TRAGEDI PULAU PADANG: Dari Lukit Hingga Tebet Dalam (1)

by Madeali


Oleh Anugerah Perkasa

TRAGEDI PULAU PADANG: Dari Lukit Hingga Tebet Dalam (1)

RUMAH BERCAT PUTIH di dalam gang kecil Tebet Dalam itu tampak sepi dari luar ujung jalan. Dua bendera berwarna merah terang terpancang di dalam pagar berteralis besi. Keduanya didominasi gambar bintang dengan kuning menyala. Gerbang pagar kecil dibiarkan terbuka.

Rumah bertingkat satu itu adalah sekretariat bersama Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional (STN) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Rumah itu pula yang menampung kedatangan enam relawan rencana bakar diri dari Pulau Padang, Riau untuk melawan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Dari Tebet Dalam, Jakarta Selatan, keenamnya mulai mematangkan rencana.

Hari itu, 4 Juli 2012, adalah kali kedua saya bertemu Muhammad Ridwan, Ketua Umum Serikat Tani Riau (STR), yang juga salah satu relawan aksi bakar diri.

Sebelumnya kami bertemu di Desa Bagan Melibur, sebuah desa di Pulau Padang, dalam satu reportase mengenai konflik di pulau tersebut pada Maret lalu.

Namun hari itu juga, merupakan pertemuan pertama saya dengan lima relawan lainnya. Mereka adalah Ali Wahyudi, Jumani, Joni Setiawan, Suwagiyo dan Syafrudin. Suwagiyo merupakan relawan tertua, 40 tahun, sedangkan yang termuda-sekaligus bujangan-adalah Ali, sekitar 28 tahun.

Semuanya berasal dari desa berbeda yakni masing-masing Desa Pelantai, Desa Bagan Melibur, Desa Mekar Sari, Desa Mengkirau dan Desa Lukit.

“Polisi berkeliaran sejak pukul 04.00,” ujar Desi Arisanti, Sekretaris Jendral Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia, yang sehari-hari tinggal di rumah itu. “Biasanya hanya ada satu tukang sayur yang lewat sini. Tapi mengapa hari ini sampai ada enam?”

Dia mengatakan polisi mulai berdatangan karena mengetahui enam relawan aksi bakar diri telah menginap di Tebet Dalam. Ada yang mondar-mandir. Ada pula yang terang-terangan datang ke rumah menanyakan kehadiran Ridwan.

Keenam relawan rencana bakar diri tersebut sebelumnya mendirikan tenda selama satu minggu di depan Gedung DPRD Pekanbaru pada pekan terakhir Juni. Itu adalah salah satu bagian aksi protes mereka sebelum bertolak ke Jakarta pada 3 Juli 2012 malam.

Tuntutan mereka tak berubah.

Mereka mendesak pemerintah mengeluarkan blok Pulau Padang dari konsesi RAPP, perusahaan bubur kertas dan kertas milik Asia Pacific Resources International Limited (APRIL), dengan merevisi surat keputusan Menteri Kehutanan.

Aturan yang dimaksud adalah surat nomor 327 tahun 2009 tentang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) untuk PT RAPP.

Enam relawan aksi bakar diri tersebut telah menyaksikan bagaimana area permukiman dan perkebunan mereka terancam hilang karena termasuk dalam konsesi perusahaan. Padahal, mereka lahir dan tumbuh di sana. Perseteruan antara masyarakat dengan korporasi raksasa itu telah berlangsung selama 3 tahun, sejak surat keputusan tersebut diterbitkan. Tetapi hingga kini, konflik kian berkepanjangan.

Pendirian tenda selama sepekan di Pekanbaru itu tak membuahkan hasil maksimal. Mobil anggota DPRD Riau bahkan hanya mondar-mandir saja melewati mereka. Atau sekadar mengintip dari kaca. “Jangan ke mana-mana. Jangan bandel dulu ya,” kata Desi setengah tertawa kepada Ridwan. “Mereka [polisi] sudah ada yang berjaga-jaga di luar rumah.”

Saya menemui mereka di sebuah bilik kecil yang terletak di sisi paling belakang rumah tersebut. Joni masih tidur di lantai karena capai. Sebagian mereka masih rebahan di atas papan berbentuk kotak. Tas ransel dijadikan alas bantal.

Jumani membuka bajunya karena kepanasan sambil membetulkan posisi kipas angin listrik. Ada yang sibuk dengan telepon selularnya. Mereka patuh untuk tak keluar dari rumah itu. Saya memperhatikan polisi datang silih berganti. Enam relawan tersebut mengerti risiko mereka ketika keluar rumah: langsung ditangkap.

“Mereka minta izin untuk menanam orang di sini,” kata Edi Susilo, Sekretaris Jendral Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, yang sempat menemui polisi. “Ada ketegangan pagi tadi saat mereka datang untuk menanyakan Ridwan.”

Edi mengatakan keterkejutannya belum berakhir benar saat mengetahui saya ingin menemui Ridwan. Kami memang tak saling kenal sebelumnya.

Menanam, istilah yang dipakai polisi, berarti menempatkan petugas untuk berjaga-jaga di sekitar rumah tersebut. Saya ikut memperhatikan. Dua orang duduk-duduk di lapangan badminton seberang rumah. Ada yang mengambil tempat di ruang tamu sambil bercakap-cakap. Ada pula yang berdiri di teras rumah hingga mengambil kursi untuk menunggu.

Menjelang sore itu pula, saya bertemu Agus Jabo Priyono, Ketua Umum PRD, dan Yudi Budi Wibowo, Ketua Umum STN, saat mereka datang ke Tebet Dalam.

Agus lebih akrab dipanggil dengan nama Jabo. Dalam laporan Berita Satu, Jabo terpilih sebagai Ketua Bidang Pemetaan Potensi Pemilih pada Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pimpinan Prabowo Subianto. Terpilihnya Jabo di mesin politik tersebut berdasarkan Kongres Luar Biasa Partai Gerindra pada 17 Maret 2012.

Baik Jabo maupun Yudi akan mendiskusikan aksi bakar diri itu dengan Ridwan dan beberapa pengurus kedua organisasi tersebut. Jabo mengatakan aksi bakar diri tak dikenal dalam tradisi perlawanan PRD. Yudi juga tak menyetujui apa yang dilakukan enam anggotanya itu. Selain itu, keduanya melarang keras keenamnya untuk beranjak dari bilik ke luar rumah.

Jabo juga menceritakan soal kedatangan sejumlah polisi ke rumahnya pukul 02.00 dini hari. Ini tentunya terkait dengan kedatangan Ridwan ke Jakarta. Rapat berlangsung hingga senja, lebih dari 3 jam lamanya.

Ketika saya keluar dan berdiri di depan pagar untuk membeli makanan, dua orang di lapangan badminton itu melemparkan pandangannya sesaat. Semuanya tak memakai seragam.

Mereka pun tetap meneruskan perbincangan.

(anugerah.perkasa@bisnis.co.id)