TRAGEDI PULAU PADANG: Dari Lukit Hingga Tebet Dalam (4)

by Madeali


Oleh Anugerah Perkasa

TRAGEDI PULAU PADANG: Dari Lukit Hingga Tebet Dalam (4)

ANDREAS HARSONO, seorang sahabat dan peneliti Human Rights Watch (HRW)-organisasi pemantau hak asasi manusia di New York-untuk Indonesia, mengirimkan surat elektronik kepada perwakilan sejumlah media internasional di Jakarta pada 5 Juli 2012.

Harsono mengabarkan soal kedatangan enam relawan aksi bakar diri di ibukota. Mungkin, dunia akan tertarik memperhatikan wawancara Ridwan yang akan melakukan aksi radikal itu. Dia mencantumkan nomor telepon selular Ridwan dan saya dalam surat tersebut.

“Enam relawan itu telah mencoba pelbagai cara untuk berkomunikasi dengan pemerintah dan parlemen di Riau, Menteri Kehutanan serta Satuan Tugas REDD namun tak menghentikan APRIL melakukan deforestasi,” tulis Harsono dalam suratnya. “Muhammad Ridwan, pemimpin dari Pulau Padang, akan mengambil langkah radikal: membakar dirinya.”

Pagi itu saya baru saja sampai di Tebet Dalam. Kami bercakap-cakap soal macam-macam. Dari tokeh-penampung hasil kebun-yang biasa memberikan pinjaman kepada petani hingga tingginya bunga pegadaian swasta.

Suasana masih ramai. Polisi masih berjaga-jaga. Di depan lapangan badminton. Ada yang singgah sebentar di ruang tamu. Atau ada yang sampai minta dibuatkan kopi panas.

Saya sendiri melihat petugas yang masih muda-kira-kira berumur 25 tahun- yang memakai pakaian sangat kasual: kaos merah, celana selutut dan sibuk dengan telepon selularnya. Dia duduk berpindah-pindah di teras rumah. Ridwan sendiri sibuk menerima telepon. Saya kira ini adalah imbas awal dari surat elektronik Harsono.

“Siapa yang telepon, Bung?” kata saya.

“Ini dari Kyodo News. Tapi tak tahu namanya siapa.”

Benar saja. Saya menemui wartawati Kyodo News Ade Irma sekitar satu jam kemudian. Dia meminta izin untuk mengambil foto Ridwan di ruang tamu, Ridwan keberatan. Saya memberitahukan mengapa para relawan sulit merasa aman untuk berada di ruang tamu. Dia mengerti dan akhirnya berpamitan.

Dua wartawan sekaligus fotografer kemudian datang bergantian: Agence France-Presse hingga radio internet Voice of Human Rights.

Surat elektronik Harsono terbukti ampuh.

Saya mulai kerepotan menerima telepon. Saya mencatat sembilan media yang menelepon saya untuk mengetahui soal rencana aksi bakar diri. Dari koran, televisi hingga situs berita. Ada yang memperoleh informasi itu melalui Blackberry Messenger (BBM) dan tentunya kotak surat elektronik.

Ada yang mengonfirmasi apakah Ridwan dan lain-lain akan segera melakukan aksi bakar diri hingga minta diberitahukan sesegera mungkin untuk mendapatkan gambar bagus.

“Kalau bisa diberitahukan sejam sebelumnya,” kata seorang reporter televisi ketika menelepon saya. “Biar kami mendapatkan gambar bagus.”

“Mas, saya mendapatkan BBM. Kapan mereka bakar diri?” kata seorang wartawati situs berita.

“Apakah saya boleh mendapatkan rilisnya?” kata seorang wartawan. “Bisakah dikirimkan melalui email atau BBM?”

Sebagian pertanyaan mereka tentu membuat saya menghela nafas. Saya pribadi tak setuju soal aksi bakar diri Ridwan. Namun saya tahu mereka tak main-main. Kesungguhan tekad ini tak hanya saya lihat di Tebet Dalam, namun di suatu malam di teras Mesjid Sirajul Huda, Desa Bagan Melibur.

Saya mengerti betul mengapa warga Pulau Padang melakukan aksi ekstrim itu. Tapi saya tak mau juga wartawan mendorong mereka melakukan aksi itu melalui pertanyaan-pertanyaan dangkal. Atau malas mempelajari kasus itu lebih dahulu.

