Oka Karyanto dari UGM, pendapat pakar (11)

by Madeali


  • Pendapat Pakar;
  • Dr Oka Karyanto, S.Hut. MSc, Ahli Kehutanan Universitas Gajah Mada

Berdasarkan paparannya dan diskusi terkait isu lingkungan berupa ketidak cocokan Pulau Padang untuk HTI dan Tenggelamnya Pulau Padang bila HTI PT. RAPP beroperasi di Pulau Padang dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pulau Padang tidak cocok untuk HTI karena ada gambutnya. Argumentasi yang dikemukakan: 1) gambut di Pulau Padang memiliki kedalaman > 3m, 2) Didasarkan pada data primer hasil pengukuran CO2 yang menyimpulkan bahwa: a). Pemanfaatan kawasan gambut untuk hutan alam dan sagu (tanpa drainase) lebih lestari karena tingkat emisi (konsekuensinya tingkat subsidensi) lebih kecil, b). Emisi CO2 pada gambut dalam untuk budidaya karet rakyat berumur muda lebih kecil dibanding karet berumur tua, 3).Tingkat subsidensi di Pulau Padang didsarkan pada data sekunder hasil penelitian.
  2. Beroperasinya HTI PT. RAPP di Pulau Padang dapat menyebabkan tenggelamnya Pulau Padang. Hasil pendalaman Tim Mediasi diketahui bahwa opini tersebut merupakan hipotesis. Selain itu argumentasi yang dikemukakan adalah sebagai berikut: 1). Hipotesis didasarkan pada asumsi subsidensi 4 cm/tahun dan kenaikan muka air laut 4 mm/tahun, sehingga dihiptesis dalam kurun waktu 60-70 tahun Pulau Padang tenggelam. 2). terdapat bukti di lapangan bahwa saat ini telah terjadi subsidensi, 3). Didasarkan pada hasil penelitian Hooijer, et al (2011).3). Didasarkan pada hasil penelitian dari peneliti asing yang menyatakan bahwa Selama 8 tahun setelah didrainase, telah terjadi 1,5 m subsiden dan akan berlangsung kurang lebih linear; hal ini serupa dengan yg dialami di tempat lain (Malaysia bahkan USA).

Pendapat lain Pakar Oka adalah sebagai berikut:

  1. Belum ada kajian mengenai kelestarian produktifitas pada lahan gambut dalam.
  2. Belum ada kajian dampak lingkungan drainase lahan gambut dalam.
  3. Belum ada kajian kelestarian produktifitas tapak pada areal HTI pada lahan gambut dalam, paling tidak yang telah diakui secara internasional.
  4. Interpolasi dari 70 titik-titik hasil pengeboran (April, 2011) menunjukkan bahwa sebagian besar pulau Padang merupakan gambut dalam (Data primer).
  5. Pulau Padang bertopografi rata, ketinggian maksimum 15 m dpl (dari permukaan laut), hampir semua pemukiman berada pada ketinggian kurang dari 6 m dpl (Hasil analisis peta DEM dan Topografi berdasarkan SRTM 30 m). Selain itu disimpulkan kawasan pemukiman dan kebun berada pada ketinggian 1-6 m dpl sehingga rentan terhadap kenaikan muka air laut.
  6. Terjadi penurunan kualitas tutupan hutan scr gradual namun tidak terjadi deforestasi secara drastis kecuali ketika (1) pembukaan koridor jalan tambang dan (2) land-clearing HTI.
  7. Deforestasi di Pulau Padang versi PT. RAPP berbeda dengan versi Pakar Oka. Selain itu beliau juga menyimpulkan tidak terdapat deforestasi yang menyolok antara 2002-2010, bahkan banyak deforested area yang recover. Degradasi terjadi pada kawasan gubah gambut.
  8. Dengan ketinggian dpl rendah, sebagian besar pemukiman dan kebun karet di bagian pinggir akan tenggelam akibat kombinasi peat subsidens dan kenaikan muka air laut.
  9. Pakar Oka mengemukakan adanya fenomena intrusi air laut. Selanjutnya dinyatakan Fenomena intrusi air laut ini salah satunya dapat dikarenakan penurunan muka air tanah akibat kanalisasi lahan gambut. Fenomena ini telah menarik perhatian penggiat lingkungan dari Pekanbaru terutama mengenai masa depan pulau Padang. Diperkirakan dengan kondisi yg ada sekarang, kawasan hunian dan kebun di pulau Padang akan tenggelam 60 th kemudian.
  10.  Telah terjadi abrasi lapisan gambut sepanjang pantai timur pulau Padang.