SOLASTALGIA

by Madeali


thumb_IMG_6363_1024Dan, saya masih mengalami solastalgia, di tengah Hari Bumi, Kamis 22 April 2016. Bumi, tempat saya bermastautin dirusak oleh pihak yang kuat bernama korporasi, cukong dan elit politik.

Riau dikuasasi korporasi dan Cukong: 595 korporasi Kehutanan, Perkebunan Kelapa Sawit dan Pertambangan. Kehutanan: 58 IUPHHK HTI, 3 IUHH HA, 5 IUPHHK RE,  2 IUHHK BK, 2 Pabrik Pulp dan Kertas. Kelapa sawit: perkebunan kelapa sawit 288, PKS 121 perusahaan, kebun terintegrasi PKS 104 perusahaan. Tambang: 12 izin tambang. Khusus sawit dan HTI menguasasi hampir 6 dari 8 juta hektar hutan dan lahan Riau. Semua korporasi itu merampas hutan adat, hutan masyarakat tempatan tempat mereka hidup jauh sebelum Indonesia merdeka. 

Elit politik disuap oleh cukong dan korporasi untuk memuluskan merampas hutan tanah  rakyat dan merusak hutan dan lingkungan hidup.

cropped-dsc01082.jpg

Saya bermastautin di Pekanbaru sejak 2004. Sejak tahun itu hingga kini, dua belas kabupaten dan kota telah saya singgahi: sekedar berlibur, jalan-jalan, maupun bertugas mendokumentasikan deforestasi-degradasi karena illegal logging, karhutla, perambahan kawasan hutan, penebangan hutan alam dan berinteraksi dengan rakyat yang hutan tanahnya dirampas oleh korporasi atas restu pemerintah. Dari kampung hingga ruang-ruang pengadilan saya menyaksikan: cerita penindasan korporasi-pemerintah atas makhluk ekologis—bukan saja menindas alam, juga menindas manusia dan alam sekitarnya.

Derita terparah yang saya alami, pada September-November 2015: 24 jam menghirup polusi asap pembakar hutan dan lahan gambut Riau. Kota Pekanbaru dikepung asap. Riau dikepung asap hebat. Asapnya juga berasal dari propinsi Sumatera Selatan dan Jambi.

Saya sakit dan menderita: terkena ISPA, tenggorokan sakit, lendir dahak keluar dari hidung dan tenggorokan, mata perih, kepala pusing, dan tiap hari terbiasa memaki-maki pemerintah dan perusahaan lantaran tak tahu hendak berbuat apa.

Istri saya juga sakit, dia sesak napas. Masker N95 jadi andalan bila bepergian: ke kantor, ke Mall cari udara buatan, dan menginap di hotel. Pengeluaran membengkak.

Yang bikin saya kian menderita: malam hari ketika hendak berhubungan intim dengan istri, selera hilang karena asap masuk ke dalam kamar. Kipas angin tak mampu menghilangkan asap. Menginap di hotel, malah mirip jadi orang sedang dirawat. Saya bukan sekedar sakit terkena ISPA, saya menderita: tiga bulan meracau.

Polusi asap kian pekat dan menyelimuti Riau terparah sejak Juni-November 2015. ISPU selalu berada di level “Berbahaya”, bahkan melebihi ambang batas ISPU.

Rakyat Riau marah besar, lantaran Plt Gubernur baru menetapkan status “Tanggap Darurat” pada 14 September 2015, itupun setelah Rakyat Riau  mendesak Presiden Jokowi dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui media sosial.

Sejak saat itu tujuh posko baru sibuk bekerja, meski dengan pelayanan kurang dan seadanya, korban terpapar asap hanya diberi masker bedah, vitamin, dan hanya tiga titik posko yang menyediakan oxycan dan oksigen portable.

Di tengah amarah rakyat, lima warga Riau meninggal akibat menghirup polusi kabut asap: tiga anak kecil dan dua orang dewasa.

Rakyat Riau berduka: Lebih dari 97.139 warga korban polusi kabut asap menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) 81.514 orang, pneumonia 1.305 orang, asma 3.744 orang, iritasi mata 4.677 orang, iritasi kulit 5.899 orang. Bandara tutup hampir dua bulan. Sekolah libur. Warga mengungsi.

Saya dan sekitar 6 juta Rakyat Riau terkena polusi kabut asap. Doa dan harapan satu-satunya: hujan.

Bukan saja Rakyat Riau. Indonesia mengalami polusi kabut asap pembakar hutan dan lahan gambut.

Catatan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dampak Karhutla per Oktober 2015: 24 orang meninggal dunia, lebih dari 600 ribu jiwa menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), kerugian ekonomi mencapai Rp 221 triliun.

Catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK): 2,61 juta hektar hutan dan lahan dibakar tersebar di seluruh propinsi (32 propinsi) kecuali DKI Jakarta dan Kepulauan Riau. Kabut asap mengepung sekitar 80 persen wilayah Indonesia dan menyebar hingga ke negeri jiran. Kebakaran terbesar terjadi di Propinsi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua. Belum lagi kerusakan tanah, hutan dan gambut. Kerugiannya tentu saja melebihi angka Rp 221 triliun.

Rakyat Indonesia mengalami semacam Solastalgia!

Saya menemukan kata itu saat sedang membaca buku Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia Dengan Alam karya Saras Dewi, di tengah polusi asap pada September 2015.

thumb_IMG_6360_1024

Glenn Albrecht menyebutnya Solastalgia. Ia paduan kata latin, Solacium (Ketentraman, kedamaian) dan akhiran Yunani algia (lara, duka). Maknanya, menggambarkan kondisi psikis seseorang yang kehilangan rasa tenteramnya di lingkungan yang di tempatinya. Akibat solastalgic, seseorang merasakan depresi mental gara-gara perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Ia merasa terasing dan tidak lagi nyaman hidup di lingkungannya yang selama ini di tempati. Solastalgia menyebabkan manusia modern merasakan keterputusasaan. Ia tak lagi memahami dirinya karena konteksnya dengan alam telah terputus. Kecemasan ini menyebabkan sres, gelisah, dan ketidakacuhan pada manusia lainnya. Solastalgia, menurut Saras Dewi, kondisi psikologi manusia karena disekuilibrium antara manusia dan alam.

Solastalgia ditemukan Albrecht  pada 2004. Glenn Albrecht bersama peneliti dari beberapa Universitas di Australia meriset di Upper Hunter Valley, New South Wales (NSW), Australia. Mereka menemukan perubahan kondisi lanskap atau bentang alam mempengaruhi kesehatan mental dan jasmani para penduduknya. Mulanya daerah itu dikenal areal hijau dengan bukit indah dan asri.

Namun, pada 1999, Upper Hunter dikembangkan menjadi kawasan pertambangan batu bara seluas 520 KM dan terus meluas, berubah menjadi gurun gersang areal pertambangan. “Hasil sejarah panjang ekploitasi lingkungan jelas terbukti lewat ekosistem yang kian tertekan, ditunjukkan dengan wilayah luas Upper Hunter Valley. Begitu banyak keragaman biota yang hilang, belum lagi kualitas air menurun. Ditambah erosi, salinitas, dan pendangkalan turut meningkat,” tulis Albrecht dkk dalam Environmental Change and Human Health In Upper Hunter Communities of NSW, Australia.

“Solastalgia, di sisi lain, terkait dengan melankoli atau rasa sakit yang dialami kala menyaksikan tempat yang dihuni mengalami perubahan atau rusak. Fenomena ini muncul layaknya sesuatu menyerang rasa keberanggotaan dirinya terhadap tempat tertentu (mengingat hal itu merupakan bagian dari identitasnya). Ia berwujud perasaaan tertekan atau sedih (secara psikologis) atas transformasi tersebut. Solastalgia bukan berarti melihat ke masa lalu yang indah, atau mencari tempat lain untuk dianggap “rumah”, rasa itu merupakan “pengalaman yang hidup” atas perubahan intens, terwujud dalam kehilangan arah dirongrong kekuatan menghancurkan potensi yang ada demi menghibur diri saat ini.”

Singkatnya, Solastalgia merupakan jenis dari “rindu atas huniannya”, saat ia masih berada di “rumah”.

Cerita yang sama,  saya rekam saat pertemuan masyarakat sipil dari Provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Jakarta hingga Bogor, di Jogjakarta pada 26-30 Juli 2016. Mereka memaparkan kondisi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup oleh korporasi sektor tambang, HTI, Sawit serta kehadiran korporasi telah merampas hutan alam, hutan adat dan ruang kelola rakyat yang selama ini mensejahterakan rakyat atas hutan. Bahkan, di Kalimantan Timur, belasan anak kecil meninggal di dalam lubang bekas galian tambang batubara.

Cerita dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua hingga Pulau Jawa: Korporasi merusak hunian makhluk ekologis demi penumpukan kapital atas izin pemerintah penyebab makhluk ekologis mengalami derita solastalgia.

Orang sakit dan menderita terkena Solastalgia, bisa sangat berbahaya, Jika pemerintah Indonesia tidak berpihak pada mereka. Seperti bait puisi:

Sekali berarti, sesudah itu mati (Chairil Anwar). Maka hanya ada satu kata: LAWAN! (Wiji Tukul).

Catatan gerakan rakyat bercerita, rakyat solastalgia punya cara sendiri untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan solastalgia: mulai dari gerakan non hukum, gerakan hukum, bahkan gerakan merdeka dari Indonesia.

Di tempat saya bermastautin dan menderita solastalgia, pernah ada sejarah: Riau Merdeka.*