Pak Tua Membaca Kisah Cinta


pak tua baca buku

Antonio Jose Bolivar Proano mencopot gigi palsunya, membungkusnya dengan sapu tangan. Sambil menyumpahi bule yang bertanggungjawab atas tragedi ini, menyumpahi pak Walikota, menyumpahi para pendulang emas, menyumpahi semua orang yang telah melacurkan perawan Amazonnya, ia menebas sebatang ranting tebal dengan parangnya. Bertongkatkan ranting itu ia berangkat menuju El Idilio, menuju gubuknya, menuju novel-novelnya yang membicarakan cinta dengan kata-kata yang demikian indah sampai kadang membuatnya lupa akan kebiadaban manusia.

Deskripsi di atas, kekesalan Antonio Jose Bolivar setelah bertarung melawan seekor harimau yang anaknya dibunuh oleh para pemburu. Ia bersedia melakukan tugas itu setelah Pak Walikota memaksanya ikut bersama rombongan mencari harimau yang membunuh penduduk El Idilio di tengah hutan Amazon. Ia sebenarnya tak mau ikut, lantaran Pak Walikota berkuasa di daerah itu, dan gubuknya juga bagian dari kekuasaan Pak Walikota, ia terpaksa ikut. Hanya dia yang tahu jejak harimau dan jago memburu.

Hutan-hutan Amazon ditebang oleh pendatang, dan hewannya diburu oleh pemburu dan ditambang oleh penambang. Di tengah hutan Amazon itu, masyarakat adat terpaksa merangsek masuk ke dalam hutan menjauh dari sungai. Hewan-hewan juga begitu. Namun, seekor harimau membalas dendam terhadap pembunuh anaknya.

Namun bagaimana pertempuran antara harimau dengan Antonio Jose Bolivar, padahal bukan dia yang membunuh harimau itu? Dan mengapa Antonio Jose Bolivar bisa sampai tinggal di El Idilio? Siapa sebenarnya Antonio Jose Bolivar yang “diangkat” menjadi suku shuar hutan Amazon?

Pak tua  di dalam gubuk di tengah hutan El ildilio. Gubuknya dekat dari sungai.

Ia tinggal di dalam gubuk bambu sepuluh meter persegi tempatnya mengatur perabotan yang amat sedikit: ranjang gantung dari goni, krat bir untuk penyangga kompor minyak, dan sebuah meja yang tak nyana tingginya. Gubuk itu ternaungi ata ilalang dan punya satu jendela menghadap sungai. Handuk koyak disampirkan dekat pintu, di sebelah sabun batangan yang ia ganti setahun dua kali. Di dinding yang satu, menghadap ranjang, tergantung sebuah foto yang digarap seniman pegunungan, menggambarkan pasangan muda.

Si Pak tua itu, Antonio Jose Bolivar Proano, tinggal di dalam gubuk yang dibangunnya sendiri. Di dalam gubuk itu, ia membaca sebuah kisa dalam buku. Meski hidup di dalam gubuk, pikirannya terbang jauh.

Pak tua sedikit tidur: lima jam semalam dan jam istirahat siang. Ia habiskan waktunya untuk membaca novel, merenungkan rahasia cinta, dan membayangkan tempat-tempat di mana kisah-kisah ini berlatar.

Sebuah novel yang ia baca dibuka dengan awal bagus: Paul menciumi gadis itu penuh nafsu sementara si pengayuh gondola, kaki tangan perbuatan nekat temannya itu, pura-pura menoleh ke lain arah, dan gondola yang dijajari bantal-bantal empuk itu pun meluncur gemulai sepanjang kanal-kanal venesia. Apa yang dibayangkan Pak tua itu?

Buku kecil setebal 133 halaman ini sayang bila anda tidak membacanya. Ia cerita seorang tua yang kesepian, meski membaca terbata-bata mencintai buku. Buku adalah kehidupan baginya, di tengah usianya yang tua di dalam sebuah gubuk reot.

Ia bukan hanya tentang Pak Tua membaca buku, juga cerita pak Tua yang pendatang itu karena keluar dari kampungnya karena satu peristiwa memalukan, berjuang menyelamatkan hutan alam Amazon.

Membaca kisah cinta di dalam gubuk reot, di tengah hutan, di pinggir sungai. Ia lupa akan kebiadaban manusia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s