasukan tameng, pelempar batu, dan terakhir pasukan pemukul yang membawa kayu’’ (Sumber: Antarariau.com, Jumat, 15 Juni 2012).

Mahasiswa Yang Menjadi Korban:

1. Roberto, Matgus Riadi, Suryadi, disuruh buka baju, berjalan jongkok, dan babak belur dihajar. Bukti: dokumentasi foto.

2. Riski Ramadhani; dipaksa untuk buka celana dan celana dalamnya dikoyak-koyakkan.

3. Ira Putra (IK ’09): bibir bengkak

4. Zulfikar (IK ’07): babak belur

5. Hoky Kurniawan (IK ’09): Mata Bengkak

6. Jefrie Gultom (IK ’07): Kepala bocor

7. Johanes (IP’ 06): Muka lebam (bukti video Metro TV)

 

PERTANYAAN FMPK

1. Mengecam tindakan biadab massa PKS, KAMMI, UKMI se UR dan simpatisannya yang mengatasnamakan jihad dalam islam.

2. Meminta rektor memberikan sanksi tegas terhadap orang yang tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat dan yang telah merusak gedung Rektorat secara brutal.

3. Meminta segera pihak kepolisian menangkap pelaku penganiayaan terutama yang sudah di BAP.

4. Mengecam PKS, notabene partai politik, ikut campur dalam masalah kongres UR.

5. Meminta rektor tidak memberikan legalitas ( SK  atau lainnya ) terhadap semua UKMI se lingkungan UR yang sudah jelas berafiliasi dengan partai politik; PKS.

Hari ini kami benar-benar kecewa terhadap kebrutalan mahasiswa yang didompleng partai politik. Hari ini jelas sudah kemana sesunggguhnya perjuangan aktivis UKMI yang katanya berjihad demi islam atau sering disebut aktivis rohis, yakni terkungkung di bawah komando Partai PKS.

 Satu kata LAWAN!!!

 Hormat Kami

FMPK UR 2012

    Pekanbaru, 14 juni 2012

(CP.085265693370.Khairunnisa)