Kepergian Hanum di Tengah Asap Pekat Riau…

by Madeali


Foto Hanum Angriawati, di dinding rumahnya. Dia meninggal dunia karena gagal pernafasan. Foto: Made Ali

Oleh Made Ali, Mongabay Indonesia

Kota Pekanbaru, masih diselimuti asap tebal, Jumat (11/9/15), jarak pandang sekitar 100 meter. Begitu juga Komplek Perumahan di Bukit Barisan, Tenayan Raya, rumah Muklis, seorang wartawan  Riau. Dari dalam rumah itu, saya lihat foto anak perempuan tergantung di dinding. Rambut sebahu di kepang. Dia sedang memainkan piano. Di situ tertulis Siaran Bintang Kecil RRI.

Dialah Hanum Angriawati, siswi kelas VI SDN 171 Kulim, Pekanbaru. Namun, hanya foto yang bisa saya lihat. Hanum telah tiada. Dia meninggal dunia  kala asap tahunan Pekanbaru, begitu pekat. Gadis kecil ini dikebumikan Kamis (10/9/15).  “Dokter bilang anak saya gagal pernapasan. Tak ada embel-embel lain,” kata Muklis, ayah Hanum.

Muklis menceritakan, Hanum tidak memiliki penyakit sesak napas maupun asma. “Awalnya, gejala batuk ringan.” Karena terus batuk, Muklis memeriksa ke dokter tak jauh dari rumahnya.  Dokter memberi Hanum oksigen atau semacam pengasapan. “Setelah tujuh hari batuk lagi dan tidak bisa tidur.”

Jumat pagi, (4/9/15),  asap pekat, Muklis membawa anaknya bersepeda motor ke Rumah Sakit Arifin Ahmad. “Hanum sempat bilang, segar kali udara ini ayah. Padahal kabut asap pekat, mata saya sudah perih kena kabut,” kata Muklis.

Tiba di rumah sakit, Hanum ditangani dokter, diberi oksigen. Dari mulut Hanum keluar cairan berwarna hitam kekuningan. “Kayak karat.” “Dikasih injeksi alat bantu, pulih kembali, dia langsung dirawat picu jantung.”

Hampir seminggu Hanum dirawat intensif dengan oksigen pernapasan. Dia mulai lemas, napas satu-satu. “Hanum menyebut-menyebut huruf N depan, belakang P. Dia bilang mak saya tidak di dunia lagi.” Hanumpun berhenti bernapas. Total biaya ruangan RS intensif Rp 4-5 juta per malam, “Belum lagi obat-obatan.”

Di portal Riau Online, Dokter Spesialis Anak RSUD Arifin Ahmad Riri F Mahise mengatakan, Hanum meninggal karena radang selaput otak dan iritasi paru-paru. Hanum memiliki riwayat penyakit itu sejak dirujuk ke RSUD. “Ada indikasi TBC.” Dokter tak dapat pastikan sakit infeksi Hanum akibat asap. Dokter memvonis pasien gagal pernapasan lantaran timbunan lendir di paru sebelah kanan.

“Dia berbahasa Inggris sangat lancar, matematika oke,” kata Muklis. “Dia motivator saya berhenti merokok. Dia tak suka bapaknya merokok.”

Plt Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman (berbaju putih dekat pintu masuk) kala berkunjung ke rumah Muklis, ayah, Hanum, mengucapkan belasungkawa. Foto: Made Ali

Plt Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, tiba di rumah Muklis. Dia menyampaikan belasungkawa, setelah Muklis menceritakan soal Hanum.

“Saya mengimbau masyarakat berobat di rumah sakit terdekat seperti Puskesmas dan RSUD. Pelayanan utama kepada yang memiliki KTP Riau. Program kesehatan harus dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

Mengapa Riau belum tanggap darurat?“Kemarin rapat dengan BNPB kriteria tanggap darurat belum terpenuhi. Kecenderungan hujan turun ISPU berwarna kuning, ISPU naik turun. Kita sedang bikin modifikasi cuaca, supaya ISPU turun, itu yang kita kejar. Yang penting kita imbau, bukan hanya masalah pas asap, jangka panjang.”

Sehari sebelumnya, Koalisi Penyelamat Sumber Daya Alam Riau menyerukan penanganan asap kepada pemerintah. “Tidak ada tanda-tanda kabut asap berakhir di Riau,” kata Woro Supartinah, Koordinator Jikalahari. Dia mengatakan, merujuk Kehutanan, soal pengendalian pencemaran udara, bila ISPU 300 atau lebih, menteri dan gubernur segera menetapkan dan mengumumkan keadaan darurat. “Agar pusat bisa memadamkan api dengan cepat, Gubernur Riau segera naikkan status siaga menjadi tanggap darurat asap.”

ISPU Pekanbaru naik turun. Sepanjang 1-10 September, ISPU tidak Sehat, sangat tidak sehat sampai berbahaya.

Data Kementerian Kesehatan  menyebutkan, asap kebakaran hutan menimbulkan berbagai penyakit di beberapa daerah. Di Riau, hingga 4 September tercatat 10.133 orang terkena ISPA, 311 pneumonia, 415 asma, 689 iritasi mata dan 1.085 iritasi kulit.

Dari berita Mongabay, sebelum ini, Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes Achmad Yurianto mengatakan, asap, merupakan partikel debu abu sangat halus. Apabila konsentrasi tinggi dalam tubuh bisa muncul reaksi alergi. “Ada mekanisme tubuh menolak. Gejala muncul pertama kali benda asing itu masuk ke tubuh seperti orang influenza.”

Pada kelompok rentan seperti balita, atau manula menyebabkan daya tahan tubuh lemah hingga infeksi saluran pernafasan. Orang yang memang berpenyakit saluran seperti asma dan bronhitis akan makin parah,  gampang kambuh.

Selama asap belum bisa diatasi, dia menyarankan, kelompok rentan tidak keluar rumah. Manakala terpaksa harus keluar rumah, gunakan masker. Idealnya, masker F95, yang bisa mencegah partikel asap masuk tubuh.

Muklis, mengenang sang buah hati,  Hanum, yang meninggal dunia diawali batuk, lalu gagal pernapasan. Foto: Made Ali

Asap pekat masih menyelimuti Pekanbaru, Riau. Pada Jumat (11/9/15), kualitas udara masih tidak sehat. Foto: Made Ali