Pengganti Wikileaks Hadir di Islandia

by Madeali


oleh Lowana Veal

REYKJAVIK (IPS) – DENGAN pemenjaraan Bradley Manning dan penahanan Julian Assange, WikiLeaks vakum. Namun ini tak berarti aktivitas pembocoran dan pengungkapan informasi oleh yang dikenal sebagai “peniup peluit” (whistleblower) terhenti. GlobaLeaks mendaftar sejumlah situs semacam itu, yang aktif dengan kadar berbeda-beda. Tak lama lagi daftar itu bertambah dengan kemunculan The Associated Whistleblowing Press (AWP).

“Salah satu motivasi utama AWP adalah menyatukan wartawan di seluruh dunia dan menyajikan informasi kepada publik,” kata wartawan asal Brazil, Pedro Noel, salah seorang pemrakarsa. “WikiLeaks menganalisis dan melaporkan data-data yang mereka rilis, tapi mereka tak melakukannya lagi.”

Noel merasa ada jurang di dalam komunitas “peniup peluit”, antara data mentah –dokumen yang menyimpulkan perbuatan tercela– dan laporan berita yang berimbang, bebas dari agenda politik dan ekonomi. Dia memutuskan bahwa sebuah platform baru diperlukan.
“Jika data tak dapat menjelaskan dan dianalisis dengan cara yang dapat dimengerti orang, tak ada guna merilisnya.”
Noel kini tinggal di Reykjavik, tempat dia mendirikan sebuah kantor, dan membangun jejaring seluruh dunia. Dia dan para koleganya bermaksud meluncurkan situsweb “peniup peluit” itu pada pekan terakhir September ini.

Noel pernah jadi relawan WikiLeaks, sehingga tahu cara kerjanya. Dia bilang ada sejumlah perbedaan antara AWP dan WikiLeaks.
“Pertama, ada perbedaan struktural. Kami akan menggunakan kerangka kerja desentralisasi. Di dalam AWP, para editor dan staf akan bertukar posisi: kami tak ingin ada seorang ‘ikon’. Kami akan bekerjasama dengan para wartawan dan aktivis di pusat-pusat berbeda, dan semua kelompok kerja akan memiliki platform sendiri untuk mendapatkan dokumen dan sejenisnya,” katanya kepada IPS.

Sementara, “WikiLeaks berjalan melalui sebuah situsweb yang hanya dalam bahasa Inggris. WikiLeaks juga mempublikasikan data-data tentang kepentingan global, terutama yang berkaitan dengan Amerika Serikat. AWP ingin berbagai laporan pelanggaran publik pada tingkat basis lokal dan dengan demikian membantu masyarakat lokal.”

Noel berkata penting untuk punya tim kerja di berbagai negara dan dalam aneka bahasa. “Kami ingin menekankan skala lokal sekaligus internasional.”

“Perbedaan penting lain, WikiLeaks memberi data secara eksklusif, misalnya untuk harian Inggris The Guardian dan lainnya ketika merilis Cablegates.” Cablegates merujuk perilisan kabel diplomatik AS dari konsulat dan kedutaan seluruh dunia.

“AWP sedang membangun tim periset dan analis yang akan mempublikasikan laporan mereka sendiri, memakai situsweb lokal.” Situsweb utama akan memiliki tautan dari situsweb lokal itu, yang akan daring saat situs diluncurkan.

Anonimitas dijamin karena AWP menggunakan teknologi GlobalLeaks berbasis open-source, yang dirancang khusus untuk upaya-upaya “peniup peluit”, dan diakses dengan perantas (browser) TOR –yang didasarkan atas anonimitas. Tujuannya agar AWP takkan bisa melacak pengirim data. Tambahan lagi, AWP mendorong enkrispi surat elektronik.

AWP akan akan menyimpan dokumen yang dibocorkan itu sampai mereka memastikan keasliannya. Betapapun pengirim tak bisa dilacak, Noel optimis hal itu bukanlah masalah.

“Informasi elektronik menyajikan banyak sumber. Sebuah foto memberi informasi elektronik tertentu, dan hal yang sama berlaku untuk dokumen yang dipindai (scan). Ini juga memungkinkan untuk tahu apakah sebuah dokumen hasil pindai adalah asli atau tersusun dari beberapa dokumen berbeda,” kata Noel.

Islandia mungkin tempat asing bagi saluran “peniup peluit”. Namun Noel bilang, salah satu alasan utamanya adalah resolusi parlemen tentang Inisiatif Media Modern Islandia (IMMI), yang disahkan dengan suara bulat pada 2010 oleh Althingi (Parlemen) Islandia, yang bertujuan memberi ruang keselamatan bagi para “peniup peluit” dan wartawan investigasi.
Resolusi juga ingin Althingi memperkenalkan rezim legislatif baru yang melindungi dan memperkuat kebebasan berekspresi, yang memungkinkan Islandia menjadi surga transparansi internasional.

Diprakarsai aktivis dan anggota parlemen Birgitta Jonsdottir, resolusi IMMI memetik bagian terbaik dari undang-undang transparansi di seluruh dunia. Untuk menjadi undang-undang, ia kini harus melewati proses legislatif. Progresnya lambat karena beberapa pasal dihadang.

Beberapa kekurangan menjadi perdebatan. Salah satunya, segelintir spesialis menekankan keamanan internet pada dasarnya tak memadai di Islandia. Akankah ini berpengaruh pada AWP?

Smari McCarthy, direktur IMMI, dan duduk dalam komite pelaksana, yang membangun isu-isu investigasi, mengatakan perlu melihat lebih dalam pelaksanaan IMMI. Dia bilang pertimbangan keamanan adalah pasti namun sedang ditangani.

“Tahun ini, Tim Tanggap Darurat Komputer (CERT) didirikan di Islandia sbagai pusat koordinasi dan manajemen insiden untuk masalah keamanan jaringan di Islandia. Selain itu, menteri luar negeri Islandia telah menetapkan komite keamanan nasional, terdiri atas anggota-anggota parlemen, di mana bulan lalu saya memberikan keterangan tentang masalah terkait keamanan jaringan dan informasi di Islandia.”

Saat ini, McCarthy berkata, “tak bisa dibilang bahwa situasi di Islandia lebih buruk ketimbang negara-negara Eropa.”

Kehadiran IMMI merupakan instrumen pembentukan AWP di Islandia, kata Noel. “Tapi kami punya kepedulian yang sama dengan mereka sebagaimana individu atau inisiatif media yang berbasis di Islandia.” *

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik