TRAGEDI PULAU PADANG: Dari Lukit Hingga Tebet Dalam (2)

by Madeali


Oleh Anugerah Perkasa

TRAGEDI PULAU PADANG: Dari Lukit Hingga Tebet Dalam (2)

SYAFRUDIN ADALAH orang yang paling pendiam di antara keenam relawan aksi bakar diri dari Pulau Padang. Orangnya tak banyak bicara. Dia baru berkata-kata setelah ditanya. Tubuhnya kurus dan berkulit sawo matang.

Ciri khas lainnya adalah kumis lebat yang melintang di bawah lubang hidung. Kumis itu pula yang sering dijadikan bahan ejekan antar mereka untuk membunuh rasa bosan di dalam bilik kecil tersebut.

“Kalau dibakar, maka kumis itu akan bunyi tek..tek..tek..,” ujar Ridwan suatu kali.

Mereka semua tertawa.

Syafrudin sehari-hari bekerja sebagai petani karet dan tinggal di Desa Lukit. Ini adalah desa dengan tumpang tindih lahan antara permukiman-konsesi terbesar yakni sekitar 20.245 hektare. Punya dua orang anak dengan usia tertua 8 tahun.

Dia juga bukan orang baru kemarin sore yang melawan perusahaan milik konglomerat Sukanto Tanoto itu. Mulai aksi demonstrasi hingga aksi menjahit mulut. Dari Pekanbaru hingga ke Jakarta. Syafrudin juga adalah menantu Yahya Hasan-abang dari Ridwan yang turut menjahit mulutnya di Jakarta-yang pernah saya temui, Maret lalu.

Mertua dan menantu itu pun membicarakan hal yang sangat penting-dan menurut saya ganjil-sebelum keberangkatan ke Jakarta. Siapa yang mau mengalah untuk membatalkan aksi bakar diri di antara mereka berdua?

Menurut Ridwan, abangnya terpaksa membatalkan rencananya karena mengkhawatirkan kondisi ibu mereka yang tahu kedua anaknya akan melakukan aksi ekstrim tersebut. Ayah Ridwan dan Yahya sudah meninggal dunia karena sakit pada 2007. Yahya sebelumnya bersikeras untuk tetap turut serta.

“Mamak kalau tahu dua anaknya melakukan ini, bisa keluar air mata darah, Bung,” ujarnya pada saya. “Itu mengapa akhirnya Abangku mengalah. Syafrudin yang berangkat.”

Hampir semua relawan tak memberitahukan rencana aksi bakar diri itu kepada orang-orang yang dicintainya. Kecuali Ridwan dan Jumani. Ridwan memberitahukan istrinya, Annisatul Aliyah, sedangkan Jumani membeberkan rencana tersebut kepada istrinya, Syariah. Syariah awalnya sontak marah. Dia mengancam Jumani untuk ikut membakar diri, anak dan rumah mereka kelak.

Ridwan akhirnya ikut membantu Jumani menerangkan mengapa rencana itu harus diambil. Syariah sendiri adalah Ketua Laskar Perempuan di Desa Bagan Melibur, yang ikut menentang PT RAPP.

“Dia akhirnya ikut mengantarkan Jumani di bandara di Pekanbaru untuk berangkat ke Jakarta,” kata Ridwan. “Ini adalah masalah untuk memilih. Nyawa satu atau seribu orang.”

Maksud Ridwan adalah aksi bakar diri itu diperkirakan akan mencegah masyarakat Pulau Padang untuk bentrok dengan aparat keamanan di lapangan. Walaupun PT RAPP sudah mendapatkan surat izin usahanya, tetapi masih ada masalah tumpang tindih lahan di sejumlah tempat.

Di antaranya adalah sepanjang Desa Tanjung Padang hingga Desa Lukit, baik lahan yang dimiliki perseorangan atau kelompok tani.

