Ketika Habitat Macan Dahan Sumatera Tersandera Persoalan Klaim Lahan

by Madeali


March 10, 2014 Ridzki R. Sigit dan Made Ali, Pekanbaru, sumber mongabay indonesia

Neofelis mengaum ketika mongabay indonesia memotre. Foto Made Ali
Persoalan konflik lahan yang rumit di area konsesi HTI PT Suntara Gajapati, pemasok kayu untuk pulp bagi group Asia Pulp and Paper di Riau menyisakan persoalan terhadap kelestarian habitat satwa liar di wilayah ini. Habitat macan dahan didera oleh persoalan penguasaan lahan yang melibatkan pihak perusahaan dan masyarakat sekitar.

Dampak ketidakjelasan persoalan pengelolaan hutan di Riau ternyata tidak saja dirasakan oleh manusia, tetapi juga berpengaruh kepada kehidupan satwa liar. Salah satunya macan dahan langka (Neofelis diardi), endemik Pulau Sumatera. Satwa langka ini ditengarai keluar dari hutan karena terjadinya gangguan asap kebakaran yang menyebabkan satwa ini kehilangan orientasi arah.

Saat dikunjungi oleh Mongabay Indonesia (25/02), anak kucing besar berekor panjang berbulu belang hitam itu, berada di sebuah kandang yang terbuat dari kayu. Awalnya satwa tersebut ditemukan oleh Panji Suratmin (54 tahun), salah satu warga yang tergabung dalam kelompok Hasan Basri di daerah Batu Teritip, Kecamatan Sungai Sembilan, Kabupaten Dumai, Riau.

“Kondisinya lemas sekali saat kami temukan,” kata Panji kepada Mongabay Indonesia, saat ia memberi air pada sang macan dahan.”Mungkin karena kabut asap, dia keluar dari hutan,” kata Panji. Panji bersama penghuni rumah adat, sudah tiga hari memantau sang macan dahan sekaligus untuk ”memastikan induknya datang atau tidak.” Selama di dalam kandang, sang macan dahan diberi makanan berupa ayam dan diberi minum oleh warga yang memeliharanya.

“Macam dahan hampir sama langkanya dengan harimau. Mereka mungkin malah lebih terancam dibanding harimau, karena mereka lebih membutuhkan hutan lebat dengan pepohonan besar, yang sekarang sudah banyak menghilang di banyak tempat di sumatera. Populasi di seluruh Riau kita belum tahu, tapi kepadatan di Riau sekitar 1,29 individu di dalam bentang 100 km2,” kata Sunarto, Species Specialist WWF kepada Mongabay Indonesia.

Keberadaan macan dahan di Sumatera dan Kalimantan sendiri terpisahkan oleh kerabatnya yang berada di daratan Asia yaitu Neofelis nebulosa. Neofelis diardi oleh para peneliti dianggap merupakan spesies tersendiri setelah jaman es yang memisahkan pulau-pulau di nusantara dengan daratan Asia.

Persoalan yang Menggantung

Area tempat hidup dari macan dahan, harimau serta satwa liar lain di Riau, mulai terganggu oleh masuknya aktivitas manusia. Di wilayah yang masuk administratif kecamatan Sungai Sembilan, Dumai, area hutan alam telah berubah menjadi area penguasaan konsesi seperti hak pengusahaan hutan, hutan tanaman industri akasia dan sebagian telah dijadikan ladang dan kebun oleh masyarakat. Illegal logging masif sangat marak di wilayah ini sejak awal tahun 2000-an yang menyisakan hutan sekunder yang tidak lagi utuh pada saat ini.

Wilayah ini berhadapan dengan wilayah Sei Nepis, yang pada pertengahan dasawarsa 2000-an direkomendasikan sebagai perlindungan satwa liar untuk harimau (Sei Nepis Sumatran Tiger Sanctuary), namun hingga saat ini keberlanjutan dari program ini buram dan belum dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah. Ijin yang terlanjur diberikan kepada konsesi oleh pemerintah telah menyebabkan area ini menjadi area yang dibebankan ijin konsesi dan tidak bisa begitu saja ditunjuk sebagai wilayah cagar perlindungan alam.

Karena keterbatasan perijinan tersebut, cara lain yang saat ini direkomendasikan oleh para peneliti adalah tetap membiarkan sebagian hamparan di dalam area konsesi tetap sebagai hutan alam dalam rangka menjaga keutuhan kekayaan ragam hayatinya. Kebijakan ini dikenal dengan kebijakan perlindungan hutan bernilai konservasi tinggi atau high conservation value (HCV). Wilayah HCV dapat berada di wilayah konsesi perusahaan pemegang ijin IUPHHK HTI maupun HPH dengan komitmen tidak akan dirubah maupun ditebang oleh pemegang konsesi.

