“Bila kami meninggal, tolong jangan terlantarkan keluarga kami”

by Madeali


Enam relawan bakar diri

Di depan gedung DPRD Riau, enam Relawan bakar diri melawan PT RAPP dan SK 327 tahun 2009 bicara depan wartawan. Memakai kopiah putih, wajah mereka tampak lelah, terutama M Ridwan, Ketua STR Riau, juga salah satu relawan. “Selaku ketua STR Riau, saya lahir di Lukit, Pulau Padang. Kami ucapkan terima kasih kepada media, meski media dan MUI Riau banyak mengecam  aksi bakar diri, kami ucapkan terima kasih atas pandangan itu. Apapun dalil dari MUI, yang kami lakukan untuk ribuan masyarakat Pulau Padang,” kata Ridwan. Seketika Ridwan menangis dan mengusap matanya.”Bila kami meninggal, tolong jangan terlantarkan keluarga kami.”

Enam relawan bakar diri; Ali Wahyudi (28 tahun, Desa Anak Kamal), M Ridwan (27 tahun, Desa Bagan Melibur), Syafrudin (38 tahun, Desa Lukit), Suwagiyo (40 tahun, Mengkirau), Joni Setiawan (34 tahun, Desa Mekar Sari), dan Jumani (28 tahun, Desa Bagan Melibur). Awalnya relawan berjumlah 10 .

Suasan haru terasa saat usai temu wartawan, Ridwan langsung memeluk Annisatul ‘Aliyah, 25 tahun. Istrinya. Sariah, 28, istri Jumani, memeluk semuanya.  Mereka menangis. Kerabat yang hadri disitu, menangis.

Enam relawan itu menuju ke bandara, malam sebelum maghrib bertolak ke Jakarta.

Berita terkait;

Ridwan : “ Kami hanya ingin revisi SK Menhut 327/2009” at Gurindam 12

Bahan Print dari LAM Riau; Laporan Tim Mediasi Penyelesaian Tuntutan Masyarakat Setempat Terhadap IUHHK-HT di Pulau Padang (Laporan Tim Mediasi Pulau Padang)