Rasa Gunung Dan Bukit Tapsel

by Madeali


me and wife copy

Tapsel, 22-26 Desember 2017.

Saya dan Yofika Pratiwi Saragih menunjungi Sidempuan. Fika hendak bersilaturahmi ke rumah abangnya Andri Faisal Saragih, juga dengan bibi dan saudaranya. Fika lahir di Sidempuan. Marga Nasution adalah keluarga besar Fika di Tapanuli Selatan. Kami menginap di rumah Andri. Andri menikah dengan Dini Harahap. Dikarunia dua orang anak: Fathir Khalfani dan Ayasa Chiara. Dua ponakan itu sangat sayang pada Fika.

Perjalanan singkat bermula.

manunggang jae

Malam itu hujan di Padang Sidempuan. Kami menunggu pesanan Ikan Holat di sebuah pondokan. Lebih dari 10 pondokan penuh berisi orang-orang yang sedang menyantap, selesai menyantap, dan sedang menunggu santapan. Dalam satu pondokan bisa diisi 10 orang.

holat

Ikat Holat tiba lebih dari setengah jam kemudian. Ikan Holat dihampar di atas meja. Saya pesan Ikan Mas Holat. Ikan Mas dipanggang, ditaruh di atas bumbu batang balakka dari Gunung Tua. Batang Balakka diserut jadi serbuk-serbuk, direbus dalam air panas ditambahi potongan bambu muda dan diberi perasan jeruk nipis. Lalu dihidang bersama sambal cabe merah dipadu dengan bawang merah. Rasanya, segar saat masuk ke tenggorokan. Kuahnya bening terasa pahit saat dimakan bersama bambu muda. Selain Ikan Mas, ikan gurami juga cocok dengan kuah Holat.

durian sidempuan 3

Di tengah hujan deras, menyantap ikan Holat hangat, terasa nikmat dan menghangatkan tubuh. Dinginnya hujan pun tak terasa. Jus Markisa teman yang asik, setelah menyantap Ikan Holat.

Esoknya. Dari Sidempuan, kami menyusuri jalan ke Sipirok. Sepanjang jalan, kiri-kanan bukit dan gunung, dan hijaunya hutan alam serta rintik hujan menghampar.

kopi sipirok

Di Pasar Sipirok. Kami berhenti di rumah warga pembuat kopi. Saat kami tiba dia baru saja selesai menyangrai kopi. Dari depan rumahnya, bau kopi terasa. Di belakang rumahnya, kami lihat tempat sangrai kopi, biji kopi dan kopi usai digiling. Ia milik Pardede. Saya menyebutnya kopi Pardede. Ia bilang ini kopi Robusta. Biji kopi berasal dari kebun petani sekitar rumahnya. Dia tunjukkan dalam karung kopi sangrai berbiji dan kopi giling. Kopi sangrai kelihatan hitam. Kopi giling agak kecoklatan. Pak Pardede bilang, makin lama kopi disimpan, aromanya dan rasanya makin nikmat. Ia menunjukkan pada saya cara membedakan kopi asli atau tidak; ia ambil kopi giling, ia bulatkan dalam plastik karung goni, dia gosok dan tekan-tekan. “Lihat, kopinya tak lengket di plastik goni.”

Bau kopinya harum. Berkali-kali tangan saya gosok dengan kopi. Saya menghirup baunya. Menenangkan. Saya beli dua kantong; satu sangrai, satu gilingan. Di dalam mobil, biji kopi saya makan, sambil membaui aromanya dari telapak tangan.

panggelong

Di jalan Raya Sipirok, kami singgah di satu kedai di plang bertuliskan ‘Panggelong’. Kata Si Ibu penjual, Panggelong terbuat dari beras ketan yang ditumbuk, lalu dihaluskan jadi tepung beras ketan. Tepung dibundarkan. Lalu dimasukkan dalam gula aren merah khas Sipirok. Ketan beras berbaur bersama gula merah, jadilah kemerahan. Rasanya? Enak sekali. Gulanya merahnya sedikitpun tak terasa pahit, ketannya lembut sekali. Satu porsi seharga sepuluh ribu rupiah. Dua kali kami mendatangi kedai Panggelong.

panggelong 2

Kami ke Desa Atur Mangan. Masih berburu kopi Sipirok. Kami menuruni bukit. Suara air menghantam kincir angin menderu, dari dalam pondokan kayu terdengar suara tumbukan menghantam sesuatu. Dari dalam pondokan, kayu lima kayu berbentuk penumbuk menumbuk biji kopi. Penumbuk itu digerakkan oleh kincir air, digerakkan oleh tenaga air. Setiap kali air melewati sela kincir, tumbukan pun berdentam; tuk. Tuk. Tuk. Di sampingnya, ada pemanggangan untuk sangrai kopi. Kopi sudah disangrai tersedia siap untuk ditumbuk. Kopi ini dicampur gula aren agar asamnya berkurang. Ini pabrik kopi tradisional milik Hutasuhut sejak 20 tahun lalu. Kopinya berasal dari petani desa Aturmangan. Ia kopi Robusta. Kopinya melintasi pulau-pulau di Indonesia, baru saja dikirim ke Makassar. Saya membeli kopi; sangrai dan bubuk.

