Analisis Sengketa Pulau Padang (17)

by Madeali


Konflik atau sengketa dapat terjadi antara masyarakat dan antar lembaga. Sengketa merupakan perbedaan kepentingan antar individu atau lembaga pada objek yang sama yang dimanifestasikan dalam hubungan-hubungan di antara mereka. Menganalisis siapa dan mengapa mereka terlibat adalah salah satu aspek yang penting dalam studi tentang sengketa sistim penguasaan tanah.

Untuk itu perlu dipahami dengan baik siapa subjek yang terlibat dalam sistim penguasaan tanah dalam sengketa tersebut. Subjek didefinisikan sebagai para pelaku yang terlibat dalam sengketa sistim penguasaan tanah, baik pelaku yang mempengaruhi ataupun yang dipengaruhi.

Subjek dapat berupa individu, masyarakat, kelompok sosial atau institusi. Objek sengketa juga perlu dipahami, objek sengketa dapat didefinisikan sebagai benda, baik berupa tanah maupun sumber daya alam lainnya yang disengketakan oleh para pelaku.

Untuk mendapatkan pemahaman yang baik terhadap konflik/sengketa yang terjadi perlu diperjelas melalui pendekatan terhadap subjek dan objek sehingga menjadi lebih jelas.

Secara tegas objek yang disengketakan oleh masyarakat Pulau Padang adalah terbitnya izin kepada PT. RAPP yang mengakibatkan :

  1. Kekhawatiran terhadap masa depan kehidupan (sustainability of livelihood) karena soal isu lingkungan terhadap penurunan tanah dan lebih lanjut tenggelamnya Pulau Padang.
  2. Ruang kelola dan hak atas tanah yang simpang siur dan tidak adanya kejelasan terhadap tata batas terhadap izin PT. RAPP. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran yang sangat mendalam pada masyarakat.
  3. Proses sosialisasi atas izin tidak dilakukan dengan baik oleh si pemberi izin, penerima izin kepada masyarakat Pulau Padang. Ini mengakibatkan keresahan pada masyarakat karena munculnya informasi yang tidak akurat yang diterima.

Analisis konflik/sengketa merupakan proses untuk mengkaji dan memahami realitas konflik dari berbagai perspektif yang beragam. Di sisi lain, analisis konflik bisa dijadikan dasar pijakan dalam pengembangan strategi dan rencana aksi penyelesaian. Proses analisis konflik dimulai
dengan proses identifikasi (desk analysis, pengumpulan fakta dan data, pendapat para ahli serta pendapat berbagai stakeholder).

Analisis konflik didasarkan pada pandangan bahwa masyarakat memiliki struktur dan tingkat yang kompleks dan membutuhkan kerangka kerja komprehensif untuk memahami masalah, persepsi, pelaku dan informasi pelengkap.

Secara umum untuk melakukan analisis konflik diperlukan beberapa hal, yaitu :

1. Kecermatan dalam pemilahan terhadap persepsi yang muncul
2. Melakukan analisis dari berbagai sudut pandang
3. Mendapatkan fakta dan data yang akurat dari sumbernya.

Analisis konflik ditujukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih cermat dan komprehensif terhadap dinamika, hubungan dan isu terkait dengan situasi sehingga rekomendasi untuk rencana aksi menjadi lebih tepat dilakukan serta para pihak paham atas rencana aksi tersebut.
Hasil analisis terhadap konflik akan digunakan untuk :

1. Memberikan pemahaman tentang latar belakang dan sejarah situasi konflik dan peristiwa terkini.
2. Mengidentifikasi semua kelompok yang relevan.
3. Memahami perspektif dari semua kelompok.
4. Mengetahui hubungan para pihak yang bersengketa.
5. Mengetahui faktor yang mendukung dan dasar-dasar konflik yang terjadi.

Hasil analisis konflik masyarakat Pulau Padang dan PT. RAPP disajikan seperti pada Gambar Pohon di bawah ini (Gambar….). Pada pohon dapat dipilah menjadi tiga bagian penting, yaitu ekspresi, tipologi dan akar konflik. Daun, merupakan ekspresi konflik yang antara lain berupa
demontrasi, pembakaran, pembunuhan sampai kepada pembentukan opini pada publik. Batang Pohon, merupakan tipologi konflik yang dapat berupa tenurial sistim, pemanfaatan, identitas, komunikasi sampai konflik tenaga kerja. Akar Pohon, merupakan akar konflik yang dapat berupa hak dan tenurial kawasan sampai perbedaan nilai dan struktur.

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan mengenai munculnya konflik masyarakat Pulau Padang dengan PT. RAPP, baik persoalaan yang menyangkut kepada akar, batang dan daun pohon.

Analisis yang dilakukan oleh Tim Mediasi berbasis kepada informasi, data dan fakta yang diperoleh.

Setelah melakukan analisis data, menelaah hasil wawancara dengan para pihak dan melakukan kunjungan lapangan seperti yang diuraikan pada bagian sebelumnya, di bawah ini tim ingin menyampaikan beberapa poin yang menjadi benang merah dari kasus ini dan gambaran alternatif
solusi yang dapat diambil terhadap beberapa masalah terkait dengan mediasi kasus Pulau Padang.