Made Ali

Aku. Buku. Perlawanan!

Month: Mei, 2016

Sampah Masyarakat

image

“Jangan lama jadi sampah masyarakat,” tulisan di atas papan bunga untuk ucapan salah satu wisuda Universitas Medan (Unimed) pada 19 Mei 2016.

Saya tertawa dan selalu belajar dari kebudayaan Batak yang terbiasa blak blakan.

Saya kira, sampah masyarakat sesungguhnya: koruptor, perusak lingkungan hidup dan hutan, pelanggar HAM, pengemplang pajak, narkoba, dan pelaku kriminal umum dan khusus lainnya.

Sampah masyarakat kini menguasai institusi publik yang dibayar dari uang pajak, dan mereka bergentayangan di dalam tubuh: polisi, kejaksaan, hakim, legislatif, ormas, keagamaan, dunia bisnis.

Mereka yang baru saja usai wisuda lantas menganggur, bukanlah sampah masyarakat. Mereka generasi penerus bangsa yang diabaikan oleh pemerintah lantaran sistem pendidikan yang berhaluan “mencipta budak kapitalis”.

Bukankah, selama didik dari SD hingga kuliah kita didik melawan kejahatan sampah masyarakat? Selain, tentunya mensejahterakan rakyat.

Pengangguran bukan sampah masyarakat!

Iklan

Dari Atas Langit: Hutan Ditebang

image

Foto dari atas pesawat. Satu lokasi kebun sawit di Riau

Saat hendak mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasih Riau pada 18 Mei 2016, saya memotret bentang alam dari atas langit Riau. Salah satu yang saya lihat: alat berat sedang melakukan land clearing alias menebang hutan dalam skala besar lebih dari satu hektar. Sisi kiri dan kanan hutan alam tersisa segera akan ditebang. Saya tak tahu persis lokasi dalam foto, sebab ponsel saya tanpa GPS.

Saya duga tim satgas pencegahan dan penanganan karhutla bentukan Plt Gubernur Riau tidak melihat land clearing tersebut, lantaran tak ada titik api di dalam areal yang sedang di land clearing.

Itu salah satu kelemahan tim satgas, tak bisa menjangkau perbaikan tata kelola lingkungan hidup dan kehutanan di Riau: memperluas ruang kelola rakyat dengan cara mengurangi atau mencabut izin korporasi HTI dan Sawit yang memonopoli hutan dan lahan dan dapat izin dengan cara korupsi, merampas hutan tanah rakyat, merusak hutan dan lingkungan hidup dan kejahatan lainnya.

Padahal sederhana saja, tak perlu menghamburkan uang rakyat untuk padamkan api saat karhutla terjadi, di tengah Riau dilanda hujan dan hotspot berkurang, segera perbaiki tata kelola lingkungan hidup dan kehutanan Riau.

Apalagi BMKG Riau kembali merilis kemarau panjang terjadi di Juni hingga Oktober 2016. #

%d blogger menyukai ini: