Korupsi! Korupsi! Korupsi!

by Madeali


BETUL JUGA, kata Bakir, sekarang zaman merdeka. Kalau masih dengan cara kolonial—menunggu kenaikan gaji melulu—awak takkan bisa kaya.

thumb_IMG_6290_1024

Penggalan kalimat itu termaktub dalam Korupsi karya Pramoedya Ananta Toer. Pada 1953—bermukim di Belanda selama enam tahun—Pram menulis kisah Korupsi  Pram menulis dengan bahasa mudah dimengerti, ringkas dan selalu mengajak kita berpikir keras, menebak akhir cerita.

Tokoh Bakir, seorang pegawai negeri. Kakeknya pegawai. Bapaknya pegawai. Dua puluh tahun Bakir jadi pegawai, dimulai sejak magang. Kian hari, kian berkurang harta benda dan umurnya.

Cerita Bakir tua, orang paling jujur di kantornya memimpin persetujuan pengadaan barang, dengan jabatan kepala bagian atau kepala kantor, tiba-tiba tak tahan dengan penderitaan hidupnya:

LEMARI AGUNG yang dahulu berisi menghiasi ruang depan sudah lima tahun ini hilang disita orang karena hutang tidak terbayar. Sepeda motor yang dahulu menjadi kebanggaanku, hasil simpanan selama sepuluh tahun, telah melayang. Perhiasan istriku, yang dahulu kerap kali dikagumi orang, sudah lama-lama berubah bentuk menjadi surat-surat pegadaian yang tidak berharga karena tidak tertebus.

Di samping itu, anak bertambah juga. Dan barangkali dalam sepuluh tahun mendatang tambah tiga atau empat anak. Dahulu cuma Bakri. Kini ada Bakar, Basir dan Basirah. Kadang-kadang aku malu pada diriku sendiri mengharapkan satu atau dua diantara mereka mati, agar kemiskinan ini ikut berkurang sedikit.

Dahulu aku punya rumah sendiri. Sekarang demikian pula, tapi bebera kamar, itupun yang terbaik dan terdepan letaknya, terpaksa disewakan. Kini digunakan sebagai warung oleh satu keluarga Tionghoa. Mula-mula memang sedap rasanya menerima beberapa ribu rupiah uang kunci. Setelah uang habis dimakan, yang tinggal hanya keributan yang tiada habis-habisnya. Cuma di malam hari kami dapat hidup tenang. Kami tinggal di bagian belakang, sebuah bilik, sebuah ruang tamu di mana anak-anak tidur di tikar di malam hari, sebuah dapur dan kamar mandi yang harus digunakan bersama-sama dengan keluarga Tionghoa di depan.

Kami ingin mendapat tempat tinggal aman. Kami butuh uang untuk mengusir warung di depan. Anak-anak sudah besar dan harus melanjutkan sekolahnya. Ah, dahulu sekolah adalah kebanggaan, kebesaran dan pangkal segala cita kemuliaan.

Betapa sempit rasa hidupku, kering kelabu, ialah waktu suatu kali anak-anakku berlari-larian mendapatkan aku dengan paras berseri-seri.

“Pak, pak, aku lulus! Bulan muka masukkan aku di SMA.”

itu beberapa bulan yang lalu. Lalu disusul lagi yang lain.

“Pak, pak. Aku juga lulus.”

“Anak-anakku tiada yang bodoh,” kataku menyambut kegirangannya.

“Bulan depan aku masuk SMP,” sambung anak kedua si Bakar.

Harta lainya yang tersisa, sepeda tua. Pernikelan dan catnya sudah lama kabur digantikan oleh karat menebal di sana-sini. Presis sepeda tua itu dengan karatnya yang kian lama kian menggerumiti besi dan bajanya.

Tiap hari sepeda tua yang berkerait-kerait bunyinya itu masuk pulang kerja di antara lalu lintas kota Jakarta yang bertambah riuh.

Malam datang. Berkali-kali aku bangkit, tapi akhirnya ku rebahkan juga tubuh tuaku di ranjang. Di samping, istriku tidur nyenyak, aku gelisah. Banyak di antara kawan-kawan yang mujur dalam penghidupannya terkenang olehku. Dan akhirnya terniatlah dalam hati, seperti sudah jamak di masa kini: Korupsi.

Berkali-kali kata itu bergetar dengan hebatnya baik di mulut maupun di hati: korupsi, korupsi, korupsi. Akhirnya, teguhlah niatku untuk mengerjakannya juga. Berdengung benda di kamar serasa merasa ikut mengigilkan kata yang itu itu juga: Korupsi! Korupsi!

