Ekosida

by Madeali


icym

Husni di FB @Icym memotret kota Duri, Bengkalis, diselimuti polusi asap, pada 27/08/2016

Asap tipis muncul di areal Rawa Bening, Kota Pekanbaru, pada Minggu, 28 Agustus 2016, sekira pukul 08.00. Di dalam rumah, polusi asap “belum” masuk. Saya menghirup udara melalui hidung, sepertinya belum berbau asap.

14142071_10206658469731712_8252897258030065582_n

Saya duga, ini asap kiriman dari Duri, Kabupaten Bengkalis. Dua hari sebelumnya, Husni dari Himpunan Pencinta Alam menelepon saya dan mengabarkan kondisi kota Duri diselimuti polusi asap, langit berwarna kuning. Husni juga mengirim foto Duri dikepung asap di laman facebook @Icym.

Mengendarai sepeda motor bersama Komo, dari jalan Rawa Bening Ujung menuju Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK), sekira pukul 13.00 melintasi Jalan Sokarno Hatta-Kertama-Kaharuddin Nasution-Sudirman menuju Bandara, udara berasap tipis. Sinar Matahari tertutup asap tipis, agak pekat. Belum berbau memang, namun asapnya kelihatan dari jarak kurang dari 100 meter.

Data ISPU KLHK dan BLH Propinsi Riau pada pukul 07.00 menunjukkan: Pekanbaru, Kampar, Pelalawan, dan Siak “SEDANG”. Rokan Hilir “SEDANG” hingga “TAK SEHAT”. Bengkalis “TAK SEHAT”. Dumai “BERBAHAYA”.

Sore hari, sekitar pukul 15.00, ISPU mengalami perubahan: Pekanbaru dan Rokan Hilir “TAK SEHAT”. Kampar dan Siak “SEDANG”. Bengkalis “BERBAHAYA”. DUMAI “SANGAT TIDAK SEHAT”.

Saya cek BMKG terutama kualitas udara, dari pagi hingga Sore berada di level PM 130, artinya ISPU berada di level warna biru atau “SEDANG”. Maknanya, tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh kepada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.

Sejenak saya berpikir: Itu kalau manusia sedang sehat. Bagaimana jika manusia sedang kena flu, sakit tenggorokan, demam dan sesak asma dan mereka yang menderita penyakit ISPA? Dan, manusia tahun lalu terkena ISPA, lantas menghirup asap kembali, seperti saya dan istri saya?

Tiba di Bandara, petugas bilang: pesawat delay 20 menit. Alasannya?  di dalam pesawat pramugari meminta maaf karena alasan teknis operasional. Apa susahnya bilang karena asap?

thumb_IMG_20160828_151645_1024.jpg

Kota Pekanbaru diselimuti asap pada 28/08/2016, @Madeali

Pukul 14.46. Dari balik jendela pesawat, saya lihat asap selimuti bandara. Saat hendak take off  dan pesawat melaju naik ke atas langit, dari atas langit: kota Pekanbaru diselimuti dan diserang polusi asap. Asap menghilang di balik awal putih tebal.

thumb_IMG_20160828_151546_1024

Dan, Rakyat Riau kembali menderita terkena penyakit: ISPA.

Bayangan Ekosida, menghantui saya.

Ya, Ekosida, pemusnahan ekologis. Manusia dan lingkungan hidup “dibunuh” oleh korporasi dan pemerintah baik sengaja atau lalai.

Polusi kabut asap dari pembakaran hutan dan lahan oleh korporasi, cukong dan individu atas izin pemerintah maupun atas kelalaian pemerintah mengawasai dan memberantas kejahatan ekologis.

Ekosida, kejahatan modern yang sulit dilihat hanya dengan pendekatan bukti konvensional. Untuk membuktikannya, ia harus memadukan pendekatan ilmiah, salah satunya pendekatan teknologi.

Misal untuk tahu telah terjadi karhutla di satu daerah, cukup melihat satelit hotspot, biasanya, bila tingkat confidence di atas 70 persen, dipastikan itu kebakaran, namun untuk bukti valid, tetap harus cek lapangan.

14068168_10209187004425990_3428549329431192495_n

Untuk tahu kualitas udara, cukup melihat ISPU teknologi yang dimiliki pemerintah yang dibuat oleh KLHK dan BMKG. Bukti kualitas udara memburuk, kita bisa lihat sendiri dengan kasat mata saat diserang asap pekat.