“Ini kampung halamanku sendiri, Bung,” kata Ridwan suatu kali. “RAPP harus hengkang dari Pulau Padang.”

Senja itu saya juga menunggu tiga wartawan lainnya. Wahyu Dramastuti dan Yulan Kurima Meke dari Sinar Harapan serta Jonathan Vit dari the Jakarta Globe. Saya menemani mereka secara bergantian.

Khusus untuk Vit, saya bersedia menjadi penterjemahnya karena dia tak berbicara bahasa Indonesia. Wawancara Sinar Harapan berlangsung lebih dulu dan memakan waktu sekitar 1 jam lebih.

Dalam percakapan Wahyu dan Yulan, Ridwan memaparkan dirinya pernah menjadi pelawak di kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, dengan mendirikan grup Lebai. Ini singkatan dari Lawak Era Baru ala Islam. Dia dan dua temannya pernah menjuarai lomba lawak tingkat kampus hingga provinsi.

Itu mungkin menjelaskan, mengapa Ridwan sering melucu di depan kawan-kawannya.

Namun tak hanya soal lawak. Ridwan juga pernah menceritakan bagaimana perlawanan mereka harus bercermin dengan para petani di Jambi. Petani Pulau Padang pernah bertemu petani dari Jambi dalam Kongres Nasional STN di Lampung, April tahun lalu. Kebanyakan mereka melawan perusahaan raksasa kelapa sawit.

Suwagiyo menambahkan perjuangan di provinsi tersebut cukup lama. Ada yang dimulai dari sejak anak mereka kecil hingga kini masuk sekolah menengah pertama.

Enam relawan bakar diri bahkan mengakui kisah perlawanan di Jambi sedikit banyak memengaruhi mereka. Selama 3 tahun perlawanan di Pulau Padang dinilai belumlah apa-apa.

Dari desa-desa terpencil di Pulau Padang hingga di bilik sempit dan pengap di Tebet Dalam.

Saya pun teringat petikan wawancara yang hampir berakhir oleh reporter dari the Jakarta Globe malam itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15. Koran berbahasa Inggris tersebut mewawancarai Ridwan dan kawan-kawannya hampir 2 jam.

“Mengapa mereka tak kelihatan sangat khawatir?” kata Jonathan Vit. “Padahal mereka akan melakukan aksi yang sangat ekstrim.”

“Kami melakukan aksi bakar diri kali ini bukan karena ketakutan,” jawab Ridwan. “Tetapi, karena cinta.”

Sabtu, 15 Juli 2012. Harian Riau Pos mengabarkan kedatangan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan ke acara rapat kerja nasional Serikat Perusahaan Pers (SPS) di Pekanbaru, sehari sebelumnya. Dia mengatakan kasus Pulau Padang telah rampung. Kementerian tersebut setuju untuk mengeluarkan sejumlah desa dari area konsesi.

Tetapi malam itu juga, saya mendapatkan kabar, sekitar tujuh anggota Brimob mulai turun ke Dusun III, Bangunsari, Desa Kudap.

Dua kontak saya-Muhammad Darwis, Sekretaris STR Kabupaten Meranti dan seorang warga desa, Karyono-menceritakan, Brimob ingin mengamankan pelaksanaan tata batas dari perusahaan.

Sebelumnya mereka berkumpul di kediaman Kepala Desa Kudap Sutrisno pada pukul 11.00 pagi. Celakanya, kedatangan mereka membuat takut sebagian warga. Saya memperhatikan peta indikatif Desa Kudap sebenarnya telah ditandatangani oleh Tim Sembilan dan Kepala Desa.

Polsek Merbabu dan Polres Bengkalis pun mengklaim mereka tak tahu-menahu soal itu. Namun, Polda Pekanbaru menyatakan kedatangan Brimob adalah untuk mencegah ancaman sosial di Pulau Padang. Kehadiran mereka dianggap sah-sah saja.

Tampaknya, pernyataan Zulkifli Hasan di Hotel Pangeran yang mewah, semakin jauh panggang dari api. Sisi baiknya, rencana revisi tersebut menunda Ridwan membakar dirinya di depan Istana Merdeka.

Namun fakta-fakta di lapangan itu, sekali lagi menunjukkan, perjuangan Ali, Jumani, Joni, Ridwan, Suwagiyo serta Syafrudin, masih jauh dari kata selesai.

(anugerah.perkasa@bisnis.co.id) (faa)