Kawah Putih Ciwidey, Bandung

by Madeali


Pada 10 Mei, saya dan istri, Yofika Pratiwi, hingga 13 Mei 2014, untuk satu urusan keluarga, terbang dari Pekanbaru menuju Bandung, dan tentu saja sekalian jalan-jalan.

 

Sekilas Kawah Putih di Ciwidey

Sekilas Kawah Putih di Ciwidey

KP 7

Saung Kecapi di Ciwidey

Pagi hari tiba di Soetta Jakarta, menggunakan minibus X Trans, tiga jam perjalanan baru tiba di Cihampelas, satu tempat wisata di tengah kota Bandung, biasa disebut Ciwalk. Ini kedua kali, saya dan istri berada di Cihampelas.

Saat masih di Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, saya sudah janjian dengan Apriadi, sepupu yang sepuluh tahun lebih tinggal di Bandung. Ia ngekost di daerah Dago, dekat dari Cihampelas. Kami janjian ketemu di Bandung Indah Plaza Mall. Ia sedang mengikuti bedah buku novel di jalan Lengkong kampus Universitas Pasuruan.

Ramen di Cihampelas. @madeali

Ramen di Cihampelas. @madeali

Tak jauh dari Ciwalk, kami makan ramen di Gerobak Ramen. Saat hendak memilih makanan, si karyawan mengatakan bila follow up twitter Gerobak Ramen dapat diskon 50 persen. Kamipun mengikuti @gerobakramen. Saya pesan ramen wakame, istri pesan ramen tomyam dengan tambahan topping ceker ayam. Sudah enak, diskon lagi!

Transportasi berupa oplet bisa membawa kita kemana saja keliling kota Bandung, ongkos perorang Rp 2.500-3.000 ribu sekali jalan.

Apriadi alias Dadi

Apriadi alias Dadi

Kami ketemu Apriadi alias Dadi di depan Gramedia depan BIP. Ia mengajak kami santai di samping Gramedia, di tengah perjalanan ia bilang ke saya,”Po’ masih ingatkan tempat ini? teringatlah ya kenangan 12 tahun lalu.” Po atau Sappo, dalam bahasa bugis artinya sepupu.

 

Ngopi Doeloe

Ngopi Doeloe

forrest cofi

Sambil tersenyum, 12 tahun lalu saya menyelesaikan Sekolah Menengah di SMA 10 Bandung di Jalan Cikutra. Sekolah kami biasa disebut sekolah pasar, maklum di depannya orang berjualan kebutuhan dapur dan sarapan khas bandung bubur ayam, cemilan macam cireng, oncom, peyem dan panganan lainnya.

Dua belas tahun lalu, di Kota Bandunglah saya berhasil menyelesaikan membaca buku tebal tentang peternakan, dan buku tebal lainnnya.
Buku-buku itu saya beli di daerah alun-alun atau palasari, tempat buku loakan dengan harga miring atau di gramedia.

Ya, di Kota ini kesadaran membaca saya mulai tumbuh, hingga kebiasaan itu saya bawa kemanapun. Saya belajar perbedaan kultur orang-orang Bandung yang lembut, dan pertama kali saya belajar makan ikan air tawar macam lele, nila dan lainnya. Saya belajar hidup mandiri, jauh dari kedua orang tua. Ah, sungguh banyak cerita dan petualangan di kota berplat “D” ini. Saya tinggal di daerah Cicaheum, tempat di mana Saung Udjo berada.

Kami santai di cafe Ngopi Doeloe. Kebetulan, saya sangat suka dengan suasana cafe: ada musik, suasana desain minimalis, dan tentu saja biasanya ada makanan dan minuman khas. Saya pesan Hot Black Forrest Coffe. Tentu, sedap. Tempat ini didesain untuk nongkrong atau sekedar minum kopi yang ngetren di Bandung.

Pose depan BCN

Senja hari, Dadi mengajak kami jalan-jalan kota Bandung, kebetulan malam minggu, kami menikmati Bandung Culinary Night/BCN di sepanjang Jalan Braga. BCN digagas oleh Ridwan Kamil, Walikota Bandung. Ia dibuka dua pekan sekali. Banyak sekali anak muda nongkrong, mulai dari anak punk, hingga anak-anak muda sedang main gitar dan ngamen. Namanya juga Culinary, makanan sosis panjang, dan makanan khas lainnya ala Bandung tersaji, macam cireng. Sambil bercanda kami menamainya cirik (tahi) digoreng alias Cireng, hehehehehee.