Sebagian wilayah hutan di blok Sungai Sembilan saat ini masuk dalam konsesi HTI Suntara Gajapati, yang merupakan pemasok independen bagi industri pulp dan kertas Asia Pulp and Paper (APP). Berbeda dengan rencana pengelolaan di atas kertas, persoalan yang berada di lapangan ternyata berbeda, dimana sebagian wilayah konsesi secara de facto telah berada di bawah klaim dan diduduki oleh masyarakat.

Dari total 34.927 hektar lahan konsesi dari perusahaan Suntara Gajapati (PT SGP), sekitar hampir separuhnya telah diduduki oleh masyarakat dan telah berubah peruntukan menjadi area perkebunan rakyat dan sawit. Pihak perusahaan mengaku bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengamankan wilayah-wilayah yang telah diduduki oleh masyarakat itu.

Di satu sisi, semakin banyaknya manusia yang menempati wilayah ini, akan semakin membuat wilayah area gambut ini rawan terhadap kebakaran. Beberapat titik api bermunculan di wilayah konsesi PT SGP, termasuk salah satunya yang tidak berjarak jauh dari kantor pada saat Mongabay Indonesia mengunjungi area ini.

Di wilayah PT SGP sendiri, telah muncul sejumlah titik api selama bulan Februari 2014 saja. Titik-titik api inilah yang kemudian menyebabkan munculnya kebakaran lahan yang membuat terganggunya hidupan liar selain menurunkan kualitas hidup manusia di wilayah ini.

Kebakaran yang sulit dipadamkan terjadi karena wilayah ini merupakan area lahan gambut yang amat rawan terhadap kebakaran. Api tidak saja tampak di permukaan, tetapi juga di bawah permukaan tanah. Perubahan bentang lahan menjadi kebun HTI akasia, sawit maupun areal permukiman bisa saja akan semakin memperburuk kondisi lahan gambut yang ada.

Dari sekitar 13 kelompok masyarakat yang mengklaim wilayah area konsesi PT SGP, salah satunya adalah blok bentang lahan seluas 1.600 hektar yang diklaim oleh kelompok Kalifah Hasan Basri sebagai wilayah adatnya sejak tahun 2006. Pada tahun 2011, pihak PT SGP dengan kelompok Hasan Basri telah bersepakat lahan tersebut akan dialokasikan oleh perusahaan kepada kelompok ini. Setahun sebelumnya kelompok ini menolak PT SGP untuk bekerja di lahan yang mereka klaim sebagai lahan adat.

Sesuai dengan perjanjian, 900 hektar dari total wilayah telah dibuka pada tahun 2011 oleh PT SGP dan sebagian telah mulai ditanami dengan tanaman karet oleh warga kelompok. Sedangkan sisa dari 700 hektar hingga saat ini masih berupa hutan alam yang terindikasi sebagai blok hutan HCV.

Persoalan lama ini menjadi menggantung kembali. APP yang terikat dengan komitmen menjalankan Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy) sejak Februari 2013, menyiratkan akan meninjau ulang janji kepada kelompok Hasan Basri untuk blok berhutan di area 700 hektar tersebut.

Dengan adanya komitmen zero deforestation policy untuk menghentikan pembabatan hutan alam, maka APP terikat janji dengan para pemangku kepentingannya baik yang berada di tingkat internasional maupun nasional untuk tidak lagi mengkonversi hutan alam. Janji ini akan melibatkan seluruh pemasok kayu industri pulp APP, baik yang berada di bawah kendali langsung group Sinar Mas Forestry (SMF) maupun para pemasok independennya.

Persoalan lama yang terkuak pun berubah menjadi persoalan yang rumit. Jauh sebelum APP merumuskan dan mengumumkan Kebijakan Konservasi Hutannya, pada tahun 2011 pihak PT SGP yang merupakan suplier APP, telah menyetujui klaim kelompok Hasan Basri untuk mengkompensasi sebagian wilayah konsesi untuk kepentingan kehidupan masyarakat. Untuk saat ini, persoalan ini dead lock, Hasan Basri belum mau menyetujui klaim kompensasi lahan pengganti yang ditawarkan oleh APP atas tidak dikonversinya blok hutan HCV seluas 700 hektar tersebut.

Di sisi lain, lahan 700 hektar ini pun merupakan lahan yang terhubung dengan blok hutan utuh dengan luas lebih kurang 2.000 hektar yang relatif belum terganggu. Blok hutan ini berada di blok hutan Sei Nepis yang saat ini berada dalam wilayah kerja HPH PT Diamond Raya Timber. Hutan alam terakhir ini bak merupakan pulau habitat satwa untuk tetapi hidup dan bertahan di wilayah ini. Di dalam kawasan ini menurut penelitian dari Sumatran Tiger Trust merupakan salah satu kantung terbesar dari habitat harimau Sumatera.

