Zadig


Zadig

ZADIG jadi budak Setok di Mesir. Ia dibeli Setok setelah dihukum penguasa Mesir karena terbukti membunuh Kletofis–meski niatnya membunuh hendak menolong seorang perempuan bernama Missuf yang disiksa oleh Kletofis. Menurut hukum Mesir Zadig harus dihukum menjadi seorang budak. Dua ekor unta Zadig dijual, hasil penjualan masuk kas kota, seluruh emas Zadig mereka bagi-bagikan untuk seluruh penduduk kota. Zadig ditelanjangi di muka umum. 

Setok saudaragar arab membawa Zadig dengan kaki dirantai menuju ke gurun Arabia. Tiba di tujuan, Setok menagih lima ratus ons perak yang dipinjam oleh seorang Yahudi yang disaksikan dua orang. Namun, dua orang saksi itu meninggal. Si Yahudi bersikeras tidak mau mengembalikan uang Setok. Setok menceritakan pada Zadig.

“Di mana Tuan melakukan transaksi dengan si pelanggar hukum itu?” tanya Zadig.

“Di atas sebuah batu besar,” jawab Setok,”di dekat Gunung Horeb.”

“Bagaimana sifat Yahudi itu?” tanya Zadig lagi.

“Licik,”jawab Setok.

“Yang hamba ingin tahu adakah dia giat atau tidak, dan berhati-hati atau tidak.”

“Diantara semua penunggak hutang, dia adalah yang paling giat.”

“Baiklah, izinkan hamba membela Tuan di depan hakim.”

Zadig menyebut nama si Yahudi di pengadilan. Pada hakim ia berkata:

”O Telinga Keadilan, hamba datang, atas nama Tuan Hamba, untuk menagih hutang sebesar lima ratus ons perak yang si pengutang tidak mau bayar.”

“Kau punya saksi?” kata si hakim.

“Tidak, mereka berdua sudah mati, tapi masih ada sebongkah batu besar di mana perak itu dihitung, dan bila yang mulia berkenan, hamba mohon Yang Mulia sudi kiranya bila hamba mengutus orang untuk mengambil batu tersebut. Hamba harap batu itu bisa menjadi saksi. Hamba dan si Pengutang akan menunggu batu tersebut datang; Tuan hamba, Setok, akan membayar orang untuk mengambil batu itu.”

“Baiklah,” balas si Hakim, yang kemudian beralih menangani urusan-urusan lain.

Setelah beberapa lama, si Yahudi menoleh pada Zadig.

“Jadi,” katanya,”apakah batumu belum juga sampai?” Si Yahudi sambil tertawa kecil.

“Yang Mulia, ditunggu sampai besok pun mungkin batu itu belum akan sampai; tempat itu berjarak lebih dari enam mil dari sini, dan mungkin dibutuhkan lima belas orang untuk mengangkut batu itu.”

“Nah,”kata Zadig,”seperti hamba bilang, batu itu dapat dijadikan saksi, karena pria ini tahu di mana letaknya—dengan begitu, ia telah mengakui bahwa di sanalah perak itu dihitung.”

Si Yahudi kebingungan dan terpaksa mengakui semuanya. Hakim memutuskan si Yahudi akan dihukum dengan diikat di batu itu tanpa diberi makan dan minum bila tak membayar hutangnya. Si Yahudi memilih membayar lima ratus ons perak pada Setok.

Adakah Zadig di sekitar kita?

Cerita Zadig adalah karya Voltaire yang terbit pertama kali 270 tahun di Perancis berjudul Zadig, ou la Destinee: Histoire Orientale. Versi Indonesia berjudul Zadig diterbitkan oleh OAK pada 2015. Dan saya membacanya seharian penuh pada Oktober 2017 di Jakarta.

Dalam cerita ini ada sepotong nama Tidore dan Ternate. Dari mana Voltaire tahu nama-nama itu? Padahal lebih dari 270 tahun lalu. Sepenggal nama-nama itu tertera dalam penggalan,”si Pendeta tinggi menggunakan sisa hari itu untuk mandi, lalu ia meminum minuman yang terbuat dari kayu manis dari Sri Lanka dan rempah-rempah dari Tidore dan Ternate, dan menunggu kemunculan bintang Sheat.” Ia cerita seorang Almona, yang hendak menyelamatkan Zadig karena dianggap menghina kepercayaan.

