Rumah Kertas, Untuk Apa dan Siapa?

by Madeali


Rumah KERTAS

Koleksi @Made Ali

Dua kali saya baca novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, di  akhir Juli dan di awal Agustus. Ia memikat, sulit ditebak, dan ini yang penting: tokoh-tokohnya menggambarkan seolah-olah itu saya. 

Saat di rumah,  saya sedang menunggu cucian kering dari mesin cuci di tengah malam, saat istri sedang terlelap tidur, penasaran dari halaman pertama, dan halaman berikutnya. Kantuk menghantam, saya tertidur, dan merampungkan membaca esok paginya.

Di kantor, pikiran saya terus dihinggapi penasaran.

Pagi hari di ruang Bandara Sultan Syarif Kasim, saya membacanya lagi dari awal: di dalam pesawat, di ruang tunggu Bandara Soetta, di dalam pesawat menuju Jojgajakarta, akhirnya rampung di satu sore  di hotel di tengah kota Jogjakarta.

Mengapa Carlos Brauer si kolektor dan kutu buku, tiba-tiba menghilang, lalu membeli sebidang tanah di La Paloma tanpa aliran listrik dan ledeng, dan membangun Rumah Kertas di tepi laut La Paloma, Uruguay. Untuk apa?

Tiga hal yang bikin buku ini menarik bagi saya.

Saya merasakan dan mengalami kecanduan membeli buku hingga istri saya merepet, kerap saya diam-diam membeli buku bertema perlawanan sosial politik, lingkungan hidup, hukum hingga agama. Bagaimana saya memperlakukan buku, juga tertera dalam novel setebal 76 halaman itu.

Tokoh Aku (penulis Dominguez) menuliskan hal-hal yang saya alami, barangkali juga anda yang kutu buku:

Aku kerap bertanya-tanya mengapa kusimpan buku-buku yang mungkin baru ada gunanya jauh di masa mendatang, judul-judul yang tak terkait dengan minatku pada umumnya, buku-buku yang pernah ku baca sekali dan tidak akan kubuka-buka lagi selama bertahun-tahun. Itupun kalau pernah!

…lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. Dengan buku kita terikat pada fakta kebutuhan dan pengabaian, seolah-olah mereka menjadi saksi bagi momen hidup kita yang takkan pernah terjumpai lagi. Namun, selama buku-buku masih ada, momen itu pun tetap menjadi bagian dari diri kita. Aku perthatikan banyak orang mencatat tanggal, bulan, dan tahun mereka baca sebuah buku; dan dengan itu sebenarnya tengah menyusun sebuah penanggalan rahasia!

Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung, ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi, namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya, sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.

Petualangan tokoh Aku yang hendak mengembalikan buku la linea de sombra kepada Carlos Brauer,  mengajak kita mengenal lebih dalam dunia buku, juga merenungkan kehidupan sosial yang berubah.

Kita yang mana satu, kolektor atau kutu buku?

Jorge Dinarli, pemilik toko buku lawas di Montevideo, menjelaskan, pertama kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisid-edisi langka, majalah Horacio Quiroga di Salto, edisi pertama buku-buku Borges sekaligus artiketl-artikelnya di majalah-majalah; buku-buku yang dicetak oleh Colombo, disunting oleh Guiraldes, atau yang jilidan apiknya diberi tandatangan oleh Bonet, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek yang indah, barang langka. Kedua, para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer itu, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya. Brauer lebih dari sekedar kolektor, ia pembelajar gaya lama, seperti Martel, Horacio Arredondo, Simon Lucuix.

RUMAHKERTAS2

Masih di Montevideo, Aku bertemu dengan Delgado.Delgado menceritakan kehidupannya: buku tidak seharusnya bercampur dengan kehidupan rumah tangga. Mereka akan cenderung lekas kotor. Membangun perpustkaan adalah mencipta kehidupan. Anda tambahkan terus buku-buku ke rak dan kelihatan banyak, tapi kalau boleh saya bilang, itu cuma ilusi. Kita ikuti tema-tema tertentu, dan sesudah suatu waktu, kita temukan bahwa kita sedang merumuskan dunia; atau bila anda suka, bahwa kita sedang menapak tilas jejak sebuah perjalanan, dan untungnya jejak-jejak itu masih bisa kita lestarikan.

Delgado menggambarkan dirinya, persis seperti saya: kendati harus saya akui bahwa pembacaan saya sendiri sangat terbatas. Saya perlu membaca semua catatan yang ada di sebuah buku, menjernihkan makna-makna tiap-tiap konsep, jadi sulit bagi saya untuk duduk membaca buku tanpa ditemani dua puluh buku lain di sampingnya, kadang hanya untuk menafsirkan satu bab saja secara utuh. Tapi tentu saja, justru kerepotan inilah yang memukau saya.

Tentang Brauer, Delgado mengenalnya sebagai kutu buku, yang punya koleksi lebih dari dua puluh ribu:yang menghabiskan bukan cuma empat jam tapi hampir sepanjang siang malam dengan buku. Dan bukunya penuh dengan coretan.

