Basuki Sumawinata dari IPB, Pendapat Pakar (13)

by Madeali


  • Pendapat Pakar
  • Dr. Basuki Sumawinata, Ahli tanah gambut IPB

Berdasarkan paparan dan pendalaman yang dilakukan Tim Mediasi terkait isu lingkungan yang mendasari tuntutan masyarakat Pulau Padang, Dr. Basuki Sumawinata berpendapat sebagai berikut:

a. Terkait isu Pulau Padang tidak cocok untuk HTI karena ada gambutnya.

Dr. Basuki Sumawinata menyatakan: 1) HTI Akasia Crassicarfa di lahan gambut dengan pengelolaan yang baik tumbuh dengan subur seperti di Bukit Batu, Pelalawan, dan Sumatera Selatan. Dengan kata lain, Akasia Crassicarfa cocok untuk tanah gambut. Bahkan beliau menambahkan, bahwa

b. Terkait isu Pulau padang tenggelam bila PT. RAPP beroperasi di Pulau Padang. Dr. Basuki menyampaikan pendapatnya sebagai berikut:
1). Pembukaan lahan gambut untuk HTI menghasilkan subsidensi tetapi tidak linier. Pada awal pembukaan lahan gambut (± 1 tahun) subsidensi dapat mencapai 35 cm, namun bila tinggi muka air dipertahankan tetap tinggi (40-80 cm) subsidensi berlangsung lambat. Hal itu terjadi karena pada awal pembukaan subsidensi yang terjadi berupa subsidensi fisik akibat kehilangan air dari ruang pori tanah.

2). Berdasarkan data primer hasil penelitian selama satu tahun pada HTI PT. BBHA di Bukit Batu (Data terlampir) dinyatakan bahwa dekomposisi yang ditunjukkan dengan ukuran partikel tanah hanya berlangsung di bagian tanah permukaan, sedangkan yang dekat dengan permukaan air tidak berlangsung yang dicirikan oleh ukuran partikel tanahnya kasar. Dengan demikian, beliau menyimpulkan bahwa bila permukaan air
tanah dipertahankan tetap tinggi (40-80 cm) subsidensi bisa dijaga sangat rendah. Bahkan, bila serasah (daun dan ranting) Akasia Crassicarfa yang jatuh ke permukaan diperhitungkan subsidensi itu bisa sangat kecil (tidak terjadi)

3). Hingga saat ini belum ada informasi (pengalaman) bahwa pulau yang lahannya berupa tanah gambut di Indonesia yang tenggelam.

4). Tidak masalah (bahkan lebih disukai) lahan gambut dalam (> 3 m) dimanfaatkan untuk pertanian termasuk HTI Akasia Crassicarfa, asal melakukan pengelolaan air yang. Artinya, mampu mempertahankan tinggi muka air yang rendah sekalipun di musim kemarau.

5). Berdasarkan pengelaman beliau survey dan penelitian gambut, Dr. Basuki menyatakan bahwa anak bangsa telah menguasai Teknologi pengelolaan gambut berkelanjutan. Beliau menjelaskan sejarah perkembangan penguasaan teknologi pengelolaan gambut di Indonesia. Pada teknologi pengelolaan gambut yang paling akhir ditemukan, peluang subsidensi sangat rendah, kebakaran dapat dihindari, dll.