Hingga akhir tahun lalu, masalah tumpang-tindih tanah terjadi pada Dusun Sungai Hiu (enam pihak), Dusun Sungai Labu (empat pihak) dan Dusun Sungai Permata (satu pihak). Wilayah lainnya adalah Desa Lukit (23 pihak) serta kawasan Sungai Kuat (satu pihak), yang juga berada dalam desa tersebut.

Total luas Pulau Padang sendiri mencapai 110.000 hektare sementara izin di atas kertas PT RAPP mencapai sekitar 41.205 hektare. Perusahaan memang telah membuka hutan di dua tempat: Dusun Sungai Hiu dan Senalit, Desa Lukit.

“Saya hanya memberitahukan pak dhe masalah bakar diri. Kalau orangtua, takut nge-drop,” ujar Joni Setiawan.

“Saya memberitahukan adik saya bahwa berangkat ke Jakarta, tetapi dia tidak tahu masalah bakar diri,” kata Suwagiyo.

“Awalnya orangtua tidak tahu, tapi lama-lama mereka mendengar kabar itu,” ujar Ali Wahyudi. “Saya bilang ke mamak, doakan saya.”

Sebelum berangkat ke Jakarta, semua relawan-kecuali Ridwan-adalah petani. Mereka biasa menyadap karet sejak pagi hingga menjelang siang. Istilah yang sering dipakai adalah menoreh. Bahkan ada yang biasa memulai untuk menyadap pohon itu sejak pukul 02.00 dini hari karena kebunnya lebih luas. Biasanya mereka melakukannya sampai pagi hari. Rata-rata hasil pendapatan karet diperoleh petani secara harian.

Pendapatan dari tanaman lainnya diperoleh dari kelapa sawit untuk setiap tengah bulan, sedangkan sagu untuk tahunan. Kini kebun mereka terancam akan digusur dengan munculnya area konsesi PT RAPP. Suwagiyo hingga Ali pun harus meninggalkan lahan-lahan mereka untuk meneruskan perlawanan. Mungkin kali ini lebih lama. Walaupun demikian, mereka masih mengecek kondisi keluarga mereka di kampung halaman.

Ini bisa jadi semacam obat rindu di balik bilik yang sempit itu.

Suwagiyo masih bolak-balik menelepon saudaranya untuk tahu soal pendaftaran sekolah anaknya.
Jumani kadang menerima telepon berlama-lama di bawah kolong meja. Joni beberapa kali mengecek akun Facebook miliknya.

Ridwan tak henti-hentinya menerima telepon untuk wawancara maupun laporan warga di Pulau Padang. Syafrudin lebih banyak diam dan menyeruput kopi sambil menonton televisi. Ali-yang paling muda-seringkali rebahan sambil mendengarkan musik di telepon selularnya melalui earphone.

Ali juga adalah orang yang paling sering kena olok-olok-setelah Syafrudin- karena paling muda dan belum menikah. Ali memang lagi naksir adik ipar Ridwan. Gadis belia itu bernama Nurul Fauziah dan masih mengenyam pendidikan sebuah pesantren di Jambi.

Gara-gara Nurul pula, Ridwan seringkali meminta Ali agar mengerjakan sesuatu untuknya. Dari memasak air, membuat kopi hingga mentransfer pulsa telepon. Mereka tertawa-tawa saja ketika Ali disuruh macam-macam.

Kami bergurau dengan mengatakan Ali harus melakukannya demi restu Ridwan. Ali juga pernah bekerja di Johor, Malaysia selama 4 bulan sebagai buruh las besi. Saya cukup penasaran lagu apa yang didengarkan pemuda yang tengah kasmaran itu ketika tengah beristirahat.

“Memang lagu apa yang sering didengerin sambil tiduran?” tanya saya pada suatu sore.

“Lagu Judika,” kata Ali, sambil senyum-senyum. “Aku Yang Tersakiti.”
(anugerah.perkasa@bisnis.co.id) (faa)