Undangan untuk Sahabat dan Kolega

Pernikahan

Iklan

Hilang Penat di Pulau Pelangi

Keindahan Pulau Pelangi
Keindahan Pulau Pelangi

“Luar biasa pemandangannya bro. Terbayar penat kita bro,” kata Usman, Koordinator Fitra Riau, pada saya saat pertama kali menginjakkan kaki di dermaga Pulau Pelangi terbuat dari kayu, Kabupaten Kepulauan Seribu, sekitar dua jam perjalanan menggunakan kapal cepat (ferry) dari pelabuhan dermaga Pantai Mutiara, satu kawasan elite, Pluit, Jakarta. Lanjutkan membaca “Hilang Penat di Pulau Pelangi”

Foto: Penebangan Hutan Alam di Pulau Padang Oleh RAPP

Seorang anggota dari Serikat Tani Riau bernama Bambang Aswandi, memotret aktifitas enam alat berat PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) sedang menebang hutan alam di Desa Tanjung Padang, Kecamatan Putri Puyu, Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. “Ada sekitar enam alat berat melakukan aktifitas menebang kayu. Kayu tersebut ditumpuk di pinggir kanal panjang menuju ke laut,” ungkap Bambang Aswandi.

PT RAPP kembali beroperasi di Pulau Padang sejak April 2013, tepatnya sejak Menteri Kehutanan kembali memberi izin PT RAPP kembali beroperasi, meski bertentangan dengan hasil temuan tim mediasi yang dibentuk Menhut seperti dimuat dalam tulisan sebelumnya oleh mongabay.co.id. Salah satunya, belum selesainya pemetaan partisipatif. Lanjutkan membaca “Foto: Penebangan Hutan Alam di Pulau Padang Oleh RAPP”

Riau di atas Awan

Saya memotret satu sisi Bandara Sultan Syarif Kasim. Ia bersolek  menjadi bandara Internasional jelang PON 18 di Riau tahun 2012. Ikonnya: sawit.

DSC00341

 

PON yang sampai detik ini masih hangat jadi perbincangan masyarakat Riau karena Anggota DPRD, Kontraktor dan Gubernur Riau ditetapkan sebagai  tersangka oleh KPK. Khusus Gubernur Riau, ia tersangka korupsi PON juga korupsi kehutanan RKT Pelalawan dan Siak tahun 2004. Ironisnya, Ia belum ditahan KPK. Korupsi kehutanan, penyebab utama hutan Riau gundul. Lanjutkan membaca “Riau di atas Awan”

Boycott! Paper One APRIL

Boycot April

 

Konflik lahan antara PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan masyarakat adat Pandumaan Sipituhuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara (Sumut), menyebabkan 31 warga ditangkap, Senin(25/2/13). Dari 31 orang itu, 16 menjadi tersangka, 15 warga dibebaskan.

Mereka yang ditangkap ini antara lain, warga dari Desa Sipituhuta, Hanup Marbun (37), Leo Marbun(40), Onri Marbun (35), Jusman Sinambela (50), Jaman Lumban Batu (40), Roy Marbun (35), Fernando Lumbangaol (30), Filter Lumban Batu (45), Daud Marbun (35). Dari Desa Pandumaan Elister Lumbangaol (45) Janser Lumbangaol (35) Poster Pasaribu (32), Madilaham Lumbangaol (32) Tumpal Pandiangan (40).

Konflik ini memanas karena TPL mulai menanam kayu putih (eucalyptus) di wilayah Hutan Kemenyan di Dolok Ginjang, padahal sesuai kesepakatan proses tanam menanam dihentikan dahulu. Warga protes hingga terjadi bentrok dengan massa karyawan TPL.

Masalah ini dilatarbelakangi keberadaan TPL yang telah mendapatkan konsesi hingga 200.000 hektar. Padahal hutan kemenyan telah turun menurun, sejak 1800, menjadi tumpuan hidup warga.Berbagai upaya dilakukan masyarakat, mengadukan persoalan ini di daerah sampai pusat. Terakhir, bersama Pansus DPRD Kabupaten Humbang Hasundutan sudah pemetaan menentukan tapal batas.

Selengkapnya lihat : Mongabay Indonesia

Di tengah “hutan” Tesso Nilo

Foto diambil oleh @Lovina
Foto diambil oleh @Lovina

Saya berdiri membelakangi kondisi utama Taman Nasional Tesso Nilo di perbatasan Kuansing-Pelalawan. Batas tempat saya berdiri langsung sempadan dengan akasia milik PT RAPP di daerah koridor Baserah. Lokasi saya berdiri di Desa Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Serbuan parah perambah di dalam hutan tesso nilo untuk dominan tanaman sawit dan karet. Hutan tesso nilo dibakar, lantas lahannya untuk sawit dan karet.