Dari kejauhan ia bukan seperti pabrik kopi jika tak melihatnya langsung. Pondokannya 100 meter dari jalan raya Sipirok, di tengah sawah dan hutan berbukit.

tenun sipirok

Kami makan siang masih di Desa Aturmangan. Di rumah makan di atas bukit. Ramai sekali. Rumah makannya dari kayu dan bambu. Di sini menyediakan Ikan Sinyarnyar. Ikan Mas dipanggang. Disajikan dengan bumbu andaliman berwarna merah. Cocolan cabe merah dan bawang merah tersaji di samping ikan. Rasanya? Bumbu andaliman meresap saat dilidah. Lidah terasa kelu, dan enak.

sinyarnyar.jpg

Di Desa Silangge. Ia terkenal dengan desa tenun Sipirok. Kami singgah pada semua rumah yang menjual aneka motif Sipirok. Kain tenun hasil buatan warga Desa. Saya dan istri beli dua kain khas Sipirok. Ternyata dari sini adalah tenun  Sipirok dalam resepsi ernikahan Boby Nasution-Kahiyang Ayu (anak Presiden Jokowi). Si empunya tempat menunjukkan pada kami baju putih bermotif tenun Sipirok yang dipakai Boby-Kahiyang.

hotel.jpg

Kami istirahat di satu hotel dengan pemandangan alam pegunungan, Hotel Tor Torsibohi Nauli, Sipirok. Ia menyediakan tempat menginap dari rumah kayu. View hutan dan pegunungan dari atas bukit terlihat menyehatkan mata. Kita juga bisa naik kuda. Indahnya. Hotel ini lebih dari 10 tahun. Sekeliling bukit dan gunung bisa kita lihat saat mengelilingi hotel tersebut. Ada juga tempat leha-leha dan tempat anak-anak bermain. Tak jauh dari situ ada kuda sedang terikat pada sebatang pohon. Bau tainya juga terasa.

Malam itu, kami menginap di Pintu Padang, Batang Angkola.

durian sidempuan

Pintu Padang hujan. Buka pintu belakang rumah; pohon tinggi menjulang dan hutan dibatas bukit dan gunung terlihat menenangkan dan memanjakan mata. Air dari bukit dan gunung, langsung masuk ke penampungan bak mandi. Segarnya.

pesantren 2

Kendaraan melaju ke Panyabungan. Kiri-kanan jalan gunung dan bukit dan lebatnya hutan alam menemani perjalanan ditambah rintik hujan. Dari Panyabungan kami ke Mandailing Natal. Santri-santri berpeci, baju kurung dan bersarung terlihat saat melintas di Purba Baru. Rumah kecil pondokan lebih dari 100 rumah di kiri kanan jalan terlihat. Pesantren ini sudah berdiri 100 tahun. Jokowi hadir saat perayaan 100 tahun pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru. Kabarnya, alumninya bila dikumpul, bisa bikin satu kabupaten.

pesantren

Kami makan di satu restoran terkenal di Madina. Ia terletak di pinggiran sungai yang airnya mengalir dari pegunungan. Makan di pinggir sungai. Usai santap makan; waktunya kopi takar.

Kopinya khas Mandheling. Kopi di dalam takar (batok kelapa), lalu ditaburi gula aren dan ditaruh kayu manis yang ditanam di sekitar gunung dan bukit. Rasanya? Manis, pahit. Segar sekali di tenggorokan.

kopi takar.jpg

Mandailing Natal kopi cap Mandheling berasal yang ditanam oleh kolonial Belanda sejak 170an tahun lalu. Saya beli dua bungkus kopi bubuknya. Saya saya tak sempat mendatangi langsung perkebunannya, karena hari hujan lebat.

Hari terakhir di Sidempuan. Saya dan Istri makan ikan mas salai besar sekali. Kepala ikannya nikmat sekali. Telur ikan masnya enak sekali. Ia di rumah makan Ikan Porang.

ikan porang telur.jpg

Pulang ke Pekanbaru. Kami diberi oleh oleh jipang dan dodol dibungkus anyaman tikar khas Madina. Yang tak lupa, sejak hari pertama hingga hendak pulang ke Pekanbaru: duren jadi santapan pagi hingga malam.

Holat. Panggelong. Durian. Kopi Sipirok. Kopi Mandheling. Tenun Sipirok. Sambal Porang ikan mas. Ikan mas sinyarnyar.

Semua itu terasa nikmat karena sejuknya gunung, bukit dan hutan alam tersisa di Tapanuli Selatan.

Aku bersyukur.

Setelah 9 tahun, aku kembali menikmati keindahan bukit barisan yang berbaris-baris dan pegunungan mengelilingi dengan perpaduan hutan alam masih mendominasi gunung dan bukit. Sejuknya udara pegunungan menerpa kulit wajah. Hujan turun terus, kabut putih menyelimuti gunung dan bukit. Suara-suara air dari pegunungan menderas dari ketinggian mengaliri sawah, parit-parit buatan dan singgah di rumah-rumah penduduk.

Bayangkan, bila alam Tapsel Rusak? ***

Iklan