Trustee Dalam Pusaran Taipan

by Madeali


 

Metta Dharmasaputra, jurnalis investigatif, penulis buku investigasi skandal pajak terbesar di Indonesia, satu siang awal Juni 2015 di sebuah hotel jalan Wahid Hasyim, Jakarta, di depan peserta CSO dari Riau dan Kalbar menyebut Taipan Sukanto Tanoto menggunakan trustee untuk menyamarkan uang skandal pajak Asian Agri Grup.

Buku Saksi Kunci

Buku Saksi Kunci

Sukanto Tanoto mempercayakan dua perusahaan First Island Trust Company Ltd (Fitco) di Mauritius dan Treston International Ltd di British Virgin Islands sebagai trusteenya.

Lebih detailnya Metta dalam bukunya “Saksi Kunci, Kisah Nyata Perburuan Vincent, Pembocor Rahasia Pajak Asian Agri Group” menulis nominee atau trustee untuk mewakili Sukanto Tanoto beserta istrinya, Tinah Bingei, juga kedua putrinya Imeda Tanoto ( saat itu 21 tahun) dan Belinda Tanoto (18 tahun) yang tercatat sebagai beneficial owners (dokumen declaration of ultimate beneficial ownership in Treston tertanggal 21 April 2004 dan dokumen declaration of trust Fitco tertanggal 26 September 2003 dan 30 April 2004).

Dalam dokumen itu juga alamat Sukanto Tanoto di 17, Morgoliath Road, Singapura. Ia tercatat menempati alamat 80 Raffles Place #50-01 UOB Plaza 1, Singapura.

Dua perusahaan trustee itu menampung uang hasil skandal pajak Asian Agri Grup.

Berawal dari perencanaan pengelolaan keuangan tahunan yang dibikin lima perusahaan induk di bawah bendera Raja Garuda Mas (RGM) Grup—Kini Royal Golden Eagle.

Dalam perencanaan keuangan tahunan, misal Asia Pacific Resources International Ltd (APRIL) dan Asian Agri Group masing-masing mematok setoran 70 persen dari arus kas tahunannya ke RGM. Nilainya sekira US$ 30 juta per bulan untuk APRIL dan US$ 8 juta untuk Asian Agri. Untuk mengejor setoran itu itulah dibuat rencana pengelolaan pajak perusahaan yang harus disetor ke negara. Justru melakukan sebaliknya, melakukan tax evasion alias penghindaran pajak.

Sejak 2000-Oktober 2006 pajak yang tak dibayar Asian Agri ke kas negara sekira Rp 1,1 triliun. Nilai itu merupakan pajak penghasilan (PPh) badan yang seharusnya dibayarkan Asian Agri, yaitu 30 persen dari total keuntungan perusahaan yang ternyata di transfer ke luar negeri senilai total Rp 3,6 triliun.

Dana manipulasi pajak itu dikirim ke sejumlah perusahaan milik Sukanto Tanoto di luar negeri: Singapura, Hong Kong, Mauritius, Makao dan British Virgin Islands. Setengah dari keuntungan Asian Agri itu diduga diperoleh lewat modus pembuatan biaya fiktif, sepeti pembuatan jalan, pembersihan rumput dan pembayaran jasa kontraktor. Cara ini untuk mengempiskan keuntungan di dalam negeri agar bebar pajak menyusut. Di Lingkungan internal Asian Agri, biaya ini beken disebut Biaya Jakarta, dirancang di Jakarat oleh sebut tim di kantor Pusat Asian Agri Jl Teluk Betung 31, Jakarta Pusat.

Caranya begini. Tim Jakarta mengirim daftar biaya yang harus dibayarkan tim Medan via email. Daftar disetor ke kantor Asian Agri di Medan, karena di gedung Uniplaza Jl MT Haryono, Medan, Sumut, gerak keuangan perusahaan sawit dikendalikan. Setiap perusahaan sawit di bawah payung Asian Agri Grup pasti punya rekening di kantor Medan. Dari rekening-rekening itu nantinya semua biaya operasional akan dialirkan ke kebun-kebun sawit.

Masalahnya, biaya yang dikirim Tim Jakarta ternyata fiktif: pengeluaran 11 unit perusahaan Asian Agri Group pada 1 November 2004. Total biaya dikeluarkan mencapai Rp 20,9 miliar. Duit segede itu ternyata tidak dibayarkan kepada kontraktor atau pemasok barang. Duit mengalir ke rekening pribadi Eddy Lukas di Bank Bumiputera. Untuk keperluan itu disiapkan 86 cek penarikan tunai senilai Rp 20,9 miliar. Penyetoran selalu dilakukan tunai agar tidak ketahuan.

Dua rekening atas nama Eddy Lukas yang diduga biasa dipakai menampung dana hasil pembuatan biaya fiktif:

Nama   : EDDY LUKAS dan HARYANTO WISASTRA (disingkat HAREL)

Bank     : Bank Permata Jakarta

No Rek : 701941179

DAN

Nama : EDDY LUKAS dan DJOKO S. OETOMO (disingkat ELDO)

Bank   : Bank Bumiputera Cabang Imam Bonjol, Jakarta

No Rek : 029-1000-132 (dollar), 029-1000-339 (rupiah)

Eddy, Haryanto dan Djoko Oetomo merupakan orang-orang kepercayaan Sukanto Tanoto. Rekening HAREL dipakai hingga 2003, lalu diganti dengan ELDO sejak 2004 hingga kini. Dari kedua rekening inilah duit mengalir ke kantong Sukanto Tanoto melalui perusahaan Sukanto Tanoto di luar negeri Goaled Ltd (Bank Banca Intesa, Hongkong).