Kaos BCN

Seseorang memakai ikat kepala dari kain khas Bandung, sambil memegang papan peringatan agar tidak membuang sampah sembarangan. Juga ada anak-anak muda di jalan ujung Braga, merias muka menyerupai hantu setan. Istri saya takut sekali melihat mereka, termasuk Dadi. Bila hendak foto dengan mereka, harus bayar.

bcn denda

setan bcn

Hari kedua, dari jalan Derwati menggunakan motor matic, saya dan istri melewati darah Banjaran, Soreang menuju Ciwidey. Menggunakan google map dan bertanya sana-sini, empat jam lebih kami telusuri jalan. Makan siang di Riung Panyaungan, rumah makan nan sejuk dengan suasana alam pedesaan, dengan sajian ikan mas segar dengan sambal hijau, lumayan enak. Ini tempat khusus wisatawan bila hendak menuju Ciwidey.

Suasana menuju ciwidey

 

kebun strawberry

 

kebun petik strawberry

Jalanan terus menanjak naik, menuju pegunungan. Satu kilo sebelum tiba di Kawah Putih, istri tak sabar hendak memetik buah strawberry di Desa Alam indah, di mana warga memiliki kebun sendiri membangun kebun strawberry. Ia bisa dipetik sendiri, sepuasnya, sekilo Rp 50 ribu. Puas memetik buah berry dan memakannya, meski dilarang, perjalanan lanjut ke Kawah Putih.

Jalan menuju kawah putih, ciwidey

Jalan menuju kawah putih, ciwidey

Suasana Kawah Putih dari atas

Suasana Kawah Putih dari atas

Kawah Putih, indahnya

Kawah Putih, indahnya

Pukul 14.46 kami tiba di parkiran motor Kawah Putih. Untuk naik ke sana bisa menggunakan mobil pribadi dan ontang-anting, minibus macam oplet berwarna oranye. Lima kilometer naik ontang-anting dengan menanjak ke atas, kiri kanan pohon-pohon tinggi dan rimbun.

Panorama Kawah Putih

Panorama Kawah Putih

 

Kami tiba di kawan putih berada di atas pegunungan, membentuk kawan dengan air berawarna kebiruan, dan bau belerang. Tempat ini sering dijadikan foto preweding. Ada juga turis dari India, dan para pemotret dengan baju khas menawarkan jasa poto langsung jadi. Semua yang hadir mengabadikan: Indahnya Kawah Putih dengan suasana nan sejuk karena masih di kelilingi hutan alam.

KP 5

Suasana sejuk nan hening, ditambah seorang tua memainkan kecapi dengan lagu sunda, merdu. Kami kembali ke Bandung, setelah puas menikmati indahnya kawah di tengah gunung di kelilingi hutan alam.

Kami menginap di Cihampelas Hotel 2 dengan harga standar. Ada banyak hotel murah di daerah Cihampelas dan Dago atas bagi backpacker. Biasanya harga hotel akan naik pada weeekend. Namun, hotel Cihampelas harganya relatif murah dan standar.

Ciwalk jadi tempat persinggahan terakhir kami, sambil menikmati desain bangunan, tempat makanan ala jepang, cafe-cafe dan tempat santai.

ciwalk

Mujiga

mujigae

Kali ini tentu perjalanan spesial bersama istri dibandung 12 tahun lalu. Saya senang, masih bisa menikmati sejuknya hutan alam di atas gunung Patuha, Kawah Putih Ciwidey, di tempat saya tinggal, Riau hutan alam akan jadi cerita sejuk dan indah di dalam buku-buku sejarah kelak karena dirusak oleh korporasi tanaman industri pulp and paper dan perkebunan sawit. Sambil sesekali memetik Strawberry langsung dari kebunnya!

mujigo

ciwalk 2

Pada 4 Mei 2014, istri saya, Yofika Pratiwi Saragih, merayakan hari jadi ke 28 tahun. Saya tak sempat membelikan kado spesial, hanya kue cake dan sebingkai bunga mawar merah. Kami merayakan di rumah. Barangkali, ini “kado” untukmu. Hehehehe……..