Hilang Penat di Pulau Pelangi

by Madeali


Keindahan Pulau Pelangi

Keindahan Pulau Pelangi

“Luar biasa pemandangannya bro. Terbayar penat kita bro,” kata Usman, Koordinator Fitra Riau, pada saya saat pertama kali menginjakkan kaki di dermaga Pulau Pelangi terbuat dari kayu, Kabupaten Kepulauan Seribu, sekitar dua jam perjalanan menggunakan kapal cepat (ferry) dari pelabuhan dermaga Pantai Mutiara, satu kawasan elite, Pluit, Jakarta.

Pulau Pelangi dari Depan.

Pulau Pelangi dari Depan.

Kami merasa penat atau lelah, sehari sebelumnya bermalam di Pop Hotel, semacam hotel transit, 15 menit dari Soetta. Selain pelayannya tidak “bersahabat”, tidak ada air hangat dan kopi untuk diseduh di dalam kamar, jarak dari hotel ke Kota Tangerang juga jauh.

Pemandangan Pulau Pelangi dari dalam.

Pemandangan Pulau Pelangi dari dalam.

Senja hari setelah makan di satu warung, saya dan Usman hendak mencari tempat ngupi sembari menikmati Kota Tangerang juga hendak mencari persediaan selama di Pulau Pelangi, beberapa jam sebelumya panitia mengirim pesan tidak yang menjual odol di Pulau Seribu. Alamak!

Berpose depan Pulau Pelangi

Dari naik taksi, becak hingga naik oplet mengelilingi Tang City, kami tidak menemukan tempat ngupi yang nyaman selain di mal. Kami putuskan ngupi di hotel. Namanya Warung Koffe masih satu bangunan dengan Pop Hotel. Si pemilik warung menyewa pada pemilik Pop Hotel. Pengunjung berbahasa Malaysia, Timur Tengah dan Inggris menikmati kopi, indomie dan panganan lainnya. Saya, Usman dan teman dari Sumsel ikut kongkow. Setelah meneguk secangkir kupi tubruk, karena makanan su habis, kami memesan indomie berisi mi, air putih hangat dan bumbu!

Belum sampai sejam kongkow, seorang anak muda mengangkat bantalan busa tempat duduk, membersihkan lantai, mengangkat piring dan gelas, serta meminta maaf sembari memberi bon. Dia bilang, warung sudah saatnya tutup pada pukul 22.00. Lampu di teras juga offkan. Nah, belum hilang penat, kami diusir secara “sopan”.

Meski hotel ini membuat saya da Usman penat, saya apresiasi sebab hotel ini ikut kampanye hemat energi dan hijau. Seruan-seruan hijau, sala satunya terlihat di pintu lift.

Salah satu tulisan hemat energi di Pop Hotel

Use less energy today di pop hotel

 

Siang itu, bertarikh Sabtu, 5 Oktober 2013. Saya menikmati indahnya Pulau Pelangi: ikan-ikan kecil bergerombol hilir mudik membentuk lingkaran, air laut kebiruan bisa melihat karang, pasir putih di pinggir bibir pulau dan pepohonan hijau mengelilingi pulau dan suara ombak menggulung-gulung berdesir saat menyentuh bibir pulau berbasir putih.

cottage

Usman, saya dan 33 lainnya sejak di atas kapal memotret panorama Pulau Pelangi sembari kagum pada pulau yang memiliki setidaknya 30 cottage, kano, dan alat untuk menyelam untuk snorkling.

sunset pelangi

Saya, Usman dan 33 peserta plus panitia dari Sumatera dan NTB, hingga empat hari ke depan belajar  Analisis dan Advokasi Anggaran sektor Kehutann bersama Seknas Fitra ditaja oleh Samdhana, dan tentu saja: sembari menikmati indahnya pulau seluas 11,82 ha.

Pemandangan pelangi

Tarikh Selasa, 8 Oktober 2013. Kami meninggalkan Pulau Pelangi menuju Jakarta. Tentu saja saya kembali penat. Penat melihat kemacetan Jakarta!