Niat jahat Bakir  muncul. Rencana korupsi ia lakukan, meski batinnya memberontak.

Korupsi pertama yang Bakir lakukan, mencuri perlengkapan kantor; kertas, karbon dan pita, dua kardus kertas stensi, ia masukkan dalam tasnya mengambil sepeda tua melintasi lalu lintas Jakarta yang kian bertambah ramai, menuju Senen menjual barang-barang curian.

“Berapa tuan mau jual?” taoke itu tersenyum.

“Berapa taoke mau beli?”

Bakir menerima uang dua puluh rupiah dari taoke. Bakir membatin.

“Harga pasar bebas semua barang itu tidak kurang dari seratus. Ah, pantaslah taoke,-taoke ini cepat menjadi kaya, mendirikan rumah yang apik, mengisi perkakas yang luxe, kawin lagi dan memulai pekerjaan seperti itu juga dari mula. Seperti tawon yang mati sengsara kalau tidak bekerja.”

Dengan uang itu, bersama istrinya keesokan harinya, di sore hari Bakir membeli dasi. Dan ia membohongi istrinya dari mana asal uang itu.

Korupsi berikutnya, Bakir mengambil daftar perusahaan-perusahaan yang ada di lacinya. Deretan nama Tionghoa. Dan diantara nama Tionghoa yang dua ratus lima puluh itu hanya dua nama Indonesia. “Nah, ini yang aku cari dan kehendaki sekarang: Muria N.V., Presiden Direktur Thiaw Lie Ham, Jakarta Kota. Hmm, dialah yang mula-mula akan jadi sumber keuanganku.”

Bakir menerima duit lima ribu dari lima ribu rupiah dari lima puluh ribu rupiah—uang pangkal dari tauke—untuk sepuluh ribu order. Sisanya, ia terima saat tauke mengantar sisa uangnya ke rumah Bakir. “Jangan kuatir tuan. Semua dilindungi oleh kuitansi yang sah. Satu-satunya bukti hanya uang yang ada pada tuan.”

Pertengkaran Bakir dan Istrinya kian menjadi-jadi. Sejak ia membawa uang dua ribu rupiah pertengkaran awal mereka dimulai.

“Ah, aku cuma hendak memperingatkan saja.”

“Aku sudah mengerti, engkau menerima uang dari taoke..”

“Kalau aku terima uang sebagai tanda terima kasih, apa salahnya? Itu bukan pelanggaran dan juga bukan kejahatan.”

“Kalau kau pegawai kecil yang tidak punya kekuasaan, tidak akan dia beri kau uang. Semua orang tahu sifatnya taoke. Engkau dieli. Mungkin juga kau menjual dirimu padanya.”

Tindakan Bakir, seorang birokrat.  Birokrasi memiliki posisi strategis, menyangkut juga posisi politik. Menurut Artidjo Alkotsar dalam bukunya Korupsi Politik di Negara Modern, Birokrasi juga memiliki kekuasaan atas informasi yang menyangkut kepentingan orang banyak. Informasi berupa rencana, kebijakan dan program berkaitan dengan kepentingan publik ini dapat dijadikan objek komersialisasi jabatan kepada pengusaha, konglomerat atau investor asing. Dalam pembocoran awal atau penjualan informasi penting itu seseorang atau beberapa orang birokrat mendapat imbalan ekonomis, janji-janji promotif, atau imbalan lain yang saling menguntungkan secara transaksional.

Tindakan Bakir tidak hanya sampai di situ.”Rupa-rupanya sekali telah melangkahkan kaki di gelanggang korupsi, orang tak ada melihat jalan kembali.”

Bakir menampar istrinya, meninggalkan ketiga anaknya, dan menikahi gadis bernama Sutijah.

Korupsi membuatnya memperoleh semua kenikmatan: kehidupan baru, rumah mewah, bini baru, hingga perkumpulan perzinahan. Pakainnya bersih dari wol semua, kemeja buatan luar negeri, memakai jas dan dasi. Mobil Plymouth, tinggal di jalan raya yang tenang di deretan gedung-gedung setengah vila di selatan Bogor. Dan, tentu saja uang tetap ada: berhubungan dengan perusahaan-perusahaan asing.

Korupsi Si Bakir terbongkar. Ia ditangkap polisi, dan dijebloskan ke penjara.

Istrinya, Meriam dan ketiga anaknya menjenguk di Penjara.

“Untuk apa engkau datang ke mari? Hanya hendak memperlihatkan bahwa engkau yang benar?”

“Bukankah engkau suamiku?”

“Suamimu yang baik dahulu telah lama mati.”