Yang jelas kejahatan ekosida, kebanyakan tak tampak pada awalnya. Peter Singer dalam bukunya Satu Bumi, Etika Bagi Era Globalisasi, halaman 21, memberi ilsutrasi:

Jika seseorang memukul orang lain, jelas siapa yang telah melakukan apa. Sekarang masalah terkait antara lobang ozon dan perubahan iklim telah mengungkapkan sebuah cara aneh yang sangat baru untuk membunuh orang. Dengan menyemprotkan pengharum tubuh di kamarmu New York, kamu bisa, bila ia menggunakan semprotan aerosol ber CFCs, berkonstribusi terhadap kematian orang yang tinggal di Punta Arenas, Chili, sebagai akibat dari kanker kulit, yang terjadi di tahun-tahun setelahnya.

Saya mengilustrasikan: dengan membakar hutan dan lahan gambut di Riau, ia dapat membunuh orang secara langsung dan tidak langsung.

Kematian Prajurit Satu (Pratu) Wahyudi, anggota TNI dari kesatuan detasemen artileri petahanan udara rudal-004 Dumai, pada 23 Agustus 2016 saat bertugas memadamkan kebakaran lahan di Desa Pasir Putih, Kecamatan Bagan Sinembah, Rohil, menambah deretan kematian akibat polusi asap karhutla. Tahun 2015, lima warga meninggal akibat karhutla. Sisanya, “mati pelan-pelan” yaitu korban ISPA: 97.139 warga pekanbaru derita penyakit.

Itu baru kematian manusia. Bagaimana dengan makhluk hidup lainnya: fauna, flora, tanah, air dan kehidupan lainnya yang mati akibat polusi asap karhutla?

KP SHK menyebut, Ekosida, atau pemusnahan lingkungan hidup sebagai diskursus mutakhir, di Indonesia sudah terjadi dalam rentang waktu setengah abad lebih, walau tidak berawal dari penyebab semisal peperangan seperti halnya genosida (pemusnahan etnis/suku/bangsa). Ekosida di Indonesia berlangsung akibat produk politik (kebijakan) suatu negara atau pemerintahan.

Higgins mendefinisikan ekosida sebagai “kerusakan, kehancuran, atau hilangnya ekosistem suatu wilayah tertentu, baik dilakukan oleh manusia maupun penyebab lain, sedemikian rupa sehingga kenikmatan perdamaian penduduk di wilayah tersebut berkurang.”

Dia menjelaskan sebuah lingkaran setan di sekitar hubungan manusia dengan alam. Eksploitasi sumber daya alam secara intensif berakibat degradsasi atau hilangnya ekosistem –ekosida–, sama dengan berkurangnya sumber daya alam yang memicu konflik, bahkan konflik bersenjata. Pada gilirannya, perang juga akan mengakibatkan kerusakan lingkungan dalam skala besar.

Polly Higgins, perempuan aktivis dan pengacara dari London, mengajukan sebuah proposal hukum kepada PBB pada April 2011. Dalam proposal itu,  dia memasukkan pemusnahan lingkungan secara besar-besaran –disebut ekosida (ecocide)– sebagai kejahatan kelima terhadap perdamaian. Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) dibentuk tahun 2002 untuk mengadili kasus-kasus yang menyangkut empat kejahatan terhadap perdamaian: genosida, kejahatan perang, kejahatan agresi, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Bila Ekosida, belum masuk dalam hukum positif Indonesia, seperti kata Komnas Ham dalam kasus Lapindo, sulit bagi kita menyamakan ekosida dengan genosida.

Padahal jelas, enam warga Riau meninggal akibat polusi karhutla, dan kematian makhuk hidup lainnnya, adalah ekosida.

Sambil menunggu kematian berikutnya: korban ISPA, saya dan 97.139 warga lainnya, menunggu “kematian”.

Ekosida, kejahatan yang, “Jika seseorang memukul orang lain, jelas siapa yang telah melakukan apa.”

Lebih dari itu, seseorang bakar hutan gambut di tengah hutan, di musim kemarau panjang, lantas api membesar, angin membawa asapnya, melintasi lautan, naik ke lapisan ozon, dan terjadilah perubahan iklim. Dampaknya: masyarakat dunia menghirup polusi asap karhutla.

Pukul 17.00, pesawat mendara di Bandara Soetta Jakarta. Saya kembali hirup polusi asap Jakarta!***