Par Le Feu: Pemantik Api Perlawan


 

“Aku tidak punya senapan, tapi aku masih punya tubuhku, hidupku, hidupku yang sia-sia ini: inilah senjataku.”

Buku dalam Kobaran Api
Buku Dalam Kobaran Api. @madealimenulis

Mohamed mengubah impiannya setelah ayahnya meninggal.

Dia tak akan lagi memprotes masalah pengangguran di depan kementerian keuangan. Beberapa lulusan yang sempat menganggur sudah memperoleh pekerjaan, tapi gelar bidang sejarahnya tak menarik siapapun. Dia bisa mengajar, tapi Kementerian Pendidikan tidak membuka lowongan. Dia dianggap “kelompok pengangguran” yang memprotes pemerintah. Dan itu, dianggap kegiatan politik, yang dilarang di negeri itu.

Satu ketika, dia bertemu teman sesama aktifisnya yang diterima bekerja di Balai Kota. Temannya sekantor dengan empat pegawai. Mereka diberi tugas arsip, tapi temannya tidak. Bahkan tidak digaji selama enam bulan. “Aku hidup dengan mengandalkan hutan. Kurasa mereka mempekerjakan lulusan universitas hanya untuk membungkam kita karena nyatanya tidak ada posisi pekerjaan benar-benar tersedia untuk kita.”

Untuk mengubur impiannya, Mohammed membakar ijazahnya. Dia menggantikan peran ayahnya mengurus tiga saudara lelaki, dua saudara perempuan. Dan, seorang ibu yang menderita diabetes, tapi belum sampai cacat.

Mohamed memutuskan: mengambil alih gerobak tua milik ayahnya. Bentuknya tidak karuan. Dia harus memperbaiki gerobaknya. Dari mana dia dapat uang? Ibunya sudah menjual semua perhiasan ketika sang ayah sakit, kini tak punya apa-apa lagi.

Mohamed mulai memasuki kehidupan baru, yang tidak mungkin tidak akan pernah dilakoninya.

Hendak ajukan kredit makro, ijazah sudah ia bakar. Dia ingat punya tiket ke mekah hasil menang undian di kampusnya. Dia jual tiket pada calo Jemaah haji dengan harga sepertiga dari harga asli, namun harus menyuap agen perjalanan untuk mengubah nama tertera dalam tiket. Sisa duitnyam dia pakai perbaiki gerobak dorong untuk menjual jeruk dan apel.

Dia datangi Bouchaib pemasok sayuran dan buah-buahan. Tetiba Bouchaib klaim ayah Mohamed berhutang sejumlah uang padanya, dan belum bayar dua tagihan. Dia tentu sulit memverifikasi kebenarannya. Ayahnya pernah bercerita, Bouchaib adalah orang kasar dan tidak jujur. Dia pasrah, mengikuti kehendak Bouchaib, karena hanya Bouchaiblah yang terima pembelian dengan cara kredit, ambil Tarik bunga 10-15 persen. Dia dapat dua peti jeruk, satu peti apel. Untuk keranjang stroberi, Baouchaib meminta tambahan persen. “Kau tahu, ayahmu sudah menjanjikan adikmu untukku,” kata Bouchaib yang ingin menikaihi adik Mohamed yang sedang persiapkan ujian masuk perguruan tinggi.

Hari pertama Mohammed mendorong gerobak tua berisi jus apel dan jeruk.

Dia mana harus berjualan? Beberapa pedagang berjualan berkeliling, ada pula dapat tempat strategis di dekat persimpangan atau lampu merah. Dia terus berjalan, sambal berteriak menjajakan jeruk dan apel, teriakannya ditelan klakson yang saling bersahutan. Dia berhenti di sebuah kios, sang pemilik menghampirinya,” apa kau gila? Aku sudah keluar uang dapat izin berdagang dan harus bayar pajak. Pergi sana!”

Hari pertama itu, dia berhasil menjual lebih dari separuh dagangannya. Dia pulang ke rumah, memberi obat untuk ibunya.