Membaca Novel Voltaire dengan 21 petualangan anak muda bernama Zadig, membawa kita pada realita kehidupan yang penuh satire, emosi, jenaka, meski dongeng ala Voltaire.

Cerita 270 tahun itu “masih hidup” dan bahkan hadir di tengah-tengah kita karena ia bercerita tentang keadilan dan kasih sayang. Namun, untuk meraih keduanya Zadig melewati kesialan, derita, intrik politik bahkan rencana pembunuhan atas jiwanya atas perintah Raja Babilonia.

Cerita petualangan Zadig dimulai di Babilonia, di bawah kekuasaan Raja Moabdar, dengan kesialan pertama dalam hidupnya:

Zadig akan menikahi Semira gadis cantik, kaya dan diidamkan di seluruh Babilonia. Zadig mencintai Semira setulus hati. Semira amat mencintai Zadig. Tiba-tiba mereka di datangi orang-orang bersenjatakan pedang dan panah, anak buah Orkan, keponakan Menteri. Orkan marah pada Semira karena tidak memilihnya menjadi pasangan hidup. Penculik itu mengambil paksa Semira dari Zadig. Semira berteriak, dan Zadig bersama dua orang budaknya berhasil mengusir penculik. Semira berdarah dan tak sadarkan diri. “O Zadig, sebelumnya aku mencintaimu sebagai suamiku, tapi kini aku mencintaimu sebagai penyelamat hidup dan kehormatanku.”

Luka Zadig lebh parah saat perkelahian dengan penculik. Sebilah panah yang menancap di dekat matanya meninggalkan luka yang dalam. Mata Zadig berair setiap kali melihat Semira. Mata Zadig bengkak bernanah yang membuat wajahnya menakutkan. Semira merasa jijik pada Zadig. Zadig pergi berobat dan sembuh. Ketika dia mengetahui Zemira menikahi Orkan karena tidak suka dengan mata satu Zadig,”betapa kejamnya gadis bangsawan, kini aku harus menikahi seorang gadis dari kalangan warga biasa.”

Zadig akhirnya menikah dengan Azora, gadis paling bijak di desanya. Selama sebulan kehidupan mereka bahagia, namun Azora kurang baik budinya. Ujian cinta yang diberikan Zadig pada Azora yang berpura-pura mati, membuktikan Azora tidak mencitai Zadig.

Karena kebijakannya, Zadig diangkat menjadi Perdana Menteri Babilonia. Ia perdana menteri termuda di Babilonia. Semua pejabat istana marah.

Ia menegakkan hukum di seluruh Babilonia tanpa menonjolkan marwahnya sama sekali. Ia tidak melawan kehendak majelis negara, dan ia memperbolehkan setiap wazir berpendapat sebagaimana mestinya. Ketika mempertimbangkan sebuah urusan, ia memakai pertimbangan berdasar hukum dan bukan sekedar keinginan pribadinya. Ia percaya hukum ada untuk menolong warga, bukan mengancam mereka. Bakat utamanya menemukan kebenaran yang semua manusia coba sembunyikan.

Seorang saudagar mati di Hindia dan berwasiat akan mewariskan hartanya kepada dua orang anak laki-laki setelah adik perempuan mereka nikahkan, dan akan mewariskan tiga ribu keping emas pada anak laki-lakinya yang menyayanginya. Si Sulung membangun makan megah untuk ayahnya. Anak kedua menyisihkan sebagian dari warisannya untuk pernikahan adik perempuannya.

Kabar itu beredar di masyarakat Babilonia. “Jelas Si Sulunglah yang lebih menyayangi ayahnya, karena si anak kedua lebih menyayangi adiknya, si Sulung yang pantas mendapat tiga ribu keping emas.”

Untuk membuktikan siapa yang berhak, Zadig mengundang dua pemuda bersaudara itu satu persatu.

“Ayahmu masih hidup; ia sembuh dari penyakitnya dan akan kembali ke Babilonia,” kata Zadig pada Si Sulung.“Ya Tuhan,” balas Si Sulung,”tapi makam yang ku bangun untuknya sangat mahal harganya!”

Zadig kemudian mengatakan hal yang sama pada anak kedua. “Ya Tuhan, aku akan memberikan seluruh hartaku pada ayahku, tapi aku tidak akan meminta kembali apa yang telah kuberikan pada adik perempuanku.”