Rekening itu kemungkinan besar pintu masuk aliran dana buat Sukanto Tanoto. Sebab First Island Trust Company Ltd, perusahaan milik Sukanto Tanoto meminta agar dividen Asian Agri disetorkan ke Goaled.

Perintah Treston tertuang dalam surat 4 Oktober 2004 yang meminta agar dividen interim Asian Agro Abadi Internationa untuk tahun buku 2004 sebesar Rp 24,5 juta ditransfer ke rekening atas nama Headcorp International Ltd di bank Banca Intesa, cabang Hongkong.

Perintah serupa dilayangkan Denis Sek Sum atas nama Fitco tertanggal 5 Januari 2006 meminta Vincentius A. Sutanto selaku petinggi Asian Agri Abadi International membayarkan dividen interim tahun buku 2006 menyetor ke bank Banca Intesa dengan alamat rekening Goaled Limited.

Menariknya, alamat Asian Agri Abadi International dan Fitco ternyata menempati lokasi yang sama: St James Court, Suite 308, St Denis Street, Port Louis, Republik Mauritius.

Trustee merupakan salah satu Gatekeeper. Paku Alam dalam buku Memahami Asset Recovery & Gatekeeper menyebut Trustee atau nominee (pengguna individu yang ditunjuk) adalah setiap individu yang ditunjuk untuk mengelola dan melakukan tindakan-tindakan tertentu atas nama pihak lain.

Paku Alam pada awal 2012 pernah diminta Amien Sunaryadi (eks Wakil Ketua KPK) melakukan penelitian memperkuat mekanisme pembalikan beban pembuktian alam kaitannya upaya pengembalian aset domestik di Indonesia. hasilnya Paku merancang anti-gatekeeper system. Ia merupakan mekanisme investigasi korporasi terbaru dengan menggabungkan pemeriksaan internal mendalam dan pelacakan aset yang terintegrasi untuk menyelidiki apakah suati perusahaan didirikan untuk tujuan pencucian uang.

Dalam kasus pencucian uang, individu ini umumnya mengelola aset seperti saham, rekening bank, perusahaan dan instrumen keuangan lainnya. Tujuan menggunakan trustee untuk menciptakan selubung bagi gatekeeper dan penerima manfaat (beneficiary) rekening illegal dengan menggunakan identitas fiktif yang terhubung ke rekening bersangkutan.

Gatekeeper

Mengutip Herliana Latief, Paku Alam menyebut regulasi Indonesia UU 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menegaskan bahwa struktur nominee dilarang oleh hukum Indonesia. Bila dilanggar berimplikasi perjanjian nominee itu dapat dimintakan pembatalannya kepada hakim. Namun, dalam keseharian praktek perjanjian nominee masih sering terjadi dalam bentuk berbeda, seperti format perjanjian hutang dan perjanjian gadai saham.

Ciri-ciri perjanjian nominee dengan format perjanjian lain umumnya terdapat klausul yang mengatur bahwa terdapat hutang yang tidak dikenakan bunga, pengembalian utang tidak diketahui secara spesifik, dan tidak diatur secara spesifik kapan pengakhiran hutan tersebut.

Laporan Financial Action Task Force (FATF) menyatakan dihampir semua yurisdiksi, keterlibatan beragam ahli hukum dan keuangan sebagai gatekeeper dalam skema pencucian uang tampaknya terus berlanjut hingga kini. Pengacara, notaris, akuntan, dan profesi lainnya melakukan sejumlah fungsi penting dalam membantu klien mereka mengatur dan mengelola urusan keuangan mereka.

Pertama, mereka memberikan saran kepada individu terkait bisnis mengenai investasi, pembentukan perusahaan, trusts dan pengaturan hukum lainnya, serta jasa optimalisasi pajak.

Kedua, tenaga profesional di bidang hukum mempersiapkan dan mendaftarkan dokumen yang diperlukan untuk pembentukan kendaraan perusahaan atau pengaturan hukum lainnya. Akhirnya, beberapa tenaga profesional ini mungkin terlibat langsung dalam melaksanakan jenis transaksi keuangan tertentu, misal menyimpan atau membayarkan dana untuk pembelian atau penjualan properti atau perusahaan atas nama klien mereka.

Pelaku kejahatan terorganisir atau pelaku kejahatan individual mencari gatekeeper. Unsur-unsur pelaku kejahatan ini biasanya mencari keahlian profesional untuk membentuk skema yang efektif akan mencari perolehan hasil kejahatan mereka. Gatekeeper juga dapat digunakan sebagai pengendali yang sah untuk kegiatan illegal dengan berfungsi sebagai perantara dalam berurusan dengan lembaga keunangan.

Gatekeeper, tentu saja bisa kita lihat dengan mudah. Satu petunjuk menarik, korporasi pengeruk sumberdaya alam yang memiliki gatekeeper, patut dicurigai melakukan praktek pencucian uang.

Saya teringat cerita Good Father Don Vito Corleone dari Sisilia.#