“Siapa ada di sampingku ini?”

“Dia adalah koruptor yang menunggu putusan hakim.”

“Bagaimanapun juga engkau adalah suamiku. Biarlah aku dan anak-anakmu tak engaku ajak bersenang, tetapi di dalam duka ini engkau tetap suamiku. Engkau tetap ayah dari anak-anakmu.”

“Suamimu orang jujur dan aku koruptor. Anak-anakmu pun tiada berbapak koruptor yang namanya dikenal tiap orang karena siaran surat kabar.”

“Setidak-tidaknya engkau telah memberi contoh yang tepat pada anak-anakmu apa sesungguhnya yang tidak boleh diperbuat.”

“Mereka akan ingat selalu, karena telah menyaksikan kejatuhan ayahnya.”

Ayahnya! dan ayah itu adalah aku, Bakir. “Aku kaum dari golongan tua—kaum yang hidup tiada dengan kemudi—kau yang tidak berbuat apa-apa di dalam penjajahan selain menghamba pada si penjajah, menghamba pada kemewahan, dan merebut kemungkinan-kemungkinan kaum muda. Rupa-rupanya aku adalah sebagian dari golongan kaum tua yang berjiwa korup. Kebobrokan datangnya dari atas, dan bukan dari bawah. Mereka yang di atas yang punya kekuasaan, yang punya uang.”

DALAM KISAH INI, sepertinya Pram berharap selain pada istri Bakir Meriam. Meriam sudah mengingatkan Bakir agar tidak korupsi saat dia membawa uang dua ribu ke rumah hasil menjual barang curian milik kantor ke tauke. Pram berharap pada Sirad, anak kuliah yang sedang magang di kantor Bakir, dengan baju yang lusuh dan berprilaku jujur juga mengingatkan Bakir.

Sirad juga mengunjungi Bakir. Bakir membatin.”Kedatangan pemuda ini sekaligus melenyapkan kerisauanku. Ku peroleh ketengan pikiran, keyakinan dan kedamaian: aku dan golonganku adalah angkatan yang musti lenyap, dan tidak ada lagi faedahnya bertahan di balik benteng kepalsuan. Mereka yang benar, harus hidup terus. Mengapa tidak: mereka adalah anak-anakku, menantuku, cucuku. Mereka adalah segala-galanya bagi kelengkapan kecemerlangan hari dengan dan tanah airnya.”

“Kami adalah angkatan pengecut. Kami juga yang telah membiarkan penjajahan lebih lama bernafas. Dan bila mereka (kaum muda) tidak datang, kami pun masih tetap memanjangkan umur penjajahan.”

thumb_IMG_6291_1024

“Penjajahan” itu, menurut saya, mengutip definisi Artidjo Alkostar, adalah korupsi politik: korupsi memperluas kekuasaan dan atau mempergunakan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan lain, baik keuntungan politik, ekonomi, kenikmatan jabatan, seksual, dan lainnya. Korupsi politik pada dasarnya, korupsi kekuasaan. Perbuatan korup merupakan bagian dari sikap jahat dan perbuatan jahat itu bisa muncul di setiap komunitas suku, bangsa, agama, maupun negara.

“Penjajahan” lainnya, kejahatan korporat negara, yang oleh Kramer dan Michalowski dalam Teori Kriminologi: Konteks dan Konsekuensi, membedakan dengan dua tipe. Pertama, Kejahatan Korporat yang diinisiasi oleh negara, terjadi ketika korporasi, yang digunakan oleh negara, terlibat dalam penyimpangan organisasional atas perintah, atau atas persetujuan diam-diam dari pemerintah. Kedua, Kejahatan Korporat yang difasilitasi negara, terjadi ketika institusi atau lembaga regulasi pemerintah gagal mencegah aktifitas bisnis yang menyimpang, entah itu karena kolusi antara pebisnis dan pemerintahan atau karena mereka sama-sama mengejar tujuan sama, yang pencapaiannya akan terhambat oleh regulasi ketat.

Cerita itu, ditulis Pram, 63 tahun silam di Belanda. Dan, kini korupsi masih menggurita di tengah 71 tahun Indonesia Merdeka. Zaman merdeka, zaman korupsi politik dan kejahatan korporasi.

Pram menutup kisah korupsinya: Sirad si pemuda jujur dan pemberani, pergi meninggalkan Bakir. Bunyi sepatunya berderak dan bergema-gema. Tambah lama tambah jauh akhirnya hilang di dunia yang besar, di gelanggang perjuangan di mana ia dan angkatannya sedang menjawab tantangan hadi depan—buat dirinya, buat tanah airnya dan sejarahnya.