“Kau tidak perlu memberikan hartamu pada siapapun,” kata Zadig,”dan kau berhak atas tiga ribu keping emas peninggalan ayahmu: kaulah anak ayahmu yang paling menyayanginya.”

Itulah kebijakan seorang Zadig. Masalah lainnya ia selesaikan dengan cara ala Zadig di setiap petualangannya.

Ia tak lepas dilanda kesialan. Ia hendak dibunuh oleh Raja karena cemburu Baginda Ratu Astarte mencintai zadig, begitu juga dengan Zadig. Astarte adalah perempuan kesayangannya dan cintanya. Ia hendak dibunuh Raja. Ia melarikan diri ke Mesir. Sejak saat itu ia tak bertemu lagi dengan Astarte, perempuan yang ia cintai sepenuh hati.

Petualangan di Mesir, Basra berlanjut dengan kearifan dan kebijakan Zadig hingga ia diangkat jadi penasehat penguasa setempat dan saudagar karena mampu menyelesaikan persoalan sosial.

Dan, kesialan berikutnya terus berlanjut: didenda karena dikira melihat seekor anjing lewat; hampir disula karena grifon; hampir disiksa karena menulis sajak yang memuji Baginda Raja; hampir dibunuh karena baginda Ratu mempunyai pita rambut berwarna kuning dan menjadi budak karena seorang pria kejam memukuli kekasihnya,” kata Zadig saat di Mesir.

 

KARANGAN Voltaire mengajarkan kita bahwa untuk membuktikan keburukan butuh kebijakan, kearifan, kesabaran dan punya panduan. Zadig mempercayai kitab Zharatusta.

Membuktikan perbuatan buruk dan baik dengan cara Zadig, butuh—seperti kata Voltaire: kecendiakaan dan budi pekerti yang baik, belajar memperbaiki diri, meski kaya mengekang hawa nafsu, tak suka pamer, mengerti kekurangan orang lain, tak pernah menjadi ingin menjadi yang paling benar.

Zadig sosok mengherankan:  meski cerdas dan dan berwawasan, ia tak pernah menghina atau bahkan sekedar mengejek orang-orang yang melibatkan diri dalam cengkerama-cengkerama tak jelas, basi, dan kacau, dalam kalimat-kalimat lancang penuh fitnah, dalam kesimpuian-kesimpulan bodoh tak berdasar, dalam lelucon-lelucon murahan, dalam pengucapan kata-kata tak berguna yang orang sebut percakapan di Babilonia.

Cintalah yang membuat Zadig, barangkali, menjadi bijaksana. Cintanya pada Astarte, menjauhkannya pada hal-hal buruk. Bila kau dicintai oleh seorang wanita cantik,”kau akan selalu menemukan jalan keluar dari masalah-masalahmu,” kita Zarathusta. Kitab yang jadi pedoman Zadig.

Kitab Zarathusta mengajarkan Zadig, juga pengalaman Zadig selama bertualang:

“Kesempatan berbuat jahat datang seratus kali dalam sehari, tapi kesempatan berbuat baik hanya datang sekali setahun.”

“Orang yang tidak mampu menemukan salah dalam dirinya sendiri, biasanya tidak bernasib baik.”

“Orang bilang, kesedihan kita akan berkurang apabila kita tidak bersedih sendirian. Orang yang sama-sama bersedih akan saling menghibur, bagaikan dua belukar rapuh yang saling menopang untuk menghadapi kencangan badai.”

“Kita tidak bisa menilai sesuatu secara keseluruhan bila kita hanya mengerti bagian-bagian kecil dari sesuatu itu.”

Aku suka dialog Zadig dengan Malaikat Jesrad, ketika Zadig merasa kesialan adalah hidupnya.

“Apakah dunia ini benar-benar membutuhan kejahatan dan kesedihan? Dan kenapa kesedihan justru lebih sering mengampiri orang-orang baik?” tanya Zadig.

“Orang-orang jahat tidak pernah berbahagia: mereka diciptakan hanya untuk menguji orang-orang baik yang amat sedikir jumlahnya, dan tidak akan ada kebaikan yang lahir dari kejahatan.”

“Tapi, apa yang terjadi andai hanya ada kebaikan tanpa kejahatan di dunia ini?” tanya Zadig.