Malam hari, dia menaruh buku-buku sejarah, novel dan sebuah buku Moby Dick berbasah inggris—dia peroleh setelah menjadi juara pertama di kelas Bahasa Inggris di SM—di depan rumahnya.  Tiga bukunya berhasil terjual, Moby Dick tidak.

Pagi hari usai sarapan, dia mengeluarkan gerobak. Seorang polisi menghampirinya. Meminta surat izin berjualan. “Tidak ada asuransi. Bisa kau bayangkan? Kalau kau menabrak seorang anak kecil, siapa yang akan membayar pengobatannya? Kau sendiri?” kata Polisi.

“Sejak kapan harus ada asuransi untuk gerobak buah? Ini sesuatu yang baru.”

Polisi itu keluarkan sebuah catatan dan menulis sambil awasi Mohamed. Polisi itu ambil beberapa jeruk dan apel dengan kedua tangannya. Sambil menyuruh Mohamed pergi.

Hari kedua, dagangan Mohamed habis terjual semua, meski harus diusir sesama pedagang karena menjual di lokasi strategis.

Sebulan lebih Mohamed menjalani hari barunya. Hari-hari berikutnya naas baginya. Satu hari tetiba, dua polisi tak berseragam membantingnya ke tanah dan mengambil gerobaknya. “Di sita! Kau tidak punya hak berdagang secara illegal. Kau tidak punya izin kerja, tidak ada lisensi, tidak membayar pajak. Kau mencuri dari negara. Selesai sudah, gerobakmu harus disita.”

Hari berikutnya dia datangi polisi itu lagi. Dia dapat hinaan. “Aku tidak punya senapan, tapi aku masih punya tubuhku, hidupku, hidupku yang sia-sia ini: inilah senjataku.”

Mohamed datangi kantor Walikota, 17 Desember. Dia memaksa bertemu Walikota. Resepsionis menolak dan menghinanya. Resepsionis mendorong Mohamed hingga terjatuh.

Mohamed bangkit. Mengeluarkan bensin dalam tasnya, menuangkan ke tubuhnya. Dia nyalakan pemantik api: api membakar tubuh Mohamed dan berkobar.

Kematian Mohamed memantik api revolusi: kekuasaan digulingkan oleh demonstran.

Mohamed berjanji pada ibunya, kelak dia akan menjadi miliuner dan membawa ibunya mengunjungi piramida, meski Mohamed sudah mati sejak dia membakar ijazahnya.

***

Polisi memeras Mohamed. Polisi memukul dan membanting Mohamed. Polisi menegakkan hukum dengan cara-cara kekerasan, ancaman, intimidasi, memeras dan korupsi.

Resepsionis Walikota berbuat kasar pada Mohamed. Mengusir Mohamed hanya karena dia orang miskin. Orang miskin mustahil dapat bertemu Walikota.

Satu malam, sebelum gerobaknya dirampas polisi, Mohamed menonton siaran televisi.

Presiden sedang merayakan 30 tahun berkuasa di negeri ini. Tampil Bersama istrinya mengenakan busana megah. Kamera menyoroti mereka saat menuju istana: taman yang tertata rapi dan indah dihiasi pohon-pohon terawat sempurna dilengkapi semprotan air otomatis untuk halaman rumput. “Suamiku bekerja begitu keras sampai aku harus memaksanya mau beristirahat sebentar. Sukurlah negeri ini berjalan dengan baik. Rakyat sangat bersyukur. Mereka senantiasa menunjukkan dukungan terhadap kami karena mereka tahu ini adalah negara yang Makmur dan sedang bergerak menuju ke arah kemajuan.”

***

Novela di atas ditulis oleh Tahar Ben Jelloun berjudul Par Le Feu (Dalam Kobaran Api) terinspirasi dari peristiwa Mohammed Bouazizi, pria asal Tunisia yang pada 2010 membakar dirinya. Kematiannya menjadi pemantik api perlawanan yang menginspirasi Arab Spring di Timur Tengah. Dia menulis setahun paska kematian Bouazizi.