Delgado tidak suka mencoret buku. Ia bikin catatan di tempat lain, dan menyisipkannya ke halaman-halaman yang dirujuk sembari menghabiskan isi satu buku. Kalau sudah selesai, ia copot semuanya dan buang ke keranjang sampah. Ia mencatat apa saja yang menarik. Asosiasi. Indikasi agar ia membaca buku lain, dan renungan di sana-sini. Khas catatan seorang pembaca.

Satu ketika, Delgado memohon pada Brauer jangan merusak edisi-edisi berharga dengan tulisan ceker ayamnya. Brauer justru berkata: dengan menulis marjin-marjinnya dan dan menggarisbawahi kata-kata, kerap kali dengan warna berbeda-beda yang mengandung sandi tertentu, ia lebih menangkap makna. “Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.”

Kehidupan sosial yang berubah

Petualangan Aku akhirnya kembali ke Buenos Aires setelah lima belas tahun tinggal di London: kota itu lebih kemilau dan modern. Avenida Santa Fe telah menggantikan Corrientes sebagai pusat keramaian. Jalan-jalan itu dipenuhi toko-toko buku besar yang mentereng, pusat perbelanjaan raksasa yang menjual CD, audio, buku-buku, juga kafe-kafe besar, gedung bioskop dan teater, yang di pintunya berbaris para pengemis meminta-minta. Orang-orang kota berjalan dengan ponsel menempel di telinga dan menyetir mobil dengan gawai menggelantung di pundak, berbicara ke alat itu di kerumunan, si supermarket, bahkan saat sedang menyapu trotoar, seakan-akan wabah kelisanan telah mengambil alih hidup mereka.

Kenangan masa kecil Aku di sebuah dermaga berubah menjadi restoran-restoran, kafe-kafe, dan tempat nongkrong mewah dari sebuah dunia yang telah berubah sepenuhnya, dipajang tanpa sungkan-sungkan dan amit-amit mahalnya sampai aku merasa tercampak bak sebutir batu.

Menyusuri jalan-jalan saat Aku kecil hingga ia satu siang di kereta bawah tanah menjumpai seorang gadir cilik mendekap akordion yang ia sangka berasal dari provinsi Corrientes, Tucuman atau Misiones. Para gelandangan itu asal Kosovo yang menggelandang di Buenes Aires dalam bus dan kereta, anak-anak mengamen dengan akordion, ibu bapak mereka mengemis.

Hal-hal tak masuk akal tentang kematian karena buku:

Bu Dosen Blum Lennon ditabrak mobil saat sedang membaca Poems karya Emily Dickinson. Buku mengubah takdir hidup orang-orang: ada yang membaca kisah petualangan Sandokan, Bajak Laut dari Malaysia, dan memutuskan menjadi profesor sastra di universtias-universitas terpencil. Siddharta membuat puluhan ribu anak muda menggandrungi kebatinan, Hemingway membuat mereka mengandrungi olahraga. Dumas memperumit hidup ribuan wanita, yang sebagian diantaranya selamat dari bunuh diri gara-gara buku resep masakan.

Bluma termasuk korban buku-buku. Dan bukan korban satu-satunya: seorang profesor sepuh pengajar bahasa-bahasa kuno, Leonard Wood, lumpuh setelah lima jilid Encyclodaedia Britannica jatuh menimpa kepalanya dari rak perpustakaannya. Richard patah kaki waktu mencoba menjangkau Absalom, Absalom! karya William Faulkner yang ditaruh begitu saja menyempil di rak sampai ia terpelanting dari tangga.

Pertanyaan saya, hidup kutu buku Carlos Brauer berubah karena ‘buku mengubah takdir hidupnya’ atau karena Bluma? atau karena satu peristiwa?

Dan, Dominguez dengan lihai memperlihatkan kehidupan dunia pencinta buku dan cerita yang barangkali tak masuk akal: orang mati karena buku. Orang berubah karena buku. Namun, Brauer cerita lain, yang saya sendiri masih mencari jawabnya. Sebab,”Suatu siang kami melihatnya di jalan setapak, menenteng tas koper. Ia memandang balik ke pondok yang roboh, melambai ke kami, dan berjalan pergi di bawah terik matahari. Ia tak pernah kembali.” (hal 73).

Delgado setelah membaca dan mencatat hal menarik baginya hendak menuslikan renungannya: “seorang pembaca adalah pengelana dalam lanskap yang sudah jadi. Dan Lanskap itu tak berkesudahan. Pepohonan telah ditulis, begitu pula bebatuan, angin di dahan-dahan, nostalgia akan dahan-dahan itu, dan cinta yang bersemi di kerindangannya. Dan kebahagian terbesar buat saya adalah bisa membenamkan diri, sekian jam sehari, dalam waktu kemanusiaan ini. Seumur hidup tidaklah cukup untuk ini. Kalau boleh saya pinjam separuh kalimat Borges: perpustakaan adalah pintu memasuki waktu.”

Lanskap itu memang tidak berkesudahan. Saya masih penasaran: Brauer meninggal atau masih hidup?

Iklan