“Itu tidak mungkin—dunia ini akan menjadi lain apabila itu terjadi. Di dunia seperti itu, rantai peristiwa akan menjadi bagian dari sebuah tatanan yang bijaksana dan sempurna, dan itu hanya bisa ada di loka abadi tempat tinggal Tuhan, tidak bisa dicemari kejahatan. Ia telah menciptakan jutaan dunia yang sama sekali berbeda satu dari yang lain. Keberagaman itu adalah tanda dari kekuatanNya yang tak terbatas. Sebagaimana tidak ada dua helai daun sepenuhnya sama di muka bumi ini, tidak ada dunia yang sepenuhnya sama di alam semesta yang tiada terbatas ini, dan semua yang terjadi di atas duniamu yang hanyalah sebutir pasir dalam luasnya gurun semesta ini sudah ditentukan waktu dan tempatnya oleh Tuhan. Orang-orang berpikir bahwa nyonya rumah kita jatuh ke sungai karena kebetulan, dan bahwa tuan rumah kita terbakar karena kebetulan juga. Tapi tidak ada kebetulan di alam semesta: semua hal yang dialami manusia adalah ujian, hukuman, ganjaran atau pertanda. O Manusia fana! Jangan pernah lagi menentang Dia yang harus kau sembah!”

“Aku harus mengetahui nasib Astarte. Aku tidak peduli kesialan macam apa lagi yang akan menimpaku,” kata Zadig.

Dan pertemuannya denga Astarte sama sekali tidak terduga. Namun untuk bersatu dengan Astarte, Zadig harus melewati ujian bertarung dan menjawab teka-teki dari Magi Babilonia.

Aku mulai dua pertanyaan, yang juga ditanyakan oleh Kepala Magi Kerajaan Babilonia saat memberi  teka teki pada Zadig dan Itobad. Yang bisa menjawab teka-teki itu menjadi Raja Babilonia juga menjadi Istri Baginda Ratu Astarte yang cantik.

Teka-teki Pertama: Apakah hal yang paling panjang tapi juga paling pendek, paling cepat tapi juga paling lambat, paling terbagi tapi juga paling utuh menghampar, paling disia-siakan tapi juga paling dirindukan, yang tanpanya tidak ada yang bisa kita lakukan, yang membinasakan semua yang sepele tapi memberi hidup pada semua yang hebat?

Kedua: Apakah hal yang kita terima begitu saja tanpa kita syukuri, yang kita nikmati tanpa mengetahui bagaimana cara menikmatinya, yang kita bagikan meski kita tidak tahu dari mana asalnya, dan yang meninggalkan kita tanpa terasa?

Dua teka-teki itu, juga sesungguhnya gambaran kehidupan Zadig. Dua jawaban itu mempersatukan Zadig dan Astarte. Jawabannya ada pada jelang halaman terakhir petualangan Zadig.

 

CERITA Zadig karya Voltaire yang dicetak 270 tahun lalu di Perancis, terasa hidup dan relevan di dunia millenial saat ini. Ia pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Dan Voltaire, sama seperti kita, mengimpikan, seperti tertera di akhir kalimat: masa kekuasaan Zadig adalah masa paling indah di dunia, karena pemerintahannya di dasari keadilan dan kasih sayang.

Ya, Keadilan dan Kasih Sayang!

Yang hilang di dunia politik sekitar kita. Aku merenung di tengah beton beton kekuasaan; mahakarya politik. Oligarki beton-beton itu merasuk hingga ke daerah-daerah di Indonesia.

Di tengah instrik politik perebutan kekuasaan kita harus belajar pada Zadig. Yang hilang di tengah kehidupan ini: membuktikan baik dan buruk dengan kebijakan dan cinta.

Bagaimana seorang Voltaire menciptakan seorang Zadig? Aku tentu tak tahu jawabannya, apalagi cerita itu ia ciptakan 270 tahun lalu. Voltaire, barangkali, tak pernah membayangkan novelnya hadir dan hidup di tengah generasi milenial.

Andai saja, kasus si Yahudi terjadi di era milenial, saya membayangkan si Yahudi, akan membantah tuduhan Zadig. “Yang mulia, saya bisa menjawab letak sebuah batu besar di Gubung Horeb berdasarkan panduang google. Yang Mulia juga bisa mengeceknya.”

Karena tidak ada “dua alat bukti”, Yang Mulia pasti membebaskan si Yahudi.

Untuk seorang sahabat, adakah Zadig di sekitar kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s