Gambaran Novela Ben Jelloun, menggambarkan penerapan kejamnya kekuaasaan, yang menurut saya tidak saja di negara otoriter, di negara demokratis sekalipun, prilaku oligarki yang terjadi di Indonesia belum beranjak seperti istilah George Junus Aditjondro Oligarki Berkaki Tiga: istana, tangsi (militer dan polisi) dan pengusaha. Mereka ini jika sudah bersatu untuk kepentingan merusak demokrasi, cara-cara otoriterpun mereka lakoni.

Lihat saja: September 2019 saat oligarki melemahkan KPK mahasiswa turun ke jalan memprotes. Mahasiswa juga menyuarakan yang diderita rakyat mulai dari karhutla, lapangan pekerjaan, diskriminasi, pelamggaran HAM dan jeritan rakyat miskin. Polisi membubarkan demonstran, tiga mahasiswa tewas. Ada yang ditembak, dan ada yang dipukul kepalanya. Ribuan mahasiwa luka-luka. polisi menangkap ratusan demonstran. Saat anak-anak STM ikut aksi solidaritas polisi juga melakukan kekerasan. Para politisi mendukung aksi polisi. Presiden yang sedang berkuasa juga demikian.

Di sektor lingkungan hidup dan sumberdaya alam, prilaku polisi juga sama: di sewa perusahaan untuk mengusir masyarakat adat, melakukan kekerasan bahkan menembak warga yang aksi di depan perusahaan. Mereka menerbitkan penghentian perkara pidana bila peruahaan jadi tersangka. Tapi ribuan warga terkena ISPA bahkan ada yang meninggal, polisi bungkam seribu Bahasa. Begitu juga rezim. Tidak pernah bertanggungjawab atas kematian dan ribuan warga terkena ISPA. Pengusaha? Terus diberi kemudahan investasi, bahkan Presiden bakal menggigit menggunakan Polisi bagi siapa saja yang mengganggu investasi perusahaan. Yang digigit? Siapa lagi kalua bukan rakyat miskin.

Saat suara-suara ketidakadilan disampaikan di depan penguasa–bermetamorfosis menjadi oligarki berkaki tiga—penguasa cenderung menggunakan cara-cara kekerasan, intimidasi dan menakut-nakuti untuk membungkam suara-suara itu. Prilaku penguasa seperti itu tak hanya terjadi di negara otoriter, di negara demokratis sekalipun juga terjadi.

Buku terjemahan setebal 67 halaman ini diterbitkan Circa. Selain berisi Novela, juga berisi perbincangan wartawan dengan Tahar Ben Jelloun. Dia bercerita bagaimana peran sastra hadir di tengah publik. “Sastra tidak akan tertarik dengan sebuh dunia yang semuanya berjalan baik-baik saja. Duka manusia adalah sumber insipirasi yang utama”. Tahar Ben Jelloun orang pertama yang menulis perihal penerapan demokrasi di Timur Tengah, tidak bisa instan.”Demokrasi bukanlah aspirin yang bisa anda larutkan dalam air lalu anda minum di pagi hari dan sorenya anda sudah mendapatkan demokrasi.”

“Ini bukan perkara beruntung atau tidak beruntung. Ini lebih pada persoalan ketidakadilan yang menjangkiti mereka yang, sialnya, terlahir miskin,” kegelisahan Mohamed, usai menguburkan ayahnya. Kini, Mohammed 30 tahun. Selama itu, dia tak pernah merayakan ulang tahunnya. Tahun berlalu, semua terasa sama saja: kemiskinan, rasa kehilangan dan sikap pasrah membuat kehidupan senantiasa menyertai hidupnya, seiring waktu tampak sebagai sesuatu yang natural.

Mohamed baru saja bangkit dari keterpurukan, saat jeruk dan apelnya laku keras meski tiap hari mendorong gerobok tua dan berjuang melawan pedagang, polisi dan tengkulak, polisi, birokrasi dan presiden merenggut nyawanya dengan cara yang tak lazim di negeri timur tengah: mengambil bensin, membakar dirinya di depan kantor Walikota.

Mohamed ala Tahar Ben Jelloun dan Mohammed Bouazizi, akan terjadi di manapun: “Aku tidak punya senapan, tapi aku masih punya tubuhku,  hidupku, hidupku yang sia-sia ini: inilah senjataku,” kata Mohamed.***

–Made Ali