Pada saat Mongabay-Indonesia melakukan kunjungan kerja ke rumah Hasan Basri, ia menyatakan bahwa wilayah adat merupakan suatu yang pasti, tidak mungkin untuk ditukar maupun dipindahkan. “Saya tidak dapat menukar wilayah adat, tanah yang merupakan hak saya adalah tanah ini, sedangkan tanah yang lain adalah hak yang lain” ujarnya. Hasan Basri sendiri mengklaim bahwa dirinya adalah keturunan keempat dari Panglima Nasam, seorang panglima perang, sekaligus salah satu tokoh pendiri kota Dumai pada jaman kerajaan Melayu Riau dulu.

Saat ini Hasan Basri yang menyebut dirinya sebagai Kalifah, mengaku bahwa ia membawahi satu kelompok dari 800 kepala keluarga. Berbeda dengan kelompok adat pada umumnya, kelompok Hasan Basri terdiri dari berbagai etnis, selain orang Melayu Riau, maka warga kelompoknya berasal dari etnis Jawa, Batak, Bugis dan Minang. “Kami tidak membedakan etnis, kelompok adat kami mencirikan Indonesia, demikian pula agama, kami tidak membedakan agama, siapapun bisa bergabung disini. Selama ia dan keluarganya menjalankan apa yang digariskan oleh kelompok. Tidak bikin ribut.”

Sesuai dengan rencana Hasan Basri untuk pengelolaan lahan 1.600 hektar ini, maka 1 kepala keluarga akan memiliki 2 hektar lahan. Sehingga dengan demikian akan ada 800 KK yang akan terbagi rata di lahan tersebut. Hasan Basri sendiri telah mendirikan sebuah rumah adat besar di salah satu blok wilayah lahan yang dianggap sebagai wilayah adatnya. Di samping rumah adat Melayu besar tersebut, ia membangun sebuah bangunan mesjid yang juga bercorak Melayu. Di lahan adat, menurut penuturan Hasan Basri, terdapat 40 anggota kelompok yang tinggal tetap.

Ketika menemani Mongabay Indonesia berjalan ke area yang telah dibuka, Panji Suratmin salah seorang anggota kelompok Hasan Basri yang beretnis Jawa, mengeluh dengan kematian tanaman karet yang dikelolanya. “Baik karet, jagung atau padi, yang kami tanam banyak yang mati, kebanyakan mati waktu air pasang dari banjir kanal gambut.” Dari penampakan di lapangan memang terlihat banyak bibit tanaman karet yang mati karena layu akar.

“Yang tumbuh subur di lahan gambut sini cuma labu, kalau pisang lumayan buat sehari-hari,” ujarnya. Saat ditanya, ia mengaku telah mengenal Hasan Basri sejak 12 tahun lalu. Panji dan keluarganya pindah dari Aceh ke Riau pada saat situasi konflik bersenjata Aceh meningkat. Ia dan keluarganya harus pindah saat desa transmigrasi tempatnya tinggal diserang oleh gerombolan bersenjata. Sejak bertemu dengan Hasan Basri, ia ditampung dan sejak itu menjadi anggota kelompoknya.

Panji sendiri saat ini mempertahankan hidupnya dengan bekerja serabutan, baik dengan mengolah lahan di wilayah adat Kalifah Hasan Basri maupun pergi keluar bekerja menjadi kuli tanam. Panji sendiri meskipun sudah berumur, masih terlihat lincah bergerak dengan tubuh kurusnya yang terpanggang matahari.

“Kalau bagaimana kelompok adat djalankan, saya tidak tahu. Yang saya tahu pak Kalifah yang memimpin, siapa yang mengurusi tiap-tiap bagian saya tidak tahu. Tanya saja ke pak Kalifah,” elaknya saat ditanya bagaimana mekanisme pengambilan keputusan kelompok dijalankan dalam komunitas adat Kalifah Hasan Basri. Demikian pula ia mengelak untuk menjelaskan bagaimana konsep penataan lahan dan hutan tersisa setelah seluruh lahan diserahterimakan kepada individu di dalam kelompok Hasan Basri.

Hingga artikel ini dibuat, belum terdapat kepastian masa depan dari area hutan alam tersisa 700 hektar di blok PT SGP. Meskipun pihak perusahaan telah menawarkan area kompensasi baru bagi anggota kelompok Hasan Basri, selama itu pula ia masih tetap kukuh dengan prinsipnya. Apa yang terjadi pada saat ini bagi APP bagaikan tersandera dengan berbagai persoalan sebelum era kebijakan komitmen pelestarian hutannya. Belum ada jalan keluar dari kasus ini.

”Kalau sudah sehat dan besar, kami pasti lepaskan ke hutan kembali,” kata Panji. Niat Panji memang baik, tetapi ketika habitat tempat hidupnya menyempit, mangsa telah menghilang, akankah macan dahan sumatera, harimau dan satwa liar lain tetapi hidup dan selamat di habitatnya selama klaim lahan masih berlangsung di atas habitat tempat ia hidup? Jangan-jangan sudah habis hutannya, saat urusan klaim lahan ini usai.