Don Quixote


Don Quixote

Untuk melawan kegilaan, kita butuh cara-cara kegilaan jua untuk menghentikan kegilaan. Bagaimana mungkin?

Alonzo Quinjano membaca sebuah buku tebal di atas di ruang atas di rumah kecilnya pada musim semi. Ada juga buku tebal lainnya berserakan di kursi dan di atas lantai. Pikirannya dipenuhi gagasan-gagasan liar, seolah-olah dia hidup di mimpi dan angan-angan. 

Miguel De Cervantes pengarang buku setebal 124 halaman itu mendeskripsikan isi buku yang dibaca pria tua; berkisah tentang petualangan-petualangan luar biasa para kesatria pengembara. Kisah dalam buku-buku itu sangat panjang, penuh dengan kejadian-kejadian yang muskil dan mustahil, ihwal yang mengubah orang-orang menjadi gila dalam mimpi-mimpinya. Para kesatria pengembara ini datang ke dunia, menyerang para pencuri dan perompak, pembela kaum perempuan, menyelamatkan orang dari derita kesalahan.

Buku ini berdampak mengerikan; ia menghentikan pekerjaannya di ladang, tak melakukan apa-apa selain membaca. Parahnya, ia menjual ladangnya untuk membeli buku-buku yang besar dan berat.

Gagasan liar dan angan-angan itu mempengaruhi hidupnya. Ia hendak mewujudkannya cerita dalam buku itu, apalagi ia menganggap kejadian-kejadian dalam buku benar adanya.

Dan, pria tua itu, pria dari La Mancha menganggap dirinya kesatria pengembara. Ia mulai kudanya ia beri nama Rozinante. Dan, ia menyebut dirinya Don Quixote, dan menambahkan tempat kelahirannya de La Mancha yang artinya dari distrik Mancha.

Don Quixote de La Mancha memulai pengembaraannya sebagai seorang kesatria untuk membunuh raksasa dan kejahatan di muka bumi.

Dan petualangan-petualangan gila dan menggelikan terhampar dalam tujuh belas adegan dan drama. Dalam petualangannya ia ditemani Sancho.

Saya nukilkan satu cerita petualangannya bersama Sancho.

“Apa yang anda maksud dengan raksasa,” tanya Sancho Panza.

“Lihat di sana, dengan tangan-tangan yang panjang. Kadang-kadang makhluk-makhluk itu memiliki tangan bermil-mil panjangnya,”kata Don Quixote.

Sancho memperingatkan itu bukan raksasa. Don Quixote tak peduli dan mengaggap Sancho tak tahu apa apa soal petualangan.

“Angkat tanganmu! Bila kau punya seratus tangan, aku akan masih menyerangmu,”kata Don Quixote ia menyerbu raksasa itu, tombaknya menembus empat layar paling bawah, lantaran tersambar oleh layar yang berputar, ia terpelanting dengan keras ke tanah.

“Bukankah sudah aku peringatkan, benda benda ini adalah kincir angin dan bukan raksasa,”kata Sancho.”Diam, Sancho!”

Petualangan selanjutnya, adalah petualangan penuh kekonyolan, dan orang menganggap Don Quixote gila, dan namanya mulai menyebar di seantero spanyol.

Don Quixote berusia lima puluh tahun, tinggi dan kurus, dengan wajah bersahaja. Setiap petualangannya, ia abdikan untuk kekasih yang tak pernah ia sapa di desanya, dan ia beri nama Dulcinea.

Cinta. Pengembaraan kesatria menumpas kejahatan dan raksasa serta tukang sihir, sungguh cerita mulai. Namun dalam cerita ini, ia tentu tidak mulia.

Ia dianggap gila. Namun, ketika seorang pendeta hendak menyadarkannya dari khayalan kegilaan itu, siapa sesungguhnya yang gila?

Membaca buku klasik ini, membuat kita merenung tentang sebuah kegilaan: siapa sesungguhnya yang gila?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s